Atasi Para Perambah Masuk ke Habitat Badak
JAKARTA – Ketika baru diangkat sebagai menteri kehutanan, Zulkifli Hasan menetapkan beberapa kebijakan prioritas seperti penghentian menebang di kawasan hutan primer dan stop konversi hutan gambut. Kebijakan itu langsung menimbulkan reaksi dari kalangan pengusaha. Mereka memprotes penghentian izin usaha mereka. Tapi Zulkifli Hasan tetap mempertahankan kebijakannya tersebut. Dia memiliki firasat, masalah-masalah pelestarian hutan akan mendapat perhatian masyarakat luas. ’’Apa yang saya rasakan dulu, akhir-akhir ini jadi kenyataan. Lihat sekarang, banyak sekali sengketa lahan antara warga dengan perusahaan.
Bahkan perhatian masyarakat internasional terhadap pelestarian hutan kita begitu tinggi,” kata Zulkifli. Hal itu disampaikan Menteri Kehutanan ketika memberikan arahan pada ekspose hasil monitoring badak jawa dengan menggunakan video trap dan serah terima kerangka badak bercula satu tersebut dari Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) di kantor Menhut, Jakarta (29/12). Selanjutnya, kata Zulkifli, Kementerian Kehutanan juga mengeluarkan kebijakan yang memperkuat taman nasional, kawasan konservasi baik flora maupun fauna. Bahkan sebagian besar anggaran Kemenhut dihabiskan program ini.
Zulkifli mengaku prihatin karena populasi Badak Jawa yang langka di Ujung Kulon, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, hanya berjumlah 35. Berdasarkan hasil penghitungan menggunakan kamera hingga November 2011, Balai TNUK mencatat ada 35 ekor populasi badak jawa atau badak bercula satu. Jumlah tersebut terdiri atas 22 ekor badak jawa jantan, dan 13 ekor badak jawa betina. Selain itu, Balai TNUK menemukan empat ekor anak badak jawa yang terdiri atas tiga jantan dan satu betina.
Zulkifli menargetkan jumlah populasi Badak Jawa mencapai 70-80 ekor pada 2015. Dia menyatakan komitmen dan upaya bersama dibutuhkan dalam mengonservasi dan meningkatkan populasi Badak Jawa. ’’Ini tanggung jawab kita bersama. Kami di sini pun turut merasa sedih kalau mendengar kabar ada badak mati satu,’’ katanya. Dia mengakui, mengurus kawasan hutan dan menjaga konservasi flora dan fauna di dalamnya tidak mudah.
Jumlah penduduk kian banyak, dan tidak sedikit pula yang merambah hutan. Perkembangbiakan badak bercula satu yang lambat juga salah satu penyebabnya adalah perambah yang banyak masuk ke habitat badak. Tapi, Zulkifli meminta agar masalah itu tidak diselesaikan dengan kekerasan. Memberi pengertian dan membuat program pemberdayaan masyarakat sekitar jauh lebih efektif. ”Sekarang pendekatannya harus diubah. Jangan lagi dengan pagar kawat, tetapi dengan pagar mangkuk. Artinya, gunakan pendekatan kesejahteraan,’’ kata Zulkifli. (dri)
| < Prev | Next > |
|---|