22 May 2013 Last updated 5 MONTHS ago
A+ R A-
You are here: HomeBerita NasionalNeraca Perdagangan Migas Defisit

Neraca Perdagangan Migas Defisit

Bisnis Saham

Kenaikan Harga Produk Hortikultura Picu Inflasi

 

JAKARTA – Sepanjang 2012, neraca perdagangan minyak dan gas bumi (migas) Indonesia mengalami defi sit sebesar USD 5,6 miliar.

 

Bahkan pada Januari 2013, defi sit sudah menyentuh angka USD 1,4 miliar. Ini disebabkan tingginya impor BBM (bahan bakar minyak). Padahal, neraca perdagangan nonmigas pada Januari 2013 mengalami surplus sebesar USD 1,3 miliar atau meningkat tajam dari bulan sebelumnya yang hanya USD 550,5 juta.

 

Neraca perdagangan migas tetap akan mengalami tekanan karena tiga faktor. ”Ini perlu disikapi serius akibat tingginya impor BBM ini, neraca perdagangan kita menjadi defisit (perdagangan keseluruhan, Red) sebesar USD 171 juta,” ujar Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Bayu Krisnamurthi kepada wartawan dalam jumpa pers tentang neraca perdagangan di Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta kemarin, (4/3).

 

Menurut dua, migas tetap akan mendapat tekanan yang kuat karena asumsi untuk harga migas masih sekitar USD 90-100 per barel. ”Padahal sekarang saja harga dunia sudah mencapai USD 110-115 per barel atau ada kenaikan 15 persen,” tandasnya.

 

Kemudian, lanjut dia, kurs saat ini sudah berada pada kisaran Rp 9.600 – Rp 9.700 per USD. ”Juga masalah konsumsi (BBM, Red) jika kita tidak melakukan penghematan, maka asumsi 48 juta kiloliter (KL) bisa mencapai 50 juta KL,” papar Bayu.

 

Meski demikian, mantan Wakil Menteri Pertanian itu tidak mau berargumen terlalu banyak dan hanya menyerahkan kepada kementerian teknis terkait. Ini agar asumsi defisit migas bisa ditangani secara serius.

 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor migas pada Januari 2013 naik 9,04 persen dari USD 3,71 miliar (Januari 2012) menjadi USD 4,04 miliar.

 

”Saya tidak mau berspekulasi dan menyerahkan ke Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM). Saat ini fokusnya pada penghematan energi dan langkah itu kita akan sambut. Kami hanya berbicara dalam level perdagangan internasional.

 

Telah ada diskusi dengan intens mencoba untuk peningkatan. Penggunaan bahan bakar nabati berbasis kelapa sawit, terutama minyak bakar untuk industri. Ini akan menambah serapan kelapa sawit dengan harga yang kompetitif dengan minyak mentah,” cetusnya.

 

Di bagian lain, Bayu memaparkan tentang inflasi pada Februari 2013 yang mencapai 0,75 persen atau lebih tinggi dari bulan-bulan sebelumnya. Kenaikan harga produk hortikultura atau sayur dan buah menjadi pemicunya.

 

”Pendorong infl asi pada Februari disebabkan lonjakan kenaikan harga produk hortikultura akibat faktor perubahan cuaca dimana terjadi curah hujan tinggi di banyak daerah,” jelasnya. ”Terjadinya kenaikan harga yang disebabkan cuaca yang buruk mengganggu distribusi pasokan.

 

Kenaikan harga juga disebabkan adanya hambatan distribusi dari sentra produksi ke daerah konsumsi yang diakibatkan oleh banjir di sejumlah tempat wilayah sentra produksi,” pungkasnya. (ers)


Epaper