Iklan Header 728 x 90 px

Iklan Banner 1 728 x 90 px

SP SHS Tolak PP Akuisisi oleh Pupuk Indonesia

PT shang Hyang

Ilustrasi Foto www.bumn.go.id

JAKARTA- Serikat Pegawai (SP) PT Sang Hyang Seri atau SHS (Persero) mengeluhkan wacana manajemen melakukan pengurangan karyawan dan penurunan gaji pada semua level karyawan. Wacana yang membuat ribuan karyawan SHS di seluruh Indonesia ini gelisah ini dinilai malah dapat menurunkan produktifitas atau semangat kerja para karyawan.

Ketua umum SP SHS Ahmad Yani mengatakan, sebenarnya wacana perampingan karyawan dan pemotongan gaji lebih disebabkan masuknya Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) menjadi pengelola dan pembina SHS seperti tertuang dalam SKU (Surat Kuasa) Kementerian BUMN. Jadi, kata Yani, kapasitas PIHC hanya sebatas itu. Tidak sampai menjadi anak usaha atau akuisisi SHS oleh PIHC.  Karena untuk mengakuisi harus melalui Peraturan Pemerintah (PP) yang ditandatangani oleh Presiden Indonesia.

“Di dalam SKU ditulis secara tegas tidak ada namanya pengurangan karyawan dan pemotongan gaji. Karena itu, kalau ditanya harapan soal PP itu, kami malah tidak berharap pemerintah mengeluarkan PP itu. Pasalnya, SHS yang dua tahun terakhir merugi sudah mendapat tugas dari pemerintah berupa program subsidi benih dengan omset senilai Rp 1,2 triliun. Belum lagi program sebagai satu-satunya perusahaan penyedia dan penyalur benih. Semua ini membuat optimism SHS akan kembali untung,” ujar Ahmad Yani, di ruang kerjanya gedung SHS, kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, pada Rabu (16/4).

Jadi, lanjut Yani, sebagai karyawan dirinya berharap pemerintah mengembalikan SHS biar mandiri. Apalagi beda visi dan misi PIHC dalam core bisnis dengan SHS. Di mana core bisnis SHS adalah benih komoditas, terutama padi. Sementara SHS adalah produksi dan distribusi pupuk. “Jadi SHS harus concern ke benih itu. Makanya, tidak pas kalau digabung apalagi diakuisi sama PIHC. Walaupun kami rugi dalam dua tahun terakhir, tapi kami selalu untung sebelum tahun 2011 itu. Justru Kementerian BUMN harus melakukan analisa dan evaluasi terhadap manajemen, termasuk jajaran pimpinan direksi. Kemudian analisa laporan keuangan dalam lima tahun terakhir, terbukti kami tidak pernah rugi sebelum tahun 2011 itu,” pinta Yani yang juga Kepala Biro SPI (satuan pengawas internal) SHS.

Pada 2014 ini, Yani optimis perusahaan akan kembali untung. Caranya mengatasi semua kendala yang sudah diinvetarisir dan memaksimalkan semua program sesuai RKAP (Rencana Kerja Anggaran Perusahaan) 2014. “Termasuk Kementerian BUMN harus mengupayakan bantuan dari PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA,red) untuk memberikan suntikan dana berupa pinjaman lunak kepada SHS. Karena SHS pun akan terus mengembangkan usaha, seperti bisnis komersil. Jadi tidak perlu lagi akuisisi,” pungkasnya.

Sekretaris Perusahaan SHS Sofa AM mengakui, saat ini perusahaannya memang sudah dibawah pengelolaan dan pembinaan PIHC. Tapi tidak termasuk secara dana atau keuangan perusahaan. Apalagi memberi pinjaman. “Masuknya PIHC lebih pada peran atau support untuk memb antu penyusunan program RKAP 2014, termasuk pembinaan. Tapi bukan maksudnya pengurangan karyawan dan pemotongan gaji itu. Karena PP untuk akuisisi belum keluar, tapi baru sebatas SKU,” pungkas Sofa AM terpisah di tempang yang sama. (ers)
 

Berita Terkait:



Komentar

Iklan Kotakan 1 350 x 250

Iklan Artikel Atas 350 x 250

Iklan Artikel Bawah 350 x 250

Iklan Banner 2 728 x 90 px