
Kelas Terbuka seperti Rumah Pohon
Di tengah pro kontra pelaksanaan kurikulum baru yang rencananya akan dimulai pada ajaran 2013, Sekolah Alam Indonesia (SAI) tidak terusik. Bukan karena sejak lama SAI memiliki acuan kurikulum sendiri, tapi karena secara garis besar, kurikulum baru yang ditawarkan pemerintah sebenarnya sudah jauh lebih dulu diberlakukan di sana. Seperti apa?
Rumah panggung dan rumah pohon bertebaran di areal seluas 7.200 meter persegi di kawasan Jalan Anda, Jagakarsa, Ciganjur, Jakarta Selatan. Rimbunnya pohon menambah segar suasana area belajar di SAI.
Anak-anak berlarian ceria dengan menggunakan sepatu bootnya karena banyak tanah basah akibat sisa hujan sehari sebelumnya. INDOPOS berkesempatan menyambangi SAI, Rabu (5/12) lalu dan diterima di sebuah rumah panggung induk yang terbuat dari kayu dan merupakan ruangan para guru serta manajemen SAI.
Sesuai namanya, SAI mengajak siswa-siswi didiknya untuk bersahabat dengan alam. Jangan berharap bisa melihat kelas-kelas tertutup di sana. Yang ada hanyalah ruangan kelas terbuka dari kayu dengan model panggung dan rumah di atas pohon.
’’Di sini (Jalan Anda) kami sudah operasional sejak 2001. Tapi SAI sendiri sudah memulai aktivitas belajar mengajar sejak 1998,’’ jelas Direktur Non Pendidikan SAI Esti Suhesti. Wanita berhijab alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) jurusan landscape itu mengaku sudah mengajar sejak 1999 silam di SAI.
Tak heran, dua anaknya pun dia sekolahkan di sana. SAI tidak hanya inovatif dari segi tampilan fisik sekolah, tapi juga metode belajarnya. ’’Sejak awal, para pendiri SAI (salah satunya Tri Puji Hundarsih) memiliki keinginan untuk membuat sekolah dengan kurikulum yang lebih inovatif. Berangkat dari keprihatinan terhadap pendidikan di Indonesia yang menurut para pendiri belum sesuai dengan harapan mereka,’’ urainya.
Selain dari metode pembelajaran, juga kurangnya pengajaran soal akhlak. Maka itu, pihaknya menawarkan metode pembelajaran dengan konsep berakhlak mulia, logika ilmiah, dan kepemimpinan, ditunjang dengan guru berkualitas, metodologi yang tepat, dan buku pelajaran bermutu.
’’Keteladanan berdasarkan Alquran dan hadis, active learning, dan pelatihan out bond. Kami juga mengajarkan siswa dengan konsep belajar mandiri, yaitu dengan prinsip kebersihan, memaksimalkan penggunaan barang (daur ulang), pendampingan oleh bapak dan ibu guru di dalam satu kelas, rasio pembelajaran indoor: outdoor dengan prosentase 30: 70, dan dua guru mengajar hanya untuk 22 siswa-siswi,’’ ulas Esti.
Prinsipnya, kata Esti, SAI itu mengajak anak untuk belajar dengan alam. Bahwa belajar itu tidak harus kaku dan membosankan. Siswa-siswi diajar sesuai tema-tema tertentu. Dia memberi contoh, jika pelajaran soal tanaman di IPA, maka siswa melihat langsung tanaman yang ada di sekeliling mereka, atau tanaman yang ada di kebun sekolah.
Atau, ketika belajar matematika, itu bisa dilakukan dengan cara pengenalan lewat alam. ’’Misalnya begini, ibu guru punya 20 butir benih, setiap satu lubang harus diisi dengan 2 buah benih, berapa lubang yang harus dibuat? Semacam itu kira-kira. Jadi matematika bisa terlihat menyenangkan buat anak,’’ ulasnya panjang lebar mengenai cara-cara pembelajaran di sana.
Pembelajaran lainnya juga bisa dengan lagu. Kumpulan lagu yang diciptakan para guru pun akhirnya sudah berhasil direkam dalam 3 album. ’’Jadi kami (para guru) menciptakan lagu-lagu untuk menyampaikan materi ajar kepada anak. Misalkan lagu tentang uang, menabung, belajar tentang nama-nama Samudera, hingga ajakan untuk menjaga lingkungan dan kebersihan,’’ paparnya.
Belajar yang menyenangkan mampu membangun karakter, akhlak, dan kognitif anak dengan lebih cepat. Barometernya, bahwa anak-anak lulusan SAI lebih aktif, kritis, memiliki jiwa kepemimpinan di atas rata-rata, dan mampu membuat keputusan dengan lebih cepat.
Hal itu terungkap dari hasil sharing para siswa dan orang tua murid alumnus SAI. Ketika mereka melanjutkan pendidikan lanjutan di sekolah konvensional. Karena SAI baru membuka kelas SMU setahun belakangan ini, jadi belum memiliki lulusan. Sementara untuk SD, pihaknya sudah memiliki 7 lulusan dan SMP sudah 5 lulusan.
’’Ukuran lainnya bisa saya lihat sendiri pada anak-anak saya. Dua anak saya sekolah di sini dan mereka memang terlihat aktif dan kreatif. Dia bisa membuat sebuah penelitian kecil bagaimana memanfaatkan limbah air di rumah supaya tidak terbuang percuma. Dan dalam pergaulan, jiwa kepemimpinannya terlihat,’’ ungkapnya.
Menariknya lagi, setahun sekali (setiap 2 semester), siswa-siswi SD mendapat kesempatan untuk studi tour. Biasanya, jelas Esti mereka diajak untuk outing, yaitu memilih tujuan perjalanan, membuat budgeting kegiatan, membuat proposal pendanaan, hingga mencari sumber dana tambahan, supaya bisa sukses membuat kegiatan itu.
’’Para siswa-siswi berembug bersama-sama. Alhamdulillah, kami sudah mengunjungi beberapa tempat, seperti Bengkulu, Tidore, Wakatobi, dan Bandanaira. Itu semua hasil kerja dari siswa-siswi SD kami. Mereka berjualan, membuat hasta karya untuk mencari dana tambahan,’’ paparnya tanpa bisa menyembunyikan rasa bangga kepada anak-anak didiknya. (sic)