19 May 2013 Last updated 5 MONTHS ago
A+ R A-
You are here: HomeInfo GrafisSBY Tata Integritas Kader PD

SBY Tata Integritas Kader PD

A4

Hari Ini Anas Baru Dipanggil ke Cikeas

 

JAKARTA - Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan empat menteri asal Partai Demokrat mengadakan pertemuan di kediaman Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat, tadi malam. Hasil pertemuan terbatas selama hampir dua jam tersebut, SBY selaku ketua Majelis Tinggi memutuskan akan menata kembali Partai Demokrat.

 

Hanya, bentuk penataan kembali tersebut masih belum jelas ’’Sehubungan dengan itu (kon flik internal partai), beliau (SBY) sudah menemukan opsiopsi pada saat beliau salat Subuh di Mekkah dan di Madinah. Opsi-opsi itu adalah bagaimana untuk menata kembali partai dan bagaimana agar melakukan suatu manajemen organisasi konsolidasi untuk semua kader,’’ kata Menteri Koperasi dan UKM Syarif Hasan setelah pertemuan tadi malam sekitar pukul 22.30.

 

Selain Syarif, tiga menteri lain yang hadir adalah Menteri ESDM Jero Wacik, Menkum dan HAM Amir Syamsuddin dan Menpora Roy Suryo. Per temuan tidak dihadiri Ketua Umum sekaligus Wakil Ketua Majelis Tinggi Anas Urba ning rum. Menurut Syarif, dalam pertemuan tersebut, SBY juga memiliki rencana untuk memanggil semua anggota Majelis Tinggi, termasuk Anas, hari ini (8/2) di Puri Cikeas.

 

Soal penataan kembali Partai Demokrat, Syarif menekankan, penataan akan difokuskan pada penilaian atas integritas hingga etika politik kader. Dia mengatakan, arah politik Partai De mokrat harus bersih dan cerdas. ’’Kita menata kembali bagaimana integritas para kader, bagaimana agar etika politik PD itu dijalankan secara konsisten, politik demokrat itu kan bersih dan cerdas.

 

Pokoknya bersih,’’ ujarnya. Citra Partai Demokrat memang memburuk sejak mantan Bendahara Umumnya Na zaruddin terjerat kasus korupsi. Me nyusul Nazar, ada nama Ange lina Sondakh, Andi Mallarangeng, dan Hartati Murdaya. Belum juga usai, Ketum Partai Demokrat Anas Urbaningrum juga disebut-sebut terlibat kasus dugaan korupsi bersama Nazar.

 

Akibat itu, sejumlah petinggi Demokrat mengkaitkan Anas menjadi penyebab turunnya elektabilitas Demokrat hingga hanya mencapai 8,3 persen. Demokrat meradang dan meminta SBY bersikap, sehingga terjadilah pertemuan tertutup dan terkesan mendadak itu.

 

Sementara itu, langkah sejumlah politisi senior Partai De mokrat yang ingin mendongkel Anas Urbaningrum dari kurs i Ketua Umum, didukung bekas kolega Anas, M. Nazarudin. Be kas Bendahara Umum PD menegaskan, supaya partai berlambang bintang mercy itu lebih besar, memang harus segera mengganti ketua umumnya. “Kalau nanti soal yang ma na, ya itu DPC dan DPD mengetahui yang terbaik,” kata Nazarudin, kepada wartawan, usai menjalani pemeriksaan di Komisi Pemberan tasan Korupsi (KPK), Kamis (7/2).

 

Dia sebagai saksi untuk tersangka Andi Alfian Malla rangeng dalam kasus dugaan ko rupsi proyek pembangunan Pu sat Pendidikan Pelatihan S arana Olahraga Nasional, di Bukit Hambalang, Sentul, Bogor, Jawa Barat. Nazarudin enggan menjawab saat ditanya siapa calon yang pantas menggantikan Anas sebagai Ketum PD. Namun, bahasa tubuh Nazar mengisyaratkan setuju ketika ditanyakan apakah Sekretaris Jenderal PD Edhie Baskoro Yudhoyono pantas mengganti Anas. Ia terlihat mengangguk saat wartawan menyodorkan nama Ibas.

 

Tanpa memberikan jawaban, Nazar sambil tersenyum masuk ke mobil tahanan KPK yang sudah menunggunya. Seperti diketahui, desakan Anas mundur sebagai Ketum PD kembali mencuat. Setelah politisi PD Ruhut Sitom pul lantang menyuarakan, baru-baru ini para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II yang juga kader PD memberi isyarat Anas harus mundur.

 

Me reka adalah Syarif Hasan, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah yang juga politisi senior PD, serta Jero Wacik, Menteri Energi Sumber Daya Mineral, yang juga elit petinggi PD.

 

 

Belum Panggil Anas

Komisi Pemberantasan Korupsi belum ada agenda memanggil Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum, terkait kasus dugaan korupsi proyek pembangunan Pusat Pendidikan Pelatihan Sarana Olahraga Nasional, di Bukit Hambalang, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Jumat (8/2) besok.

 

Juru Bicara KPK Johan Budi menyatakan, tidak ada rencana pemanggilan Anas seperti yang ramai disebut-sebut. “Barusan saya cek, tidak ada panggilan untuk orang bernama Anas Urbaningrum,” kata Johan kepada wartawan, Kamis (7/2), di kantor KPK. Nama Anas kerap disebut-sebut mantan anak buahnya di PD, M. Nazarudin terlibat Hambalang. KPK sudah pernah memeriksa Anas dalam kapasitas sebagai saksi kasus Hambalang.

 

Dalam kasus ini KPK sudah menetapkan dua tersangka, yakni pejabat Kementerian Pemuda Olahraga Deddy Kusnidar dan Menteri Pemuda Olahraga Andi Alfian Mallarangeng. Kamis (7/2), KPK kembali memeriksa Nazarudin dalam kapasitas sebagai saksi kasus Hambalang untuk tersangka Andi Mallarangeng.

 

“Kalau sekarang diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Andi Alfian Mallarangeng,” ungkap Johan. Ia memaparkan, memang baru kali ini Nazarudin diperiksa KPK sebagai saksi untuk tersangka AAM. Johan menegaskan, setiap keterangan yang disampaikan akan divalidasi, apakah itu memang benar atau tidak.

 

Namun demikian, ia mengakui setiap keterangan yang diberikan tidak diabaikan oleh KPK. “Ta pi dijadikan bahan untuk kem ban g kan kasus Hambalang, dan harus ada validasi terhadap informasi yang disampaikan,” ungkapnya. Lebih jauh Johan menegaskan, kasus Hambalang belum berhenti.

 

Tegasnya, KPK terus mengusut kasus ini. “Tidak benar suara yang menyebut KPK melokalisir. Tunggu saja, proses masih berjalan,” katanya. Anas Sarungan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum tampak santai meski Ketua Dewan Pembina PD Susilo Bambang Yudhoyono menggelar pertemuan dengan sejumlah petinggi partai lainnya di Cikeas tadi malam. Di rumahnya sendiri, Anas melayani wawancara live sebuah stasiun televisi swasta.

 

Dengan mengenakan baju batik, Anas bersarung warna coklat, selaras dengan bajunya. Anas tampak rileks. Di rumah mantan Ketum PB HMI itu juga digelar pengajian. “Tapi ini pengajian rutin, setiap malam Jumat,” ujar Anas, mengawali wawancara. Anas menjawab sejumlah pertanyaan terkait kisruh internal di partai berlambang mercy itu. Terkait hasil survei sejumlah lembaga yang menemukan elektabilitas Demokrat terus merosot, Anas tidak menampik hal itu.

 

Hanya saja, kata Anas, mestinya soliditas dan kekompakan partai tidak terganggu oleh hasil survei. “Mestinya tak inferior dengan hasil survei, tak kesurupan dengan hasil survei,” ujar Anas. Mantan anggota KPU itu juga membeberkan optimismenya bahwa Demokrat akan bisa bangkit. Dia cerita, dalam sejumlah kunjungannya ke daerah, para pengurus Demokrat di daerah sangat optimis Demokrat masih bisa unjuk gigi di pemilu 2014 mendatang. (sam/boy/ken/jpnn)


Epaper