Wafid, Tersangka Suap, Mengaku Bertemu Empat Mata
JAKARTA-Sedikit demi sedikit keterkaitan Bendahara Umum (Bendum) Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin dengan kasus penyuapan Seskemenpora Wafid Muharam semakin terkuak. Kemarin (10/5) terungkap bahwa Wafid mengaku pernah bertemu empat mata dengan Nazaruddin. Wafid kemarin kembali menjalani pemeriksaan di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Diperiksa lebih dari lima jam, wajahnya tampak kuyu saat meninggalkan gedung KPK pukul 15.30. Dia hanya tersenyum saat ditanya wartawan tentang keterlibatan politisi Partai Demokrat dalam kasus tersebut. Wafid hanya menganggut-anggut lalu dengan cekatan masuk ke mobil tahanan saat wartawan berteriak-teriak melontarkan pertanyaan. Erman Umar, kuasa hukum Wafid yang saat itu mendampingi kliennya, membenarkan bahwa Sesmenpora pernah berhubungan langsung dengan politisi Partai Demokrat. Bahkan dengan Bendum Partai Demokrat M. Nazaruddin yang selama ini disebut-sebut berada di bekalang kasus itu pun, Erman membenarkan. ’’Pak Wafid memang pernah bertemu Nazaruddin,’’ ucapnya saat ditemui kemarin.
Menurut Erman, pengakuan tersebut langsung diungkapkan Wafid kepada dirinya. Dia menyatakan, pertemuan tersebut terjadi tahun lalu di ruangan Wafid. Yakni, di lantai tiga gedung Kemenpora. Kepada pengacaranya, Wafid mengungkapkan bahwa pertemuan itu dilakukan empat mata, tanpa ada pihak lain yang hadir dalam pertemuan tersebut. Selain itu, pertemuan tersebut dilakukan tanpa sepengetahuan Menpora Andi Mallarangeng. Namun, saat dicecar apakah pertemuan tersebut membicarakan proyek pembangunan wisma atlet SEA Games Palembang, Erman tidak banyak berkomentar ’’Kata Pak Wafid, menemui tamu itu sudah biasa. Dia memang sering menerima tamu di ruangannya,’’ katanya. Memang, berdasar informasi yang diperoleh koran ini, Nazaruddin beberapa kali menemui Wafid untuk membicarakan proyek pembangunan wisma atlet. Saat itu dia didampingi Mindo Rosalina Manulang yang tak lain adalah anak buahnya yang juga tertangkap tangan KPK dalam kasus tersebut. Bahkan dua minggu lalu saat masih menggunakan jasa kuasa hukum Kamaruddin Simanjuntak, Rosalina mengakui bahwa Nazaruddin adalah atasannya di PT Anak Negeri yang banyak berkecimpung sebagai broker.
Namun, Rabu silam (27/ 4), tiba-tiba dia memberhentikan Kamarudin sebagai kuasa hukumnya. Ditengarai, Kamarudin dipecat lantaran sering mengungkapkan bahwa Nazaruddin adalah atasan Rosalina. Setelah memecat Kamarudin, perempuan 36 tahun tersebut langsung menggunakan jasa pengacara Djufri Taufik. Namun, setelah berganti pengacara, pengakuan Rosalina langsung berubah. Dia menegaskan bahwa dirinya bukan anak buah Nazaruddin. Sebagaimana diketahui, Kamis lalu (21/ 4), KPK menangkap tiga orang yang diduga melakukan praktik suap-menyuap dalam proyek pembangunan wisma atlet. Selain Wafid dan Rosalina, lembaga antikorupsi itu menangkap Mohammad El Idris, direktur PT Duta Graha Indah (DGI). Saat ditangkap, Idris baru saja memberikan tiga lembar cek senilai Rp 3,2 miliar. ’’Itu (cek Rp 3,2 miliar) memang uang komisi untuk Pak Wafid,’’ ungkap salah satu orang dekat Rosalina saat dihubungi INDOPOS tadi malam. Komisi yang dimaksud itu adalah komisi lantaran Wafid telah campur tangan memenangkan PT DGI dalam tender pembangunan wisma atlet yang menelan biaya sekitar Rp 200 miliar tersebut. Pria yang tidak mau namanya disebutkan itu juga membenarkan bahwa Rosalina diperintah Nazaruddin untuk menjadi penghubung antara Idris dan Wafid. ’’Pokoknya itu semua memang benar.
Si Rosa itu anak buah Nazaruddin yang diperintah menempel Wafid,’’ ucapnya lalu buru-buru menutup telepon. Erman Umar menegaskan, kemarin Wafid menjawab sekitar sepuluh pertanyaan dari para penyidik KPK. Dia menyatakan, penyidik hanya menanyakan seputar hartaharta yang dimiliki Wafid. ’’Pak Wafid belum ditanya seputar keterlibatan politisi itu,’’ ujarnya. Di bagian lain, Emerson Juntho, wakil koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW), mendesak Partai Demokrat segera mengambil langkah. Sebab, salah seorang kadernya disebut-sebut menjadi dalang kasus suap Sesmenpora itu. Saat ditemui di gedung KPK, pria yang akrab disapa Econ tersebut meminta Partai Demokrat tidak menutup-nutupi keterlibatan kadernya itu. ’’Apalagi sampai menghalang-halangi KPK,’’ tegasnya. Selain itu, dia mendesak partai berlambang Mercy tersebut melakukan pemeriksaan internal terhadap kadernya yang disebutsebut terlibat. Jadi, tidak hanya menunggu hasil KPK. Nah, langkah-langkah yang bisa dilakukan partai adalah memeriksa dokumen- dokumen milik kader yang diduga terlibat itu. ’’Kalau hanya berdasar pengakuan, dia pasti tidak akan mengaku,’’ ucapnya. Di bagian lain, Bendahara Umum DPP Partai Demokrat M. Nazaruddin dituntut siap memberikan klarifikasi kepada dua pihak sekaligus.
Selain tentu harus siap kapan saja dipanggil KPK, sebagai kader partai, dia dituntut segera memberikan klarifikasi ke internal partai. Atas hal tersebut Nazaruddin menganggapnya sebagai hal biasa. ’’Sejak awal (kasus muncul) saya kan terus menyampaikan berhubungan dengan rekan-rekan separtai, terutama senior-senior,’’ ujarnya seusai mengadakan konferensi pers di ruang fraksi, kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, kemarin. Sementara itu, terkait dengan persoalannya, dia menilai ujung pangkal kasus suap yang juga membelit dirinya tersebut tidak jelas hingga kini. Semua, kata dia, hanya didasarkan pada ungkapan ’’katanya’’. ’’Seharusnya jangan terus katanya, katanya. Biarlah fakta hukum yang berbicara. Sebab, kasihan orang yang dikatanya, katanya itu,’’ ujarnya. (kuh/dyn/c5/kum)
| < Prev | Next > |
|---|