JAKARTA-Kekhawatiran Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) benar-benar terjadi. Kongres tahunan PSSI yang akan dilaksanakan di Palangkaraya, 18 Maret mendatang, tidak mengundang pemilik suara dari Indonesia Super League (ISL). PSSI tidak gubris amanat FIFA gelar kongres 18 Maret dengan peserta Kongres PSSI di Bali. KPSI pun bergerak.
Jadwal KLB digeser. Dijalankan sesuai amanat FIFA. Tahu PSSI tak bakal mengundang klub-klub ISL, KPSI mulai bertindak. Bukan menuntut PSSI mengembalikan hak klub-klub ISL sebagai peserta sekaligus pemilik suara dalam Kongres PSSI, melainkan menggeser jadwal Kongres Luar Biasa (KLB) dari 21 Maret ke 17-18 Maret 2012. ’’Jadi, tidak alasan untuk tidak melaksanakan KLB pada 17-18 Maret.
Karena PSSI tidak mengindahkan perintah FIFA menggunakan daftar peserta sesuai Kongres Tahunan PSSI di Bali atau kongres terakhir PSSI pada KLB 9 Juli di Solo,’’ tegas Sekretaris Eksekutif KPSI Budi Setiawan. Pernyataan Budi diamini Ketua KPSI Tonny Aprilani. Tonny menambahkan, undangan kepada para voter sendiri dikirim Jumat (17/2) agar sesuai aturan menggelar kongres.
Sebenarnya, peserta Kongres Tahunan pada 5 Februari sudah menginginkan agar Kongres Tahunan diubah jadi KLB. Tapi, ada regulasi dan aturan yang harus ditaati. ’’Ini bukan berita baru. Undangan saya tanda tangani 17 Februari dan sudah disebarkan ke voter. Itu sesuai regulasi untuk menggelar KLB 17-18 Maret,’’ terang Tonny kepada wartawan kemarin.
Namun, Tonny membantah digesernya jadwal KLB itu supaya head to head dengan Kongres Tahunan PSSI di Palangkaraya. ’’Tidak. Tanpa harus seperti itu masyarakat sudah bisa menilai. Wacana rekonsiliasi PSSI omong kosong. Amanat KONI, FIFA dalam suratnya, bahkan pernyataan AFC saat rapat Exco PSSI di Puncak pada 3 Februari yang meminta PSSI menggunakan daftar peserta KLB 9 Juli di Solo untuk kongres tahunan 18 Maret tak diindahkan,’’ ujar Tonny.
Mereka justru mengundang klub Indonesia Premier League yang berjumlah 12. Sekadar diingat, 8 di antara mereka bukanlah anggota PSSI. Bicara soal sah atau tidaknya hasil dalam KLB itu, Tonny yakin FIFA dan AFC akan mengakui hasil KLB yang rencananya digelar di Hotel Sultan, Jakarta. Pasalnya, lebih dari 2/3 voter atau tepatnya 77 voter Kongres PSSI mendukung perjuangan KPSI.
’’Jika pada Kongres Tahunan pada 5 Februari tercatat 74 voter, kami mengonfirmasi jumlahnya kini 77. Tiga tambahan lagi adalah Pengprov PSSI Jambi, Sulawesi Utara, dan Sumatera Utara,’’ tandas Tonny. Sementara itu, PSSI benar-benar mati rasa. Bahkan perintah FIFA pun dilangkahi. Klub ISL tak dianggap, PSSI justru undang 12 klub IPL dalam Kongres Tahunan 18 Maret di Palangkaraya.
Wacana rekonsiliasi PSSI omong kosong. Tuntutan anggota sah PSSI untuk tunduk pada Statuta dan aturan yang berlaku tak diindahkan. Bahkan, perintah FIFA dalam suratnya yang meminta PSSI menggelar Kongres Tahunan berdasarkan Kongres Tahunan PSSI terakhir di Bali pun tak ditaati. Seperti dilansir aseanfootball.org, PSSI memilih berkeras.
Klub yang tak jelas asal-usulnya dan berlaga di Indonesia Premier League (IPL) jadi peserta undangan Kongres Tahunan 18 Maret yang rencananya digelar di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Sementara klub-klub ISL yang notabene anggota sah PSSI dan voter dalam Kongres PSSI justru tak dianggap. Selain 12 klub IPL, PSSI turut mengundang 16 klub Divisi Utama, 14, 12, dan 10 klub Divisi I, II, dan III, serta 33 Pengprov PSSI se-Indonesia dalam Kongres Tahunan 18 Maret itu.
’’Kami telah menunjuk Palangkaraya sebagai tuan rumah Kongres Tahunan PSSI 18 Maret. Dukungan dari rakyat dan Gubernur Kalimantan Tengah luar biasa terhadap rencana ini. Dan sudah saatnya kegiatan PSSI digelar di pelosok wilayah Indonesia, tidak hanya di pusat, Jakarta,’’ ujar Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin yang dilansir aseanfootball.org. (lis)
| < Prev | Next > |
|---|