Limpa dan Paru-Paru Masih Luka Parah
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan pihak keluarga korban penusukan teman satu kelas di SDN 1 Cinere, Depok, Jawa Barat, mendatangi RS Fatmawati, Jakarta Selatan. Ketua KPAI Aries Merdeka Sirait menjenguk keadaan korban penusukan tersebut. Di Rumah Sakit (RS) Fatmawati, keluarga korban meminta agar pihak penegak hukum tetap memproses kasusnya sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Aries Merdeka Sirait mengatakan, setiap orang yang melanggar, harus ditindak sesuai hukum. Namun karena masih di bawah umur, pelaku hanya ditindak dengan hukum berkaitan perspektif anak. Dia akan menanyakan pasal-pasal apa yang disebutkan oleh polisi. Karena kita harus melihat sesuai dengan keadilan dan korban yang merasa dilukai.
”Itu sebagai konsekuensi orang melakukan pelanggaran,” kata pria berambut panjang terikat rapi tersebut pada wartawan di RS Fatmawati kemarin. Aries menjelaskan, hingga kini korban masih mengeluhkan perutnya karena kesakitan dan juga mengeluhkan dadanya yang masih luka akibat terkena tusukan. Korban masih dirawat intensif di RS Fatmawati, di ruang Teratai, lantai 3.
”Korban mendapat perawatan limpa dan paru-paru yang luka,” ujarnya. Dirinya menyampaikan keinginannya mendorong agar Syaiful dapat diberikan pelayanan kesehatan yang layak untuk mendapatkan kesembuhan. Kata pihak rumah sakit, tidak masalah adanya biaya.“Biaya, akan ditanggung, baik oleh direksi dan pihak rumah sakit,” ujarnya. Sementara Ayah Korban yakni Sukino menambahkan, sejauh ini anaknya belum dimintai keterangan terkait kejadian yang dialaminya.
Hal itu, karena kondisi anaknya sampai kini masih lemah.”Kalau untuk dendam, anak saya tidak dendam. Saya ingin anak Saya kembali sehat,” papar sang ayah berharap banyak. Sukino sangat menyesalkan jika pihak keluarga pelaku baru datang belum lama ini. “Alasannya jauh, karena saya masih menunggu ibunya Amin (pelaku) yang di luar kota,” imbuhnya.
Hingga saat ini, belum ada pembicaraan mengenai pergantian kerugian dan biaya pengobatan dari pihak keluarga pelaku. Kedepan ada pembicaraan lebih lanjut dari orang tua pelaku. Biar ada pembicaraan,”Soal bunuh itu kan terencana, harus tetap diberlakukan hukum,” tegas orang tua korban. Sebelumnya diberitakan, kasus penusukan terjadi di Daerah Puri Pesanggrahan 1, Perumahan Bukit Cinere Indah, Depok, Jawa Barat, pada Jumat, 17 Februari 2012 pagi lalu.
Kejadian penusukan bermula Kamis (16/2) lalu, saat AMN tidak terima Syaiful Munif meminta telepon seluler yang dicurinya agar segera dikembalikan. Keesokan harinya, AMN menjemput Syaiful berangkat sekolah. Ternyata, dalam perjalanan, AMN tega menusuk Syaiful dan membiarkan korban terkapar di got. Setelah ditemukan oleh satpam, Syaiful langsung dilarikan ke RS Prima Husada.
Di sana, sudah ada petugas yang mendampingi korban. Oleh petugas, Syaiful dimintai keterangan mengenai kejadian penusukan tersebut.”Dia (korban) jawab semuanya, padahal saat itu ususnya terburai,” jelas Sutopo, tetangga korban yang ikut menemani di RS Fatmawati. (ibl)
| < Prev | Next > |
|---|