
Apa perasaan Anda pertamakali mendengar berita kasus Aceng HM Fikri?
Sakit, sakit sekali. Itu melukai hati kaum perempuan.
Apa kata yang tepat untuk menggambarkan perbuatan Aceng?
Saya lebih menyebutnya sebagai pelecehan kaum perempuan. Itu sangat tidak terpuji.
Pejabat publik kok begitu ya?
Ya itu dia. Itu tidak pantas dilakukan pejabat publik. Ada tiga pelanggaran yang dilakukan. Pertama menikahi perempuan yang masih belum cukup dewasa, kedua menceraikan secara tidak etis. Ketiga pernikahan itu jelas pelanggaran UU Pernikahan. Sebagai pejabat publik tidak pantas melakukan pernikahan tanpa catatan sipil. Undang-undang pernikahan itu mengatur jelas pernikahan pejabat publik.
Kejadian seperti dialami FO ini kan banyak juga terjadi di daerah lain?
Inilah yang kita kerjakan terus. Memberdayakan perempuan dan mensosialisasikan pentingnya kesetaraan gender. Tapi perempuan Indonesia sekarang lebih maju. Mereka sebagian besar sudah sadar akan hak dan kewajibannya, sudah melek hukum. Jadi, ketika mereka mengalami KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), misalnya, mereka tidak segan-segan melapor kepada petugas.
Aparat penegak hukum kita juga sudah sadar akan hal itu ya?
Betul. Di Polres-polres, Polda, dan Mabes Polri sekarang sudah ada Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA). Di Mabes Polri misalnya, ada Direktorat Pidana Umum Bareskrim. Penyidiknya dari polwan dan juga punya psikolog yang mendampingi korban atau pelapor yang trauma. Dalam kasus ini penyidiknya juga wanita, untuk menjaga kondisi psikologis yang bersangkutan. Jadi sudah ada kesadaran tentang pentingnya perlindungan perempuan dan anak.
Jadi, Anda yakin persoalan ini dapat dituntaskan secara hukum?
Aparat penegak hukum kita punya integritas dan profesionalitas. Saya yakin polisi akan bekerja dengan baik.
Apa pesan buat orangtua?
Keluarga seharusnya dapat memeberikan perlindungan bagi anak perempuan. Tidak membiarkan keputusan pernikahan dilakukan oleh anak saja.
Saya rasa keluarga manapun perlu melindungi kaum perempuan.
Apa harapan Anda agar kejadian ini tidak terulang?
Agama dan bangsa sangat menghormati perempuan. Dengan peristiwa ini saya berharap ada keteladanan, baik dari orangtua maupun pejabat publik. Selain itu harus mengembangkan sikap saling menghormati. Ini harus menjadi sifat mendasar bagi kita. Dan itu semua dimulai dari keluarga. Anak-anak membutuhkan keteladanan dari orangtuanya. Tentu masyarakat juga mendambakan pemimpin yang mampu menjadi panutan keteladanan.(rko)