Genjot Konektivitas Pembangunan Indonesia Timur

JAKARTA - Pemerintah menyatakan komitmennya membangun pengembangan konektivitas khususnya, bagian timur Indonesia, yakni di koridor lima dan enam mencakup Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Barat, dan sebagian Nusa Tenggara Timur. Hanya, disadari pembangunan konektivitas antarpulau tersebut memakan waktu yang cukup panjang.

Berita Lainnya

Untuk itu pemerintah mengalokasikan sebagian besar sisa anggaran lebih (SAL) sekitar Rp 30 triliun untuk program ini. ’’Ya memang konektivitas itu bukan sesuatu yang langsung begitu saja. Memerlukan waktu yang cukup panjang. Akan tetapi SAL saja yang pada 2011 semuanya sekitar Rp 30 triliun, kita alokasikan semua untuk infrastruktur, untuk konektivitas,’’ kata Menko Perekonomian Hatta Rajasa di Jakarta kemarin.

Selain wilayah itu, fokus lainnya adalah daerah-daerah pelabuhan yang mengalami kondisi kurang baik selama ini, seperti daerah Dumai. ’’Dan modernisasi dari pelabuhan-pelabuhan utama mulai dari Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, Dumai, dan Belawan. Semua itu kita rasakan daerah-daerah yang menjadi bottleneck. Ya itu MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia, Red),’’ jelas dia.

SAL itu juga dialokasikan guna mempercepat konektivitas antarpulau. Akan tetapi tidak semua dana SAL bisa dipakai. Sebab, sekitar 20 persen dari SAL harus masuk ke pendidikan. Jadi hanya sekitar Rp 24 triliun yang bisa dipakai untuk pembangunan infrastruktur dan konektivitas. Dijelaskan, untuk perusahaan Badan Usaha Milik Negara seperti Pelindo pun bakal turut berperan serta.

Seperti melakukan modernisasi pelabuhan-pelabuhan utama dengan menggunakan pendanaan dalam negeri. Sedangkan, pengembangan pelabuhan yang dikelola unit-unit perhubungan itu didukung oleh SAL.’’Sudah diidentifikasi semua,’’ terangnya. (lum)


free counters



Pasangan Gubernur DKI Manakah Yang Anda Akan Pilih ?