JAKARTA - Hasil riset media monitoring The Founding Fathers House (FFH) menyimpulkan, bahwa selama satu tahun terakhir, energi SBY ternyata lebih banyak tercurah ke Partai Demokrat. Hal ini dapat dilihat dari komentar presiden yang banyak menyasar persoalan internal Demokrat dibanding membicarakan persoalan politik lainnya. Peneliti, FFH, Dian Permana Putra mengungkapkan, ada dua kasus yang menyita perhatian presiden menyangkut Demokrat, yakni kasus Nazaruddin dan Rakornas Demokrat.
Dimana untuk klasifikasi media cetak, SBY tercatat berkomentar seputar kasus Nazaruddin sebanyak 19 kali (6 persen), komentari soal KTT Asean 17 kali (5 persen) dan bicara soal perombakan kabinet 13 kali (4 persen). “Artinya bisa dimaklumi jika, banyak kritikan yang menyebutkan bahwa Indonesia ini negeri Auto pilot, dimana pemimpinanya lebih sibuk mengurus hal yang berkaitan dengan dirinya dibanding dengan rakyatnya,” ujar mantan peneliti Lembaga Survei Nasional (LSN) kepada wartawan di Kantor FFH, Prapanca, Jakarta Selatan, kemarin.
Sementara, di media televisi, SBY terhitung ada 22 kali tayangan atau 19 persen mengomentari kasus Nazaruddin dalam perkara suap Wisma Atleit Palembang, disusul kasus perompak Somalia yang membajak kapal Indonesia, sebanyak 10 kali (4 persen). Sementara di media online, pernyataan SBY tentang kasus Nazaruddin ada 22 artikel (19 persen), komentari KTT Asean 18 artikel (18 persen) dan Rakornas Demokrat sebanyak 18 artikel (18 persen). “Disinilah, muncul kesimpulan bahwa SBY sudah sangat dipusingkan oleh persoalan partainya lantaran banyak kadernya mulai terjerat kasus hukum. Karena itu SBY sudah seharusnya fokus kembali memikirkan persoalan rakyat secara total,” imbuhnya.
Sementara itu, Sekertaris Jenderal FFH, Syahrial Nasution mengaku sangat menyayangkan hasil riset tersebut. Hasil riset dapat disimpulkan keberadaan Demokrat membebani konsentrasi presiden dalam menjalankan tugasnya dalam menyejahterkan rakyat dan mengawal pemerintahan hingga 2014. “Pada posisi seperti ini seharusnya Demokrat bisa bertindak sebagai partai yang turut serta membantu tugas-tugas presiden selaku pendiri partai. Bukan malah menjadi beban, sehingga SBY bisa fokus dalam menjalankan program-program pemerintah,” kata Syahrial.
Tentunya, kondisi seperti ini, lanjut Syahrial, tidak boleh dibiarkan terus berlangsung. Elite Demokrat, menurutnya, harus mampu menyelesaikan masalah tanpa harus membebani presiden. “Sayangnya tidak mudah. Kasus-kasus di Demokrat malah membuat presiden melupakan tugasnya sebagai presiden yang dipilih rakyat,” pungkasnya. Patut diketahui, riset ini dilakukan FFH pada 17 Maret sampai 31 Desember 2011.
Bahan riset bersumber dari 43.300 materi publikasi. Dimana ada 5.588 buah tayangan publikasi dari enam media televisi. Kemudian, 16.257 buah artikel pemberitaan dari 11 media cetak dan 19.710 artikel dari tujuh media online. Analisa media dilakukan dengan metode purpose sampling. Media yang dipilih berskala nasional dan teruji kredibilitasnya. dms
| < Prev | Next > |
|---|