
PALEMBANG - Banjir yang melanda Jalan Kota Terpadu Mandiri (KTM), Desa Sungai Rambutan, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan dalam sebulan terakhir ternyata tidak hanya membuat warga kerepotan karena rumahnya terendam.
Tetapi warga juga mengatakan air yang merendam rumah mereka terasa asam. Komaruddin, Wakil Ketua BPD Desa Sungai Rambutan, Minggu (3/3) mengatakan bahwa banjir yang melanda warga KTM sudah terjadi sejak sebulan terakhir.
Banjir kali ini adalah yang kedua setelah sebelumnya terjadi pada akhir tahun lalu dan merendam 200 rumah lebih. ”Belum genap dua bulan, banjir kembali melanda warga di daerah KTM Sungai Rambutan,” kata Komaruddin.
Dikatakannya juga bahwa air terasa asam saat banjir ataupun saat surut disebabkan banyaknya kayu gelam yang tumbuh di daerah Sungai Rambutan. Warga sudah terbiasa dengan rasa asam pada air. Saat banjir datang, tingkat keasaman pada air berkurang.
Air akan sangat terasa asam jika air mulai surut. ”Biasanya ketinggian air pada kanal hanya sekitar 30 cm,” ujarnya. Bagi warga KTM Sungai Rambutan, sambung Komaruddin, air yang rasanya asam tersebut tidak akan dikonsumsi apabila tidak terpaksa.
Warga hanya menggunakannya untuk mandi dan mencuci. Sebagai gantinya, warga menggunakan air galon. Namun apabila terpaksa, air yang terasa asam akan dikonsumsi. Air akan dimasak sebelum dikonsumsi
”Bisa untuk memasak atau minum,” cetusnya. Sebagiain warga, tambah Koma ruddin, air yang terasa asam sepanjang ta hun itu tidak menjadi masalah. Sebab masih ada air isi ulang untuk dikonsumsi. ”Kalau tidak ada air isi ulang tentu akan membuat warga repot,” tukasnya.
Bagaimana dengan banjir yang melanda warga? Komaruddin menuturkan bahwa banjir yang melanda warga KTM Sungai Rambutan tidak membuat warga mengungsi.
Walaupun ketinggian air mencapai satu meter. Sebab rumah warga berbentuk panggung yang ketinggian tiangnya mencapai satu meter. ”Air hanya menggenangi halaman atau lantai rumah,” pungkasnya. (dom/jpnn)