19 May 2013 Last updated 5 MONTHS ago
A+ R A-
You are here: HomeBerita UtamaBanner Berita UtamaBelajar Bikin Fiber dari Youtube, Kini Omzet Miliaran

Belajar Bikin Fiber dari Youtube, Kini Omzet Miliaran

G1

Mereka yang Hebat di Acara Wirausaha Mandiri Expo di JCC (2)

 

PT Bank Mandiri (Persero) benar-benar menemukan dan mengapresiasi para wirausahawan muda yang hebat. Mereka tak hanya mandiri, tapi juga memberi pekerjaan kepada orang lain. Salah satunya Andika Kairuliawan, salah satu pemenang lomba Wirausaha Muda Mandiri (WMM).

 

DANI TRI WAHYUDI, Jakarta

Seorang pria muda berambut cepak berdiri di depan stand berukuran mini bernama Balu Oto Work. Stan tersebut tepat berada di pintu utama Assembly Hall, Jakarta Convention Center (JCC), tempat berlangsungnya Wirausaha Mandiri Expo.

 

Di depan stan itu terdapat sebuah motor Yamaha Byson putih full modifikasi. Seluruh body sudah tidak standar. Mulai penutup lampu depan (head lamp) hingga penutup bodi utama seluruhnya diganti dengan hasil modifikasi. Begitu pula bagian lain seperti rangka food step belakang, dipasang tambahan aksesoris membuat penampilan si Byson tambah garang.

 

Pria berambut cepak itu tak lain adalah pemilik sekaligus bos puluhan karyawan bengkel modifikasi Balu Oto Work. Dia baru mendapat hadiah uang tunai Rp 50 juta di bidang Wirausaha Kreatif Mandiri tingkat Nasional kategori Alumni dan Mahasiswa Pascasarjana. Hadiah piala dan uang tunai diberikan secara simbolis oleh Wakil Presiden Boediono, disaksikan Direktur Utama Bank Mandiri Zulkifli Zaini.

 

Dia berhasil menyisihkan ratusan peserta dalam Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) Bank Mandiri bernama Wirausaha Muda Mandiri (WMM). Hadiah diberikan saat expo bertema Wirausaha Muda Mandiri (WMM) dan Mandiri Young Technopreneur (MYT) di JCC, sejak Kamis–Minggu, 17-20 Januari lalu.

 

’’Balu itu nama untuk motor Byson saya,’’ ungkap Andika. Nama Balu itu juga dijadikan nama samaran Andika di media forum komunitas online bernama Kaskus. Dari hobi memodifikasi motor dan bermain online di internet itu mengantarkan kesuksesannya. Kini kata Balu menjadi nama bengkel (workshop) bernama lengkap Bolu Oto Work di Jalan Pramuka, No. 53, Kelurahan Giwangan, Kecamatan Umbulharjo, Daerah Istimewa Jogjakarta.

 

Workshop itu penghasil beragam body modifikasi berbagai jenis motor. Produk body modifikasi dari fiberglass-nya digandrungi para modifikator di tanah air hingga mancanegara.

 

Dia lahir di Jogjakarta 27 September 1988 dari keluarga sederhana. Ayahnya, Kuntoro,62, mantan sopir bus pariwisata. Ayahnya itu menjadi korban PHK karena perusahaan tempatnya bekerja bangkrut pasca rentetan peristiwa bom Bali.

 

Ibunya, Listiati, seorang ibu rumah tangga. Anak kedua dari dua bersaudara itu mengatakan, saat kuliah S1 dia membantu orang tua bekerja di toko onderdil dan variasi sepeda motor. Sejak kecil Andika memang penyuka modifikasi sepeda motor.

 

Penghasilannya itu juga sebagai biaya kuliah. Sesekali dia ditugasi bosnya ke Jakarta untuk mencari head lamp modifikasi motor Yamaha Byson karena begitu banyak permintaan di Jogjakarta. Namun betapa kecewanya para pelanggan. Karena barang modif yang didatangkan dari ibukota itu banyak yang tidak pas ketika dipasang.

 

Itu karena posisi lubang baut dengan dudukan di bodi motor yang tidak presisi. Dari sinilah Andika tertantang untuk menjawab keluhan dari pelanggan.

 

Dia mulai belajar membuat head lamp sendiri dari bahan fiber glass. ’’Saya belajarnya dari Youtube di internet, terus bereksperimen selama 1,5 bulan. Saya hanya menggunakan cetakan dari tanah liat,’’ ucap mahasiswa program pascasarjana sekaligus dosen teknik informatika untuk S1 di Universitas Teknologi Jogjakarta itu.

 

Dia juga membeli kompresor bekas seharga Rp 800 ribu untuk keperluan pengecatan.

 

Alhasil, sederet prototipe head lamp dengan desain yang unik-unik dilahirkannya. Mulai bentuk tengkorak, kepala predator, kepala karakter Transformers dan sebagianya. Karya perdananya itu di-upload ke jejaring sosial. Ternyata sambutan dari para biker luar biasa. Mereka langsung pada pesan.

 

’’Awal April 2011 saya memutuskan membuka usaha sendiri yaitu jasa painting dan finishing dengan satu karyawan. Tempatnya di garasi rumah kakek,’’ ungkapnya. Awalnya hanya bermain pada onderdil modifikasi Yamaha Bison mulai head lamp, body kit, full body, customized. ’’Kami memang spesialis Byson.

 

Tapi sekarang untuk semua motor barangnya ada,’’ paparnya.

 

Usahanya berkembang terus. Andika kewalahan memenuhi permintaan pesanan yang keseluruhan dari internet. Di satu sisi, Andika iseng-iseng mengikuti lomba ajang modifikasi yang diadakan Kemenpora.

 

Ternyata dia mampu tampil menjadi juara I tingkat nasional.

 

’’Hadiah uang tuani Rp 50 juta juga. Uangnya saya buat modal menyewa tempat di Jalan Pramuka No 56 Juangan, yang strategis di tengah Kota Jogja di pinggir jalan,’’ urainya.

 

Garasi milik sang kakek rupanya sudah tidak mampu menampung usahanya yang berkembang dengan 8 karyawan itu. Di tempat baru, Andika merekrut karyawan hingga 28 orang. Karya Andika rupanya benar-benar memikat para biker modifikator motor. Pesanan tidak hanya datang dari biker Indonesia, tetapi merambah dari mancanegara.

 

Para pemesan bukan lagi dari end user tetapi sudah sekelas dealer, distributor, atau reseller. Pesanan bukan lagi dalam hitungan jari tetapi sudah partai besar. Pesanan tetap selalu datang dari enam dealer di enam kota di Indonesia, Bogor, Bekasi, Palembang, Palangkaraya, Lombok, dan Manado.

 

Sementara costumer dari luar negeri banyak yang menjadi reseller-nya. Pemesan jumlah besar datang dari Singapura dan Malaysia. ’’Mereka ini toko aksesoris motor. Mereka asalnya hanya costumer kami lalu berkembang menjadi hubungan bisnis,’’ ungkapnya. Sementara reseller luar negeri juga dari Timor Leste, Thailand, India, Kolombia, Venezuela, Argentina, dan Meksiko.

 

’’Kalau pesanan dari dealer-dealer sampai satu muatan mobil pick up. Kami bahkan belum mampu memenuhi permintaan pasar dari Jogja sendiri. Sampai sekarang, kami belum sempat memasang papan nama di depan workshop kami,’’ ucapnya.

 

Kendati tanpa papan nama, ada saja orang yang mendatangi workshopnya. Orang yang datang itu tahunya juga dari internet. ’’Costumer di Jogja pun awalnya tahu dari online,’’ ujarnya.

 

Kendati produk laris manis, Andika juga masih berhitung risiko dalam berproduksi. Dia tidak asal main produksi massal lalu dilempar ke pasaran. ’’Saya sistemnya membuat prototipe terus dilempar ke pelanggan dengan cara upload di internet. Itu cara untuk memperkecil risiko penjualan,’’ paparnya.

 

Bahkan di workshopnya dia tidak benar-benar menyediakan stok jadi. Di workshop sekaligus tokonya dipajang stok barang berbagai model namun belum dicat. ”Karena banyak varian warna. Maka sekalipun orang datang langsung ke workshop harus menunggu dua hari untuk pengecatan dulu. Setelah jadi baru kita SMS,’’ tandasnya.

 

Dari modal Rp 800 ribu itu dia mencapai omzet penjualan miliaran rupiah. Tahun 2012 saja dia mendapatkan omzet Rp 1,01 miliar. Dari jumlah itu dia mengantongi keuntungan bersih sekitar 35 persen dari total omzet.

 

’’Itu bersih di luar gaji karyawan dan di luar biaya pengembangan usaha bengkel,’’ ungkap pria yang mengaku masih jomblo itu. Apa kelebihan produknya sampai banyak diminati biker? Selain karena harga yang kompetitif, pelanggan puas karena kualitas barang. Sebagai contoh, harga untuk head lamp rata-rata Rp 400 ribu. (bersambung)