
Teddy Jusuf, Pendiri Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (1)
Nama Brigjen (Purn) Teddy Jusuf sudah tidak asing lagi bagi sebagian besar masyarakat Tionghoa di tanah air. Maklum, dia merupakan pendiri Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI).
SELAIN itu dia menjadi segelintir Tionghoa yang masuk Angkatan Darat (AD). Kini, pria bernama Tionghoa Him Tek Ji itu sudah pensiun dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal. ”Saya masuk militer tahun 1962 dalam usia 18 tahun. Tidak ada paksaan maupun dorongan dari orangtua kala itu. Itu murni kesadaran saya yang memang ingin berkarya lewat jalur kedinasan TNI,” ujar anak sulung dari delapan bersaudara itu. Dia mengungkapkan, keinginan bergabung dengan TNI AD sudah tertanam sejak berusia 10 tahun.
Saat itu, dia sering melihat anggota TNI AD berlatih di kawasan Jakarta Utara. Kebetulan, sekolahnya berdekatan dengan tempat latihan tersebut. ”Sering mengamati pelatihan TNI, saya pun bercita-cita untuk menjadi prajurit. Keinginan itu kesampaian,” katanya lantas tersenyum. Tentu bukan perkara mudah menjadi bagian TNI AD. Terlebih, untuk etnis Tionghoa seperti dirinya. Dia mengakui sempat mendapat perlakuan diskriminatif. Tetapi dia menganggapnya sebagai kerikil, sebagai tantangan yang harus ditaklukan.
Tekadnya, ikut membela negara apapun rintangan yang harus dihadapi. ”Bekalnya hanya tekad dan kesabaran. Saya kuatkan tekad saya untuk tetap di militer, meskipun banyak teman seangkatan dari etnis Tionghoa yang keluar di tengah jalan,” tuturnya. Selama di TNI AD, Teddy dikenal sebagai pemimpin yang berkarakter. Dia sempat memimpin para prajurit tingkat pleton, batalyon, dan korem sebelum akhirnya pensiun pada 1983 dengan pangkat Brigadir Jenderal. Kini, dia pun sudah tidak lagi menjabat ketua di PSMTI.
Namun, bukan berarti dia tidak lagi peduli. Dia tetap aktif di organisasi tersebut. Salah satu kegiatannya, mengawasi pembangunan Taman Budaya Tionghoa Indonesia (TBTI) di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur. Saat INDOPOS menemuinya di sana beberapa waktu lalu, dia tengah asyik mengawasi pekerja bangunan yang merampungkan pengerjaan beberapa rumah Marga yang dananya dari sumbangan masyarakat Tionghoa.
Mengenakan kemeja batik biru, Teddy semangat mengajak INDOPOS berkeliling TBTI sebelum akhirnya mengobrol di kursi keramik dibawah pohon bambu yang rindang. ”Ini juga salah satu bentuk bakti saya sebagai WNI dari etnis Tionghoa. Saya bersama dengan tokoh Tionghoa lain yang sevisi ingin menjadikan TBTI ini sebagai monumen identitas keberadaan Tionghoa di Indonesia,” pungkasnya. (sic/bersambung)
| < Prev | Next > |
|---|