
Dilakukan Separuh Warga Pinawetengan, Tetap Yakin Korban Masih Selamat
Sudah tiga hari, dua orang yang diduga tertimbun dalam lubang galian tambang emas rakyat di Tatelu, Minahasa Utara, belum ada kabar. Keluarga masih yakin kedua korban yang berasal dari Pinabetengan, Kecamatan Tompaso, Minahasa ini masih hidup. IRVAN S-BENNY A, Minahasa Utara
BEBERAPA orang termenung menatap ke arah excavator yang sedang membongkar tanah. Tanpa alas duduk, orang-orang yang sebagian besar sudah paruh baya tak melempar tatapan ke tempat lain. Hanya di galian excavator itu.
“Mukjizat itu nyata. Jika Dia menghendaki Arie dan Brian selamat, pasti bisa! Dan kami mengharapkan itu terjadi,” ungkap Angelina Ratumbanua, ibunda Arie Ratumbanua, salah satu korban. Arie bersama Brian Telew (20) tertimbun tanah di dalam lubang tambang emas di Tatelu, Jumat (1/3) pukul 11.30 Wita.
Keluarga dan rekan korban pun berkisah tentang kenangan mereka, yang sekaligus dianggap sebagai tanda-tanda keduanya akan berpisah dengan mereka. Hengky Kotambunan, ayah mantu Arie, mengaku sudah ada tanda sebelum peristiwa ini terjadi. “Terakhir waktu itu Arie sangat senang bermain dengan anaknya.
Dan pada Kamis malam anaknya beberapa kali mengigau saat tidur, sebelum tertidur. Padahal tak biasanya anak itu mengigau, mungkin tanda dari ayahnya,” ungkap Kotambunan. Kotambunan pun mengaku, dengan kejadian ini separuh warga Pinawetengan turun ke Tatelu. Hal ini dibenarkan Kepala Desa Pinawetengan Selatan, Hengky Pantow. “Kira-kira ada 1.300 orang turun ke sini untuk membantu pencarian,” ujar Pantow.
Menurut Pantow, mereka tetap yakin dua korban masih hidup. “Kami percaya kuasa Tuhan,” aku Hengky. Salah satu rekan Arie, Videl yang Rabu pekan lalu mengantarnya ke lokasi tambang mengungkapkan, dia optimis sahabat karibnya itu masih hidup. “Sebelum berpisah dengan kami, Rabu pagi Arie sempat memasak ikan asin.
Saat itu Arie bercanda bila ikan yang dimasaknya itu rasa durian,” ujar Videl. Ivan Kawalo, teman Arie lainnya, mengungkapkan, sosok Arie merupakan sosok yang pandai memasak. “Setiap pulang dari tambang Arie selalu menyempatkan diri memasak dan memanggil kami, rekan-rekannya untuk menikmati masakannya.
Kami tidak menyangka, masakan ikan asin rasa durian yang dimasaknya beberapa waktu lalu itu menggambarkan pertanda buruk,” ujar Kawalo. Rommy Balado, rekan lainnya mengungkapkan, sampai saat ini mereka merasa cemas menanti kabar apakah Arie bisa selamat atau tidak. Menurut Balado, sosok Arie sangat dekat dengan warga di perumahan Tumatowa. “Arie memiliki sifat yang humoris dan senang bergaul.
Kami sangat berharap Arie bisa ditemukan dalam kondisi selamat. Kami akan terus berdoa agar ada mukjizat dari Tuhan,” ungkap Balado. Jemmy Sondakh, paman Arie menceritakan sebelum kejadian naas tersebut, Arie sempat pulang Selasa (26/2) malam.
Seperti biasa, korban sempat berkumpul dengan rekan-rekannya. Selanjutnya pada Rabu siang Arie memasak menu ikan asin. Saat itu memang sedikit aneh karena Arie memasak dalam jumlah yang cukup banyak. “Bukan hanya teman-teman, tetangga pun diundang,” ungkap Sondakh. Videl juga mengisahkan tanda-tanda lain yang ditunjukkan Arie sebelum kejadian.
Yakni, Rabu sore sekira pukul 17.00 Wita saat dia dan Arie tiba di lokasi tambang, Arie memaksanya untuk melihat lubang yang akan dimasukinya. “Saat ini saya menerima ajakan Arie dan naik ke lokasi tambang. Saat berada di pinggir lubang, Arie menunjukkan lubang dengan kedalaman kurang lebih 20 meter yang akan dimasukinya.
Siapa sangka lubang itu akan merubah segalanya,” ujar Videl, sedih. Minggu (3/3) malam sekitar pukul 21.30 Wita, kediaman Arie ramai dikunjungi sabahat dan tetangga. Namun mereka belum mendirikan bangsal karena mereka masih berharap ada mukjizat.
Sedangkan di kediaman Brian Telew di Desa Pinabetengan Selatan Jaga 2, wartawan ini disambut keluarga besar Telew-Singal. Lili Singal, ibunda Brian, dan anak Brian Gledis Telew yang Sabtu (9/3) ini akan merayakan HUT ke-1, terus setia menunggu berita terbaru dari salah satu stasiun TV swasta.
“Saat pergi ke lokasi tambang pada Senin minggu lalu, tidak ada tandatanda keanehan yang ditunjukkan Brian. Terus terang kami cukup terkejut ketika mendengar kabar bahwa Brian mengalami musibah longsor di lokasi. Kami berharap ada mukjizat dan anak kami bisa ditemukan masih hidup,” ujar Lili.
Lanjutnya, sebagai orang tua dia terus memanjatkan doa agar anak laki-lakinya yang baru satu tahun menikah ini bisa ditemukan dalam keadaan hidup. “Saya percaya Tuhan selalu beracara.
Mungkin bagi manusia mustahil, namun tidak bagi Tuhan,” ujar Lili, dengan air mata terus membasahi pipinya. Di lokasi, tampak Kapolres Minut AKBP Hari Sarwono didampingi Kapolsek Dimembe AKP Rustam Antuke ikut memantau proses pencarian, Minggu tadi malam.
“Teknik penggalian dengan excavator agak lain, mungkin sebaiknnya dirubah,” kata Sarwono. Tampak pula personil Dekab Minut Hendry Walukow. Rustam Antuke mengatakan pencarian menemui kendala, makanya digunakan alat berat. “Pencarian sudah sampai di kedalaman 40 meter, tapi sudah dihalangi batu besar,” ungkap Antuke.
“Diperkirakan korban tertimbun di kedalaman 80 meter. Itu yang membuat dua korban masih sulit ditemukan,” lanjutnya. Tim pencarian korban terdiri dari Polsek Dimembe, TNI, SAR dan masyarakat setempat. (*)