Siap Siaga 24 Jam, Tarif Rp 2.000 Per Kilometer
Argometer tak hanya dipasang pada taksi. Di Jogja, sudah ada ojek yang tarifnya ditentukan oleh argometer. Karena itu baru pertama di Indonesia, Muri (Museum Rekor- Dunia Indonesia) pun memberikan penghargaan pada Mei lalu. Belum setahun beroperasi, pelanggan ojek itu sudah mencapai belasan ribu. DIAR CANDRA, Jogja
SEBUAH motor berwarna kombinasi kuninghitam siang itu meluncur dengan kecepatan sedang di kawasan Sekip, Sleman. Sang joki motor mengenakan jaket kombinasi serupa (kuning-hitam). Sedangkan yang dibonceng adalah perempuan muda berpakaian kasual. Tak berapa lama kemudian motor tersebut berhenti di depan perpustakaan kampus Universitas Gadjah Mada (UGM). ”Berapa, Mas?’’ tanya penumpang motor tersebut.
Sebelum menjawab, si joki melihat ke kotak kecil yang dipasang di antara stang dan jok motornya. ’’Empat ribu lima ratus rupiah,’’’ jawab pria berjaket itu. Tak lama, transaksi pembayaran selesai, dan si joki motor meninggalkan penumpangnya. Itulah gambaran bagaimana ojek berargometer beroperasi di Jogja. Ojek berargometer tersebut diberi nama O’Jack. Itulah taksi motor pertama di Indonesia yang menggunakan sis-tem argometer dalam pembayarannya. Mei lalu Museum Rekor-Dunia Indonesia (Muri) memberikan penghargaan. ’’Ini adalah bagian dari terobosan yang bisa saya sumbangkan untuk transportasi Indonesia. Khususnya ojek,’’ kata sang pemilik O’Jack Nanang Kuswoyo. Tarif yang dipatok untuk pengguna O’Jack adalah Rp 2 per meter.
Itu berarti pelanggan yang menggunakan jasa ojek sejauh satu kilometer akan dipungut biaya Rp 2.000. Meski belum setahun beroperasi (kali pertama beroperasi sekitar November 2010), O’Jack sudah memiliki banyak pelanggan hingga belasan ribu orang. Pada Mei lalu saja, ojek yang berkantor di Jalan dr Sardjito No 11, Jogja, itu melayani dua ribu pelanggan. Dengan adanya layanan call center dan nomor yang mudah diingat konsumen, tak mengherangkan jika jumlah panggilan terus meningkat pada Juni ini. Jumlah armada O’Jack saat ini 12 kendaraan. Semua siap melayani pelanggan 24 jam. Untuk memudahkan mengenali identitas armada O’Jack, perusahaan memberikan jaket dan hem bertulisan O’Jack. O’Jack tidak hanya melayani jasa antar jemput orang, tetapi juga menerima pesanan jasa pengantaran dan pembelian barang untuk wilayah dalam Kota Jogja.
Selain tiga layanan tersebut, O’Jack menyediakan paket kantor, sekolah, dan wisata. Soal harga, program paket itu dibanderol harga khusus. Tarifnya tidak harus sesuai dengan kilometer yang ditempuh. Misalnya, untuk paket sekolah, konsumen dikenakan Rp 199 ribu untuk layanan antar jemput selama enam hari. Karena bisnis itu menjanjikan, Nanang mengaku mendapat tawaran dari beberapa koleganya untuk membuka franchise O’Jack. Beberapa rekanan bisnisnya asal Kota Bandung, Semarang, Surabaya, dan Denpasar meminta pria asal Jombang itu segera mengembangkan nama O’Jack di daerah-daerah tersebut. ”Saya belum bisa memberikan jawaban kepada mereka. Sebab, O’Jack di Jogja ini saya anggap proyek’trial and error dulu,’’ kata Nanang. Alumnus Universitas Brawijaya, Malang, itu berencana mematangkan dulu beberapa aspek internal O’Jack sebelum merilisnya menjadi usaha waralaba. (c4/kum)
| < Prev | Next > |
|---|