
TEHERAN – Situasi di Timur Tengah (Timteng) bakal kian tegang dan membara. Di tengah tekanan dunia terkait dengan represi rezim Presiden Bashar al-Assad terhadap oposisi dan demonstran anti-pemerintahannya, Syria justru mendapat dukungan dari sekutunya di Timur Tengah, Iran. Sabtu lalu (18/2), kapal perang jenis destroyer dan logistik milik Angkatan Laut (AL) Iran itu telah berlabuh di pelabuhan Tartous, kota Syria yang terletak di tepi Laut Mediterania.
Bersamaan dengan itu, pasukan infanteri yang loyal kepada Assad kemarin (20/2) tiba di Kota Homs dan siap melancarkan serangan besar-besaran terhadap oposisi. Menteri Pertahanan (Menhan) Iran Ahmad Vahidi pun membenarkan laporan perihal bersandarnya dua kapal AL negerinya di Sy ria. ’’Kapal kami telah melintasi Terusan Suez (menuju Laut Mediterania).
Sudah menjadi hak Iran untuk melayari perairan internasional,’’ katanya seperti dilansir stasiun televisi berbahasa Inggris milik Iran, Press TV, kemarin. Dia menambahkan, perjalanan dua kapal itu merupakan bukti ketangguhan militer Iran. Kepala Staf AL Iran Laksamana Habibollah Sayari juga mengonfirmasikan dua kapal perang itu di Syria. Menurut dia, pelayaran melewati Terusan Suez dan berakhir di Laut Mediterania itu adalah kali kedua oleh kapal perang Iran pasca-Revolusi Islam pada 1979.
Pelayaran pertama kapal AL Iran ke Syria terjadi Februari tahun lalu. ’’Keberhasilan pelayaran ini merupakan bukti kekuatan Iran,’’ tegasnya. Seperti misi pertama, kali ini AL Iran mengirim kapal perusak dan kapal logistik militer. Kabarnya, kehadiran dua kapal AL Iran di kota pelabuhan terbesar kedua Syria itu adalah bagian dari kesepakatan dua negara yang diteken tahun lalu.
Sebagai informasi, di Kota Tartous juga terdapat pangkalan AL Rusia. Pangkalan ini sudah ada sejak era Perang Dingin atau era Uni Soviet pada 1970-an. Sumber Agence France-Presse menyebut bahwa AL Iran akan memberikan pelatihan militer pada AL Syria. Kehadiran kapal perang Iran di Syria yang kini diterpa krisis politik jelas memantik reaksi keras dunia, terutama Israel.
Kemenlu Israel menegaskan bahwa mereka bakal memantau ketat aktivitas AL Iran di Syria. Youcef Bouandel, pakar hubungan internasional, menilai lawatan kapal perang Iran ke Syria itu merupakan bagian dari upaya Teheran untuk menunjukkan eksistensi. ’’Ada dua pesan yang hendak disampaikan Iran. Pertama, kami (Iran, Red) tangguh dan bisa dengan mudah menutup Selat Hormuz jika terkena sanksi.
Kedua, kami membela sekutu kami,’’ tuturnya kepada stasiun televisi Al Jazeera. Kedatangan kapal Iran di Syria itu juga nyaris bersamaan dengan inspeksi tim IAEA (Badan Energi Atom PBB) terkait program nuklir Iran. Kemarin tim IAEA tiba di Teheran untuk inspeksi kali kedua setelah yang pertama pada 30 Januari lalu. Tim di pimpin Deputi Dirjen IAEA Herman Nackaerts itu di Iran selama dua hari untuk mengklarifikasi tuduhan pengembangan program nuklirnya untuk senjata.
Sementara itu, warga Kota Homs terus waswas. Pasukan pemerintah belum juga menghentikan serangannya ke kota terbesar ketiga yang terletak 162 kilometer utara Damaskus tersebut. Bahkan, kemarin unit infanteri militer tiba di Homs. Sebelumnya, rezim Assad mengerahkan tank dan kendaraan lapis baja lengkap dengan pasukan tempur mereka.
Rami Abdel Rahman, direktur Syrian Observatory for Human Rights (SOHR), jaring an aktivis oposisi, menyebut bahwa tentara Assad siap menggempur Homs. Kelompok oposisi yang bertahan di kawasan Baba Amr, Homs, yakin bahwa tentara Assad akan melancarkan serangan penghabisan. Wilayah itu diklaim sebagai sarang oposisi bersenjata (tentara pembangkang yang bergabung dengan oposisi).
Aktivis oposisi lain, Mustafa Osso, mengatakan bahwa pasukan pemerintah akan berusaha mengambil alih Homs dari tangan oposisi sebelum referendum konstitusi pada 26 Februari nanti. (AFP/AP/RTR/hep/dwi)
| < Prev | Next > |
|---|