Diduga Terlibat Pembunuhan, Polisi Tembak Kaki John Kei

JAKARTA-Untuk kesekian kalinya, Max Johannes Rahabeat alis John Refra Kei (JK), berurusan dengan pihak berwajib. Kali ini, JK pun harus ditembak karena polisi menilai dia berusaha kabur saat ditangkap petugas Polda Metro Jaya di hotel C'One Pulomas, Jakarta Timur, Jum'at (17/2). Dia didua terlibat dalam pembunuhan bos PT Sanex Steel beberapa waktu lalu.

Berita Lainnya

Informasi yang dihimpun Indopos, JK ditangkap petugas sekitar pukul 20.00 WiB. Saat itu dia berada di Kamar 501. JK dilumpuhkan setelah diketahui terlibat pembunuhan bos PT Sanex Steel, Ayung alias Tan Hari Tantono, 50, di Swiss-Belhotel, Jakarta Pusat akhir Januari lalu.  "Terkait pembunuhan bos PT Sanex Steel di Swiss Belhotel Sawah Besar di kamar 2701 kami telah menangkap JR alias JK," ujar Humas Polda Metro Jaya Kombes Polisi Rikwanto disela-sela jumpa pers di Mapolda Metro jaya kemarin (18/2). Rikwanto mengatakan Betis kaki sebelah kanan pria yang mengoleksi tato disekujur tubuhnya ini ditembak petugas. "Pada saat akan ditangkap dia berusaha untuk mengelak dan berusaha untuk melarikan diri. Daripada tersangka kabur, maka kami melepaskan tembakan ke arah kaki tersangka," katanya.

Tentunya kata dia, penangkapan Pria asal Kampung Tutrean, Elat, Kecamatan Kei Besar, Maluku Tenggara ini karena aparat kepolisian memiliki bukti keterlibatan JK dalam aksi pembunuhan sadis tersebut. Salah satunya, pengakuan dari tiga tersangka yang sebelumnya sudah menyerahkan diri kepada petugas. Kemudian dari hasil penyelidikan berkembang menjadi lima tersangka. Dari keterangan lima tersangka inilah muncul nama JK. "Jadi berdasarkan keterangan lima orang tersangka, di mana dua orang masih menjalani proses penyidikan saat ini. Saudara JK pada saat terjadi pembunuhan ada di kamar 2701," katanya.

Meski tidak menjelaskan peran JK dalam aksi pembunuhan tersebut, dari beberapa bukti yang ada di TKP, Rikwanto menegaskan ada indikasi kuat keterlibatan JK. Sehingga petugas langsung menangkap JK. "JK ada di TKP, inilah yang akan kita dalami kembali untuk perannya dan ditambah keterangan tersangka yang sudah kita tangkap sebelumnya," jelasnya.

Apalagi dari hasil rekaman 13 CCTV yang ada di hotel tersebut, terlihat Kelompok JK masuk ke dalam hotel. Baik itu camera CCTV di lobby, di lift maupun koridor di lantai hotel. Di mana, lanjut Rikwanto, waktu kematian korban ada durasi rekaman kamera John Kei masuk dan keluar. "Kita juga menggunakan analisa digital forensik berkaitan dengan rekaman CCTV dari situlah juga kita mengetahui adanya keberadaan JK. Sebelum meninggal dicek juga dia makan apa dan sesudah kematian kita juga memeriksa kembali dia makan apa jadi itu secara teknis," paparnya

Sementara itu, Direktur Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Metro Jaya, Kombes Pol Toni Hermawan menambahkan, saat penangkapan berlangsung, petugas juga meringkus seorang artis berinisial AF di kamar bersama JK. Keduanya tengah melakukan pesta sabu-sabu.

Sebab, petugas menemukan barang bukti berupa bong sabu. Selanjutnya setelah dites urine, perempuan berinisial AF tersebut positif narkoba. "Yang bersangkutan kita serahkan kepada direktorat Narkoba Polda Metro Jaya, karena hasil tes urine AF positif narkoba. Sedangkan JK kita sedang lakukan tes urine dan darah dan kita lihat hasilnya nanti," paparnya.

Sampai saat ini, kata Toni, JK masih berada di RS Polri Jakarta Timur untuk mendapatkan perawatan. Namun, karena gula darah JK tinggi tindakan operasi ditunda. "Saat dilakukan tindakan medis ternyata gula darah 500 pada korban sehingga belum bisa dilakukan tindakan medis. Masih diupayakan supaya gulanya rendah dulu," jelasnya. Mungkin dalam waktu 1-2 hari ini, lanjut dia, baru dilakukan tindakan medis berikut pembedahan kakinya. "Dan akan kita periksa sesuai prosedur yang berlaku," ucapnya.

Ditanya bagaiman jika ada ancaman kelompok JK yang tidak terima dengan penangkapan tersebut? Kombes Pol Toni Hermawan mengatakan, dirinya tetap berpedoman pada hukum yang berlaku. "Apabila tersangka terbukti telah melakukan tindak pidana hukum kita akan tindak tegas dan kita tindak melihat dari sisi yang lain," tukasnya.

Sementara itu, pihak keluarga John Kei menuduh polisi melakukan pelanggaran saat penangkapan. Sebab, penembakan yang dilakukan petugas dinilai terlalu mengada-ada. Karena, saat itu John Kei tidak melakukan perlawanan apa-apa. "Kami akan laporkan pelanggaran prosedur ini, kalau tidak besok (hari ini, Red), ya lusa," kata Tito, adik John Kei. Menurutnya, John sudah menyerah kepada polisi saat digerebek. Namun, polisi masih saja menganiaya dan menembak kakinya.

Menurut sepengetahuan Tito, tuduhan polisi bahwa Kei terlibat pembunuhan bos Sanex, Ayung, terlalu berlebihan. Sebab, katanya, antara Kei dan Ayung telah terjalin persahabatan sejak 6 tahun lalu. "Seperti abang adik. Beliau baru terindikasi," jawabnya. (ash)


free counters



Pasangan Gubernur DKI Manakah Yang Anda Akan Pilih ?