
JAKARTA – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bekerja sama dengan Kedutaan Besar Indonesia, Washington DC Amerika Serikat (AS), Orangutan Foundation International (OFI), Sinar Mas, dan Eka Tjipta Foundation meluncurkan film berjudul Bord to be Wild. Film yang menceritakan konservasi orangutan di Kalimantan dengan tokoh utama Prof. Dr. Birute Mary Galdikas—wanita asal Kanada yang telah mengabdi selama 41 tahun pada kegiatan konservasi orangutan Kalimantan—ini di-launching di IMAX Theater, Keong Mas, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) semalam.
Peluncuran film ini mendapat perhatian dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang ikut nonton bareng didampingi Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, dan Duta Besar RI untuk AS Dino Patti Djalal. Film ini dibuat oleh IMAX Corporation USA, khusus untuk layar raksasa IMAX, dan saat ini diputar di berbagai teater IMAX di seluruh penjuru dunia. Film ini bersifat ringan dan jenaka tetapi sangat menyentuh dan edukatif. Narator film ini adalah Morgan Freema, aktor Hollywood yang pernah meraih Oscar pada tahun 2005.
Kali pertama, film ini diputar di Smithsonian Museum, Washington DC. Di Kalimantan film ini menampilkan sosok Birute Galdikas, yakni seorang antropolog asal Kanada yang mengabdikan hidupnya selama puluhan tahun untuk melakukan riset mengenai orangutan. Birute mendirikan proyek konservasi dan penelitian orangutan melalui program Orangutan Research and Conservation Project sejak 1971. Birute saat ini telah menjadi warga negara Indonesia, menikah dengan orang dayak dan dikaruniai tiga orang anak.
Menurut Zulkiffli Hasan, orangutan termasuk dalam jenis satwa yang dilindungi. Bahkan, primata ini hanya ada di Asia yang hidup di alam hutan tropis. Pada IUCN Red List Edisi tahun 2002 Orangutan Kalimantan dikategorikan Endangered alias langka. Kementerian Kehutanan mencatat, jumlah orangutan di Indonesia (Sumatera dan Kalimantan) diperkirakan sekitar 51.300 individu.
Nah, jumlah populasi orangutan liar terus merosot dalam beberapa dekade terakhir. Namun pada beberapa tahun terakhir ini kecepatan penurunan populasi orangutan terus meningkat. Para ahli mengatakan, jika kondisi ini terus dibiarkan, maka diperkirakan dalam 10 tahun terakhir Indonesia akan kehilangan hampir 50 persen dari jumlah populasi yang ada saat ini.
Melihat kenyataan itu, maka upaya konservasi orangutan dan habitatnya harus terus dilakukan tidak hanya oleh orang-orang yang bekerja dalam dunia konservasi saja, akan tetapi harus dilakukan dan didukung oleh semua pihak. ’’Termasuk masyarakat dan dunia usaha,’’ tegas Zulkifli. Dia mengatakan, orangutan merupakan satwa yang rentan terhadap kepunahan karena berbagai faktor.
Di antaranya, laju reproduksi yang sangat lamban, memerlukan wilayah jelajah yang sangat luas, dan sangat terbatas pada kawasan hutan dataran rendah. Sehingga, satwa ini paling terancam karena hilangnya hutan sebagai konsekuensi kegiatan pembangunan jalan, perluasan perkebunan, penebangan kayu, serta pertambangan. ’’Orangutan sangat rentan karena hidup di hutan dataran rendah yang sangat cocok untuk perkebunan, pertanian, dan pengembangan kabupaten baru,’’ katanya.
Maka untuk menekan kepunahan orangutan, upaya utama yang mesti dilakukan yakni bersama-sama menjaga keberadaan hutan yang lestari melalui prinsip sustainable forest management (SFM) sebagai habitatnya serta memberikan pemahaman kepada masyarakat luas tentang arti penting konservasi orangutan.
Tahun lalu, Kemenhut bekerja sama dengan PT Smart Tbk, OFI dan, Asia Pulp & Paper (APP) dalam program Friends Orangutan telah melepasliarkan sebanyak enam individu dari rencana 40 individu orangutan di Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Aceh yang merupakan habitat dan penyebaran orangutan.
Upaya konservasi ini sesuai dengan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan Indonesia 2007-2017 seperti tertuang dalam Peraturan Menteri Kehutanan No. 53/Menhut-IV/2007. Di dalam beleid itu disebutkan, kegiatan rehabilitasi dan reintroduksi orangutan harus dapat diselesaikan pada tahun 2015.
Upaya perlindungan dan pengamanan harus dititikberatkan pada upaya pencegahan keluarnya orangutan dari habitat alamnya akibat kegiatan ilegal, dan bukan pada upaya penegakan hukun ketika orangutan sudah berada di luar habitat alaminya.
Sementara itu, Birute Galdikas mengungkapkan, kepunahan orangutan lantaran satwa ini dianggap sebagai hama bagi tanaman kelapa sawit. Konflik hewan tersebut dengan manusia makin meruncing, khususnya di Kalimantan Timur, mereka terdesak karena habitat yang makin menyempit. Pihaknya pun gencar melakukan kampanye penyelamatan satwa satu ini.
Lewat OFI, dia menggandeng perusahaan-perusahaan perkebunan kelapa sawit untuk memberikan pelatihan bagi karyawan dalam hal konservasi orangutan. OFI memberikan bantuan teknis dalam penanganan dan rehabilitasi orangutan. Kerja sama antara OFI dan APP akan mencakup pelatihan staf APP dan para karyawan pemasok pulp dalam pengelolaan hutan yang lestari dengan penekanan pada konservasi orangutan.
Selain itu, kerjasama juga mencakup pengembangan rekomendasi bagi APP dan perusahaan pemasok kayu pulp tentang cara melestarikan satwa yang terancam punah dan dilindungi. ’’Orangutan di Kalimantan dan Sumatera cukup besar. Tapi dengan kerja sama ini saya cukup gembira, dari pada kita hanya bisa mengkritik marah, kita coba memberikan alternatif,’’ ujar Birute yang malam itu tampil anggun mengenakan kebaya warna oranye dipadu selendang batik cokelat. (lum)
| < Prev | Next > |
|---|