
Ketika Direksi PT Perusahaan Listrik Negara Bertandang ke Redaksi INDOPOS
BERBAGAI langkah efisiensi menjadi perhatian PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Langkah ini menjadi isu penting menyusul harga bahan bakar minyak (BBM) yang terus membengkak. Mau tidak mau, PLN harus beralih dan menggunakan gas dan batubara. Kemungkinan lain yang sedang dicoba adalah membangun geothermal dan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).
Kemudian efisiensi paling fenomenal yang dilakukan manajemen adalah mengedukasi masyarakat sebagai pelanggan dengan sistem prabayar. Sistem ini terbukti sangat efektif dalam meningkatkan pelayanan. Sejumlah tahapan yang biasa dijalani ketika masih menggunakan sistem pascabayar bisa dipangkas. Sebab, dengan sistem prabayar itu, pihak PLN tidak perlu membuang tenaga dengan sia-sia.
’’Ya, kalau pulsanya habis otomatis listriknya mati dengan sendirinya. Pelanggan juga tidak perlu repot-repot antre untuk bayar listrik,’’ jelas Dirut PT PLN Nur Pamudji saat berkunjung ke INDOPOS, Rabu (21/12). Dengan sistem listrik prabayar itu, dari sisi pelanggan terus meningkat. PLN sendiri tahun ini mendapat limpahan 2 juta pelanggan baru listrik prabayar.
Dan, hingga detik ini jumlah pelanggan listrik prabayar telah menyentuh angka 3,5 juta pelanggan. Angka itu hanya terpaut tipis dari total pelanggan PLN yang berjumlah 4,4 juta. Nanti, pada 2012 PLN bertekad melipatkan jumlah pelanggan listrik prabayar ke posisi di atas 5 juta pelanggan. Kalau rencana itu sesuai scenario, maka pelanggan listrik prabayar PLN bakal menempati posisi nomor wahid di dunia.
”Saat ini posisinya masih menempati nomor urut dua di dunia,” kata Nur tanpa menyebut pemuncak klasemen. PLN tentu saja terus meningkatkan interaksi dengan pelanggan. Edukasi dan sosialisasi soal listrik prabayar terus dilakukan. Termasuk untuk menambah daya yang tidak dipungut biaya. Tetapi, terus terang soal migrasi pelanggan lama dan baru untuk menjadi pelanggan listrik prabayar butuh waktu dan proses.
’’Itu memang tidak bisa sekaligus. Nanti, sejalan dengan kesadaran masyarakan dan pelanggan PLN khususnya,’’ tambah Direktur Bisnis dan Manajemen Risiko Murtaqi Syamsuddin. Lantas bagaimana dengan rekor pencurian listrik? Manajemen mengaku jejak rekam pencurian listrik terus mengalami penurunan. Kalau sebelumnya angka pencurian masih menyentuh dua digit, angka itu saat ini sudah menyusut ke level satu digit, yaitu di kisaran 9,35 persen.
Memang angka ini jauh sangat kuno bila dibanding dengan Jepang. Di negeri Matahari Terbit itu pada era 50-60-an angka pencurian listrik berada di level 4 persen. ”Ya, kalau dihitung-hitung saat ini dunia listrik kita masih berada di era 60-an negara Jepang,’’ jelasnya lagi. Namun, pihak PLN juga masih bisa menghibur diri. Katanya, situasi kelistrikan nasional kalau yang dijadikan perbandingan adalah negara-negara seperti India dan Bangladesh, posisinya masih sangat-sangat bagus.
Negara-negara itu angka pencurian listriknya masih tergolong tinggi, yaitu di sekitaran 30 persen. Oleh karena itu, guna meningkatkan dan memeratakan tingkat elektrifikasi khususnya di wilayah Indonesia bagian timur, PLN punya cara jitu dan elegan. Untuk pulau-pulau yang belum terjamah aliran listrik itu, manajemen telah memanfaatkan listrik tenaga surya dan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP).
Setidaknya hingga pengujung 2012, perusahaan pelat merah itu bakal merampungkan elektrifikasi pada 100 pulau. Pulaupulai terpencil dan nyaris tanpa penerangan itu dipastikan akan teran benderang. ’’Kami optimistis target tersebut akan terlaksana. Percayalah kami akan bekerja keras,’’ ucap Nur. (far/bersambung)
| < Prev | Next > |
|---|