JAKARTA - Pengetahuan dan pemahaman masyarakat akan obat generik masih minim. Latar belakang pendidikan dan akurasi info yang kurang pas tampaknya menjadi salah satu persoalan utama. Parahnya, missinformasi yang mengakar kuat tersebut menempatkan obat generik sebagai obat murahan.
”Soal obat generik itu perlu edukasi secara kolektif. Bagaimanapun fakta yang tersaji tidak bisa diartikan sebagai kesalahan pada satu titik,” tutur Djakfarudin Junus, Direktur Utama, PT Indofarma Tbk (INAF), di Jakarta, Selasa (21/2).
Berdasar data Indofarma, saat ini pengguna obat generik masih di bawah dua digit. Masyarakat yang secara teratur memakai jasa obat generik melawan penyakit baru sekitar 8 persen secara nasional. Kondisi ini sejatinya menyimpan peluang luar biasa.
Apalagi, pada 2014 bakal diberlakukan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). ”Kualitas obat generik tidak kalah dengan obat bermerk. Ya, karena sudah tertanam persepsi keliru masyarakat jadi ogah memakai jasa obat generik,” tukasnya. Selain itu, sambung Djakfarudin, rendahnya harga obat generik tidak ada hubungannya dengan kualitas.
Harga yang dipatok pada obat generik justru merupakan upaya pemerintah supaya seluruh masyarakat bisa mengakses obat berkualitas dengan harga terjangkau. ”Obat generik bisa murah karena tidak ada faktor biaya promosi, kemasan, rantai marketing yang panjang dan lain-lain,” katanya. Menilik peluang di atas manajemen telah menyiapkan sejumlah langkah.
Dalam kalkulasi manajemen permintaan obat generik akan tetap meningkat. Masyarakat perlahan namun pasti mulai memahami peran dan fungsi obat generik. Karena itu, opsi menambah kapasitas produksi tidak bisa ditunda. ”Kami telah menyiapkan dana segar senilai Rp 100 miliar guna melipatkan produksi,” ucapnya. Kapasitas produksi saat ini baru berada dikisaran 2,3 miliar tablet.
Dengan peremajaan mesin-mesin yang ada kapasitas produksi akan meningkat ke posisi 5 miliar tablet per tahun. Dan, penambahan kapasitas produksi obat generik menyusul 80 persen penjualan perseroan disokong sektor bisnis tersebut.
Dengan skema itu, perseroan optimistis merealisasikan penjualan Rp 1,4 triliun sepanjang 2012. Target itu sempat dipancang pada edisi sebelumnya. Tetapi, kala itu proyeksi itu sedikit meleset setelah hanya meraih penjualan sebesar Rp Rp 1,2 triliun. Melesetnya target itu menyusul fokus perusahaan tercurah pada produk bermargin tinggi macam tender dari swasta. (far)
| < Prev | Next > |
|---|