SANAA – Kekuasaan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh dipastikan resmi berakhir pekan ini saat referendum digelar di negara tersebut untuk menentukan masa depan pemerintahan baru. Jika itu terjadi, Yaman akan menjadi negara Arab pertama yang mampu mengakhiri revolusi rakyat melalui kesepakatan politik dan bukan penggulingan kekuasaan. Rezim Saleh bisa dipastikan berakhir dalam referendum mirip pemilu pada Selasa besok (21/2).
Pasalnya, dalam surat suara hanya terdapat nama Wakil Presiden (Wapres) Abdrabuh Mansur Hadi. Mantan tentara berusia 66 tahun tersebut merupakan calon tunggal dalam referendum untuk menentukan pengganti Saleh. Tetapi, dua oposisi utama, Gerakan Selatan yang ingin memerdekakan diri dan kelompok Zaidi di utara Yaman, memboikot referendum tersebut.
Pemilihan pemimpin baru dengan kandidat tunggal itu merupakan sebuah syarat yang diajukan oleh negara-negara Teluk untuk me wujudkan masa transisi di Yaman dan telah disepakati Saleh pada November tahun lalu. Kesepakatan itu tercapai setelah 10 bulan unjuk rasa rakyat dan tekanan internasional untuk mendesak agar Saleh mundur.
Pendukung utama revolusi di Yaman telah menyerukan agar rakyat memilih Hadi. Poster-poster bergambar wajah Hadi telah terpampangdiseluruhwilayahYaman. ’’Hadi telah mengantongi dukungan dari dalam negeri maupun dunia internasional. Dia juga dihormati sebagai pemimpin dengan visi masa depan. Kami menyerukan agar seluruh rakyat Yaman berpartisipasi dalam pemilu,’’ ujar Jenderal Ali Mohsen al-Ahmar, pimpinan militer yang membelot ke oposisi pada Maret tahun lalu dan mendukung perlawanan rakyat.
Tokoh peraih Nobel Perdamaian asal Yaman, Tawakkul Karman, juga meminta rakyat untuk memilih sang wakil presiden. ’’Pemilu kali ini adalah buah dari perjuangan populer para pemuda Yaman Setelah Hadi resmi menjabat presiden, dia dijadwalkan melakukan dialog nasional sebagai langkah pertama yang harus dilakukan dalam masa transisi. Masa transisi akan digunakan untuk menyiapkan pemilu presiden (pilpres) dan parlemen dalam dua tahun ke depan.
Namun, sebagian rakyat Yaman masih mengkhawatirkan peran militer yang punya kekuasan sangat besar. Militer Yaman saat ini masih berada di bawah kendali putra dan keponakan Saleh. Padahal, mereka dinilai bertanggung jawab atas pertumpahan darah selama terjadi kekerasan terhadap demonstran. (AFP/cak/dwi)
| < Prev | Next > |
|---|