20 June 2013 Last updated 6 MONTHS ago
A+ R A-
You are here: HomeBerita IndotainmentYuri Jo, Penyanyi Jazz Tanah Air yang Sukses Berkarir di Negeri Kanguru

Yuri Jo, Penyanyi Jazz Tanah Air yang Sukses Berkarir di Negeri Kanguru

C6

Padukan Jazz dan Gamelan Bali, Pulang ke Indonesia demi Java Jazz

 

Yuri Jo mendalami musik Jazz di Australia, dan sukses berkarir sebagai pemusik di Negeri Kanguru itu. Kerinduannya pada tanah kelahirannya, mendorong pria berusia 38 tahun itu memadukan jazz dengan gamelan Bali. Akhir pekan lalu, dia tampil di Java Jazz Festival 2013 untuk menunjukkan kemampuan bermusiknya. ACHMAD SUKARNO HAMID

 

MEMPELAJARI gitar sejak usia 11 tahun, Yuri Jo tidak menganggap dirinya sebagai gitaris berbakat. Apa yang dilakukannya sekadar memenuhi kecintaannya terhadap dunia musik. Seiring berjalannya waktu, gitar mengantarkannya menjadi pemain musik jazz.

 

”Pelajaran gitar yang pertama kali aku pelajari itu gitar klasik di Musik Rossi di kawasan Jakarta Selatan,” ujarnya di Kemayoran, Jakarta Pusat, akhir pekan lalu.

 

Menimba ilmu dari Rio Juneart, Jaya Roxx, Edo Widiz, Syahril dan Sangkan, kemampuan memetik gitar pria kelahiran Jakarta, 30 November 1974 itu pun semakin matang. ”Mereka yang memberikan akses dan literature kepada saya dalam bermain gitar,” katanya.

 

Dengan kemampuan yang dimiliki, dia berhasil menghipnotis pencinta jazz di Festival Jazz Motreal di Kanada pada 1992. Penampilan itu membuatnya semakin mantap untuk menseriusi musik jazz.

 

Dia pun melanjutkan pendidikan ke Central Queensland Conservation Mackay, Queensland, Australia. ”Setelah lulus saya lanjutkan ke Bachelor of Music, Queensland Conservation Griffith University,” terang pria berkepala plontos itu.

 

Di sana dia belajar banyak tentang musik jazz dari Jamie Clarke dan Barry Morton, salah satu penyanyi kenamaan Negeri Kanguru. Untuk semakin mematangkan kemampuan bermusiknya, dia sempat bergabung dengan beberapa band selama menempuh pendidikan di sana. Dua diantaranya, Band Mars dan The Retrievers.

 

”Selama menempuh pendidikan di Australia, saya aktif bermusik dengan band-band setempat,” ungkapnya. Entah lantaran bosan atau ingin bereksperimen, dia mulai menggabungkan alunan jazz dengan musik tradisional. Lantas, dia bergabung dengan komunitas Bali Queensland yang mengusung gamelan Bali.

 

Dia benar-benar jatuh cinta pada musik itu sehingga bertahan selama delapan tahun bersama Bali Queensland. ”Jujur, waktu di sana saya sangat rindu akan musik Indonesia. Makanya, saya memutuskan untuk belajar musik gamelan,” terangnya.

 

Konsistensinya itu menarik minat musisi Dwiki Darmawan dan kelompok musik Krakatau-nya. Mereka sepanggung di Brisbane. Mengulangi kesuksesannya, mereka tampil di Java Jazz Festival 2013. (*)


Epaper