Menapaki Bukit Penuh Kilau di Wilayah Eksplorasi Freeport Indonesia di Bumi Papua (2)

Bedanya Ulat Bulu Jawa dan Malaria Papua

Berita Lainnya

Ketika monster ulat bulu jenis arctornis submarginata menakutnakuti warga Probolinggo, Jatim, lalu menyebar ke Jateng, DIY, Jabar, Bali, sampai Bogor dan Bekasi, publik sempat galau. Ini teror apa lagi? Apa perlu densus anti-ulat bulu? Atau dibutuhkan tim Gegana, penjinak ulat? Ada baiknya belajar, sekalipun harus ke Negeri Papua!

DALAM sebuah diskusi kecil di Hotel Rimba Papua, saya sempat gambarkan betapa risaunya orang Jakarta dengan ulat-ulat berbulu itu?Meskipun jalannya tidak secepat ular, tapi penyebarannya begitu gesit. Dari ujung timur Jawa, tiba-tiba sudah terbang mengepung ibu kota. Baru mendengar cerita dan foto-foto ulat berbulu saja sudah membuat bulu kuduk merinding.

Orang sudah ngeri bercampur jijik. Sampai-sampai ada yang berpikir, ’’Jangan-jangan ini pertanda kiamat sudah dekat? Tandanya banyak makhluk aneh-aneh?’’ Orang Papua pun ngakak mendengarkan kegelisahan semacam itu. Setidaknya Kerry Yarangga, Section Head Dept Kesehatan Masyarakat dan Pengendalian Malaria, PT Freeport yang jebolan Unhas Makassar itu. Dia membandingkan bagaimana warga Papua harus ’’bersahabat’’ dengan musuh dalam selimut-nya, yakni nyamuk Anopheles dan Aedes Aegypty! Kedua nyamuk itu terus bermutasi, dan makin cepat.

Pil Kina yang pernah diajarkan nenek moyang sebagai penangkal malaria, itu sudah terlalu usang dan tidak mempan. Jika kita minum Pil Kina, giliran nyamuk-nyamuk era Blacberry di sana yang menertawakan: ’’Hari gini masih Pil Kuno? Update dong! Plis deh!’’ Dirut JPNN, Rida K Liamsi, yang ikut rombongan pun dibuat trauma Ke manapun, chairman Riau Pos Group ini selalu mengoleskan cairan anti nyamuk di permukaan kulit yang terbuka. Kalau tidak, ya berjaket tebal, yang tak tembus moncong mulut nyamuk. ’’Di Papua, diserang malaria itu seperti flu di Jawa. Biasa, tidak perlu kaget!’’ ucap Dokter Theodorus, kepala UGD RS Mitra Masyarakat, rumah sakit yang merupakan perwujudan CSR PT Freeport Indonesia di Timika. Tupono, Pemred Radar Sorong menambahkan.

’’Nyamuk Anopheles –penyebab malaria itu— paling hobi pada mereka yang berpakaian hitam-hitam!’’ ujarnya. Aha, saya anggap itu gurauan, karena saya pakai hitamhitam. Saya jawab: ’’Pakai hitam? Siapa takut?’’ seperti iklannya shampo antiketombe saja. Rupanya, perbicangan itu semakin membuat sebagian dari perwakilan Forum Pemred JPNN semakin ”tegang” dan waswas. Kerry Yarangga menyebut, predator tidak boleh dimatikan fungsi dan perannya dalam ekosistem. Nyamuk misalnya, pihaknya menanam jenis ikan kepala timah, ikan yang menyantap jentik- jentik di rawa-rawa.

Sistem drainase juga diperbaiki, agar air tidak tergenang lama. Hama ular, yang sering kali menjadi pembunuh manusia, juga dipelihara burung-burung pemangsanya. Istilahnya, cara alami untuk menjaga ekosistem dengan model parasitoida dan predator sebagai pembatas populasi. Itu sudah dilakukan bertahun-tahun dan dibuat pilot project sebuah kota baru, bernama Kuala Kencana. Kota yang di desain mirip kotakota kecil di Amerika saja. Ada kearifan lokal (local wisdom), ada terpaan teknologi, dan antisipasi modernitas. Semua menyatu dalam lingkungan yang asri, khas hutan tropis di daratan Papua.

Hari Malaria saja, 24 April lalu diperingati secara khusus. Masih banyak endemi malaria di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan termasuk Jawa. Sementara tidak banyak rumah sakit – sekalipun internasional—di Jawa yang up date dengan malaria terbaru. Ketika panas tinggi, sampai 42 derajat Celcius, diperiksa darah, dokter sering terkecoh dengan demam berdarah atau tifus. Karena itu sering ada pertanyaan, dalam tiga hari terakhir, apakah ada perjalanan ke Papua? Untuk memastikan dia dihisap oleh sejenis vampir anopheles apa tidak? Ada baiknya, pengembangan kota-kota baru, kawasan pemekaran, new development, itu belajar di Kuala Kencana Timika.

Semampang belum terlambat, untuk memberikan gambaran konsep kota masa depan yang pro lingkungan. Jalannya lebar, ada bike track, ada jogging track, ada saluran air besar, jaringan listrik bawah tanah, dan hutan kota yang dibiarkan bebas ditumbuhi aneka ragam kehidupan hayati. Ada alun-alun pusat kota, ruang terbuka hijau, tempat main anakanak dan keluarga. Ada pusat perbelanjaan, perkantoran, perumahan dan restoran. Konsep green city, itu tidak hanya selesai di konsep dan materi promo. Tetapi terimplementasi dengan disiplin di sana.

Bahkan, masuk ke kompleks itu harus menggunakan Driving License (semacam SIM, red) sendiri, selain SIM yang dibuat Polres-Poltabes. Di lingkungan pemukiman, maksimal speed 40 kilometer per jam. Di kompleks perkantoran hanya 25 km per jam. Sedang di jalur bebas, kecepatan dibatasi hanya 60 km per jam. Bagaimana kalau melanggar? ”Pertama, kami kena denda Rp 400 ribu. Lalu, kalau melanggar lagi, disuruh refresh, ujian lagi, tertulis dan praktik. Dan beberapa hari mobilnya ditempel tulisan ’belajarlatihan.’ Kalau pelanggaran berat, satu divisi di lingkungan kerjanya, dikenai sanksi. Tidak terima bonus semua!” aku Ramdani Sirait, juru bicara PT Freeport Indonesia yang didampingi stafnya, Branco. Ramdani menambahkan, di wilayah Tembagapura ada aturan lagi dalam traffict management, yang berbeda dengan Timika.

Pegawai yang mengendarai mobil harus memiliki lisensi pengendara baru. Batas kecepatan dikendalikan oleh sensor-sensor di beberapa ruas jalan. ”Karena lahannya berbeda, banyak tanjakan dan kondisi jalan tidak diaspal sempurna,” jelas pria berkacamata yang hobi tenis lapangan ini. Saat melihat foto-foto di google, saya sempat membayangkan, seandainya bawa MTB (mountain bike) ke sana bersama kawan-kawan. Lalu naik sampai ke grasberg dan ertsberg, dengan kereta gantung dan bus.

Nah, menyusuri jalur melingkar di bibir mangkuk areal pertambangan itu tentu akan menjadi peristiwa yang amat sensasional. Seperti velodrome alam yang tak ada duanya di dunia. Berputar-putar di atas tumpukan mineral termahal yang pernah ada! Tapi, jangankan di grasberg dan ertsberg? Di Tembagapura saja, saya tak pernah melihat motor roda dua! Jalur dengan kemiringan 50-60 derajat itu memang tak terlalu bersahabat dengan biker.

Di kawasan industri seperti freeport, safety first menjadi prinsip yang amat penting. Maka, jangan heran, kalau di kawasan khusus itu hampir tidak pernah terjadi kecelakaan lalulintas! Manajemen sampah di Tembagapura dan Kuala Kencana juga bisa dijadikan contoh. Mengapa partisipasi publik begitu sempurna? Buang sampah di tempatnya, santun di jalan, menghormati orang lain, dan nilai-nilai positif lain.

Mengapa ketaatan mereka seperti tumbuh dari dalam diri!? Bukan terpaksa atau dipaksa oleh kekuatan eksternal? Freeport telah melakukan transfer budaya publik yang tertib, sehat, disiplin, saling menghormati, dan bersikap positif. Sebuah peradaban yang tidak gampang dibangun oleh pemda dan pemerintah pusat di negeri ini. Nah, mengapa kota-kota di Indonesia Timur-Tengah tidak mau berkaca ke sana? Mengapa harus belajar jauh-jauh ke Negeri China? Atau studi banding ke kota yang jauh dan mahal? Memang, ”Gajah di pelupuk mata kadang tak tampak, semut di seberang lautan begitu jelas”. (Bersambung)


free counters



Pasangan Gubernur DKI Manakah Yang Anda Akan Pilih ?