
Ideal Jadi Bahasa Pengantar
BAHASA Indonesia menjadi kunci pengajaran ku rikulum 2013. Sebab, bahasa nasional ini diakui di sejumlah penelitian merupakan bahasa pengantar paling mudah dipakai sebagai bahasa pengajaran.
Mengapa? Penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di sekolah dinilai lebih unggul dibandingkan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya.
Bahasa Indonesia adalah bahasa yang konsisten. Struktur penulisannya sangat jelas dan logis. Pendapat ini dikemukakan psikolog sekaligus pemerhati pendidikan dari Belanda Annie Makkink pa da kunjungannya ke Kemendikbud, Jakarta, akhir bulan lalu.
Dia mengatakan, banyak kata yang dibentuk dalam bahasa Indonesia berasal dari sebuah kata dasar, yang diberi awalan atau akhiran. Jika seseorang telah mengenal beberapa kata dasar, urainya, maka sudah dapat berkomunikasi dalam bahasa Indonesia.
’’Penulisan dalam bahasa Indonesia mempunyai struktur sangat jelas. Setiap huruf mempunyai bunyi tersendiri. Apa yang ditulis itulah yang diucapkan,’’ kata lulusan jurusan psikologi dari Universitas Groningen Belanda ini Annie mencontohkan, penulisan huruf b u k u akan diucapkan seperti yang tertulis b/u k/u. Hal ini berbeda dengan bahasa Inggris.
Bahasanya tidak konsisten karena tidak ada hubungan murni antara huruf dan suara atau bunyi. ’’Karena itu, tidak mudah untuk mengucapkan apa yang tertulis,’’ katanya. Dia mencontohkan, sejumlah kata yang berakhiran ’’ough” seperti bough, cough, rough, though, dan through, jika diucapkan akan terdengar seperti cow, off, puff, no, dan too.
Annie melanjutkan, keunggulan bahasa Indonesia juga dapat dilihat saat digunakan sebagai bahasa pengantar pada mata pelajaran matematika. Misalnya, untuk menjelaskan perkalian dalam matematika anak cukup mengetahui kata dasar ’’kali’’.
’’Kata ini juga mudah terdengar jika diberikan imbuhan menjadi ’beberapa kali’ atau ‘berkali- kali’,’’ terang Annie. Di sisi lain, bahasa Inggris lebih sulit digunakan. Untuk menjelaskan ungkapan ’’tiga kali empat” yaitu dengan menyebutkan ’’three times four’’.
Guru juga harus menjelaskan bahwa itu perkalian atau multiplication. ’’Kata-kata dan bunyinya berbeda,’’ katanya. Itu sebabnya, dia melihat penggunaan bahasa Indonesia sebagai media berpikir logis yang hendak diimplementasikan dalam kurikulum baru menjadi ideal.
Di tempat terpisah, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud Mahsun yang didaulat menyusun tata bahasa dalam seluruh materi kurikulum 2013 menemukan sebuah persoalan mendasar yang selama ini membuat pelajar Indonesia kurang mampu berpikir logis dan sistematis.
’’Kuncinya ada pada fungsi bahasa Indonesia dalam kurikulum-kurikulum terdahulu. Bahasa selama ini hanya menjadi jembatan komunikasi semata, tanpa dieksplor menjadi sarana berpikir yang logis dan sistematis,’’ paparnya ketika ditemui INDOPOS, belum lama ini di Gedung C, Kemendikbud, Jakarta.
Contoh konkretnya, selama ini, pelajar Indonesia dari tingkat SD-SMA menggunakan bahasa Indonesia berbasis teks. ’’Padahal untuk menjadikan bahasa sebagai sarana berpikir, satuan makna, pikiran, gagasan, pesan, atau konsep secara utuh, hanya bisa ditemukan dalam teks yang berwujud teks tulis maupun lisan,’’ terangnya panjang lebar.
Selama ini, pelajar Indonesia hanya dikenalkan pada satuan paragraf. Misalnya, diminta mencari pengembangan dari kalimat utama dalam paragraf itu. Padahal, sambung dia, di Singapura misalnya, pembelajaran teksnya adalah teks prosedural.
’’Teks deskriptif berbeda dengan teks prosedural. Teks prosedural memiliki tujuan, bahan, urutan tahapan pelaksanaan, pengamatan, lalu kesimpulan. Inilah yang kami kembangkan dalam kurikulum baru,’’ ucapnya. Teks prosedural akan tercermin dalam setiap buku yang dibuat per tema mencakup pelajaran IPA, IPS, matematika, dan PPKn.
Guru Besar Universitas Mataram itu cukup optimis menjadikan bahasa sebagai kunci pengajaran kurikulum 2013, karena bahasa Indonesia diakui di sejumlah penelitian merupakan bahasa pengantar yang paling mudah dipakai sebagai bahasa pengajaran.
Sementara itu, sedikitnya 712 guru wali kelas dan mata pelajaran sudah tercatat di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sebagai peserta pelatihan teknik mengajar dalam kurikulum 2013. Untuk itu, Kemendikbud siap merekrut 40 ribu guru inti yang akan memberikan pelatihan kepada guru-guru wali kelas dan mata pelajaran tersebut.
’’Guru-guru inti pun, akan dilatih dulu oleh para instruktur nasional. Kami sudah siapkan sebanyak 666 instruktur nasional yang terdiri dari para dosen, widya iswara dan guru teladan yang memiliki catatan prestasi tingkat nasional,’’ kata Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidik (BPSDMPPMP) Kemendikbud Syawal Gultom, dalam wawancara dengan sejumlah wartawan, belum lama ini.
Dikatakan Syawal, menjelang penerapan kurikulum 2013, pelatihan guru benar-benar dibutuhkan. ’’Saya yakin semua guru memiliki kemampuan mengajar sesuai tuntutan kurikulum 2013. Tetapi kita tetap harus membangkitkan motivasi para guru,’’ lanjutnya. Tahapan pelatihan kurikulum 2013 akan dimulai bulan April bagi instruktur nasional, Mei bagi guru inti dan pada Juni bagi guru kelas dan mata pelajaran.
Pelatihan dilakukan selama 5 hari berturut- turut atau setara dengan 52 jam. Syawal mengingatkan bahwa pelatihan intinya adalah memperbaiki kompetensi guru. Dengan kata kunci bagaimana guru bisa mengubah sikap, keterampilan dan pengetahuan siswa selama proses pembelajaran. Selain itu, pelatihan bagi para kepala sekolah dan pengawas juga akan diberikan.
Bagi kepala sekolah, selain mengikuti materi seperti para guru kelas dan mata pelajaran, akan menerima pula materi manajemen perubahan. Demikian pula pengawas, akan mendapatkan pelatihan tersendiri, supaya nanti dapat memberikan pendampingan bagi guru-guru kelas dalam mengajar kurikulum baru. (sic)