
WASHINGTON – Tokoh incumbent Barack Obama, 50, agaknya tak perlu merasa khawatir menghadapi pemilihan presiden (pilpres) AS pada 6 November nanti. Setidaknya, dia tidak harus risau dengan kemenangan mantan Gubernur Massachusetts Mitt Romney, 64, dalam beberapa pemilihan pendahuluan (primary dan kaukus) kandidat capres Partai Republik sebulan terakhir.
Presiden AS pertama berkulit hitam (keturunan Afrika) itu diprediksi mampu mengatasi atau mengalahkan Romney (atau, barangkali, mantan Ke tua DPR AS Newt Gingrich) pada pilpres mendatang. Survei terbaru menyebut bahwa saat ini popularitas Obama meningkat. Itu sejalan dengan membaiknya perekonomian AS dan mulai tersedianya lagi lapangan kerja dalam sebulan terakhir. Hasil survei politik terbaru yang dirilis kemarin (7/2) menyebut bahwa untuk kali pertama, Obama diunggulkan dalam pilpres nanti.
Survei itu didasarkan jajak pendapat terhadap 1.000 orang dewasa yang dilakukan Washington Post dan jaringan televisi ABC News. Secara keseluruhan, tingkat dukungan publik kepada Obama di bidang pembukaan lapangan kerja meningkat. Begitu pula kemampuannya dalam menangani pemulihan ekonomi AS yang belakangan ini mengalami perlambatan.
Menurut survei itu, jika pilpres diadakan saat ini, Obama akan menang dengan meraih 51 persen suara. Sedangkan Romney akan meraih 45 persen suara. Jika lawannya dalam pilpres adalah Gingrich, Obama akan unggul 54 persen suara berbanding dengan 43 per sen. Berdasar poling yang dilakukan via wawancara telepon pada 1-4 Februari itu, Obama menang atas Romney soal perlindungan atas kelas menengah dan pajak. Responden juga yakin Obama lebih mampu menangani isu hubungan internasional dan terorisme.
Namun, persaingan Obama dan Romney ke tat soal penciptaan lapangan kerja. Romney le bih dipercaya mampu mengatasi masalah ekonomi dan defi sit anggar an. Kubu Romney menolak hasil jajak tersebut.
Lembaga survei kubu Romney, Neil Newhouse, menyatakan bahwa hasil jajak itu tidak tepat dan memberikan informasi yang negatif soal mereka. Masih menurut survei tadi, tingkat dukungan masyarakat terhadap program pembukaan lapangan kerja oleh Obama meningkat menjadi 50 persen. Saat ditanya apakah Obama layak menjabat presiden untuk periode kedua, 49 persen responden mengiyakan dan 49 persen lain menjawab tidak. (RTR/cak/dwi)
| < Prev | Next > |
|---|