Selasa, 16 Januari 2018 02:37 WIB

Headline

Soal Ketua DPR Pengganti Setnov, Bamsoet Masih Pro-Kontra

Editor:

Bambang Soesatyo

INDOPOS.CO.ID - Kemunculan Bambang Soesatyo (Bamsoet) sebagai Ketua DPR RI pengganti Setya Novanto (Setnov) justru menimbulkan pro-kontra di internal partai beringin. Pasalnya, Partai Golkar hingga saat ini belum memutuskan dan mendeklarasikan secara resmi siapa kadernya yang ditunjuk untuk memimpin lembaga legislatif tersebut. 

Politikus Partai Golkar Fadel Muhammad mengatakan, belum ada keputusan resmi soal Bamsoet ditunjuk menjadi Ketua DPR RI menggantikan Novanto. Oleh sebab itu, sambung anggota Komisi VII DPR RI itu, apa yang diungkapkan oleh Ahmadi Noor Supit, politikus Golkar hanya sebuah klaim sepihak. "Kalau itu saya kira belum. Itu kan dia bilang ada beberapa nama yang diusulkan nama senior maupun muda-muda," katanya saat dihubungi wartawan, Jumat (12/1).

Dirinya menuding Supit adalah kelompok Bamsoet, sehingga menyebut nama temannya telah dipilih menjadi Ketua DPR RI. "Cuma kan si Supit ini gengnya Bamsoet, jadi mereka mau peta konflik saja," kata Fadel.

Dia menambahkan, ada kelompok-kelompok di internal Partai Golkar yang berkubu soal pergantian Ketua DPR RI. Ini di antaranya kelompok Bamsoet, Aziz Syamsuddin hingga Zainudin Amali. "Yang muda-muda itu Agus Gumiwang, Aziz, Amali, ada Bamsoet, dan yang tua ada saya. Yang mereka minta-minta kan yang senior-senior kan saya. Jadi saya lebih hati-hati kalau berbicara," tandas Fadel.

Dia mengatakan, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto akan berkonsultasi dengan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla terkait beberapa nama calon Ketua DPR itu.

Senada dengan Ketua Dewan Pakar Partai Golkar Agung Laksono yang mengatakan, rapat pleno Fraksi Partai Golkar yang dihadiri Airlangga pada Kamis (11/1) lalu sama sekali tidak membahas posisi ketua DPR.

Agung menyatakan, informasi yang menyebut bahwa Bamsoet menjadi sosok final pengganti Novanto sama sekali belum diputuskan. DPP Partai Golkar sampai kemarin belum membahas posisi itu. ’’Jangan dibalik, fraksi adalah kepanjangan tangan DPP. Penetapan ketua DPR itu kewenangan DPP dan (penetapan ketua DPR, Red) belum dilakukan,’’ ucapnya.

Menurut Agung, saat ini belum bisa dipastikan kapan Partai Golkar mengirimkan nama baru ketua DPR pengganti Setnov kepada pimpinan DPR. Bisa saja penyerahan itu dilakukan setelah revisi UU Nomor 17/2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD dituntaskan. ’’Sampai hari ini (kemarin, Red) belum ada keputusan. Siapa pun (anggota Fraksi Partai Golkar DPR, Red) masih berpeluang,’’ ujarnya.

Agung mengungkapkan, hal yang belum dibahas di tingkat DPP adalah tata cara penetapan ketua DPR. DPP Partai Golkar harus membahas itu sebelum mengambil keputusan terkait figur. ’’Cara tentang penetapan ketua DPR bagaimana, apakah voting, diserahkan kepada ketua umum untuk memutuskan itu. Saya kira itu ranahnya DPP Golkar,’’ tegasnya.

Sebaliknya, Wakil Ketua Dewan Pakar Golkar Mahyudin justru menyebutkan, pengganti Setnov sebagai Ketua DPR RI sudah mengerucut kepada Ketua Komisi III DPR Bamsoet dari sejumlah kandidat yang beredar. "Memang nama yang ada dari Partai Golkar sendiri, Pak Bamsoet yang mungkin akan menduduki Ketua DPR RI," katanya kepada wartawan di Komplek Parlemen, Senayan, kemarin. 

Wakil Ketua MPR RI itu mengaku telah mengetahui bahwa Bamsoet bakal menjadi Ketua DPR RI sebelum ada Musyawarah Luar Biasa (Munaslub) Golkar di Jakarta. Sejumlah senior partai, termasuk Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Aburizal Bakrie diklaim juga sudah mengetahuinya. "Sampai kemarin kami di rapat pleno fraksi enggak ada yang menolak, tuh. Karena menurut yang saya tahu, termasuk Pak ARB (Aburizal Bakrie, Red) selaku ketua dewan pembina, sudah tahu nama itu. Dari awal sudah tahu semua," ujarnya. 

Menurut Mahyudin, Bamsoet memiliki kapasitas dan pengalaman yang cukup untuk menggantikan Novanto sebagai Ketua DPR RI. Meski ikut dalam keanggotaan Pansus Angket KPK, hal itu dinilai tidak menjadi masalah. "Beliau melaksanakan tugas partai. Nah, jadi enggak (masalah, Red) kaitannya dengan slogan 'Golkar Bersih', kecuali Pak Bamsoet bermasalah secara hukum dengan korupsi, maka itu bisa bertentangan," imbuhnya.  

Pengumuman dan pengajuan nama Bamsoet ke DPR RI, lanjut Mahyudin, tidak perlu menunggu hasil keputusan rapat pleno DPP Golkar. Namun, karena menganut prinsip kolektif kolegial, maka hal itu akan disampaikan terlebih dahulu dalam rapat pleno oleh Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto. "Nanti disampaikan di rapat pleno, cukup disampaikan saja saya kira," tandasnya.

Begitu pula halnya, kata Mahyudin,  dengan mengonsultasikan penunjukkan Bamsoet ke Presiden Jokowi atau Wakil Presiden Jusuf Kalla. Tidak ada rujukan aturan yang disebut harus dilakukan mengenai hal itu karena merupakan kewenangan DPR dan juga Partai Golkar. "Jadi tidak ada yang perlu dikonsultasikan. Tapi kalau ketum ingin berkonsultasi karena beliau juga masih menteri, saya kira hal-hal baik dilakukan tak tercantum dalam UU," tuturnya.

Terpisah, Wakil Ketua DPR RI Agus Hermanto menyatakan, hingga saat ini pimpinan DPR belum menerima surat dari Fraksi Golkar terkait nama Ketua DPR. Namun, ia memprediski Fraksi Golkar paling lambat akan menyerahkan nama tersebut pada akhir Januari 2018. "Kalau saya melihat trennya bisa minggu-minggu ini. Karena Golkar juga ingin ada yang sudah menduduki pimpinan di DPR," terangnya seraya menambahkan, pimpinan DPR akan langsung menggelar rapat Badan Musyawarah untuk membahas nama yang ditunjuk Fraksi Golkar, kemudian ditetapkan dan dilantik dalam sidang paripurna selanjutnya.

Sebelumnya, Partai Golkar telah memutuskan Bamsoet sebagai calon Ketua DPR RI pengganti Novanto yang telah ditahan KPK atas kasus korupsi e-KTP. Bahkan, partai berlambang beringin itupun memutuskan untuk keluar dari Pansus Hak Angket KPK yang didalamnya terdapat nama Bamboet. Ini berdasarkan hasil rapat pleno fraksi partai yang dinakhodai Airlangga Hartarto di DPR, Kamis (11/1) petang lalu. 

"Sudah fix namanya Bamsoet," ungkap Ahmadi Nur Supit, politikus Golkar usai rapat pleno Fraksi Golkar DPR di Komplek Parlemen, Senayan, Kamis (11/1).Supit mengklaim, keputusan pergantian itu sudah diambil cukup lama dan telah melalui proses sosialisasi dan klarifikasi kepada seluruh calon kandidat pengganti Setnov.

Dalam rapat pleno fraksi, kata dia, para calon lain juga telah memberikan selamat dan foto bersama. Hal itulah yang menjadi sinyal kuat bila Bamsoet telah ditunjuk menggantikan Novanto.

Supit menjelaskan, dari beberapa calon yang ada, Bamsoet dianggap memiliki kelebihan. Walaupun, nama-nama seperti Sekretaris Fraksi Golkar, Agus Gumiwang Kartasasmita, Ketua Banggar, Aziz Syamsuddin dan Ketua Komisi II DPR Zainudin Amali disebut punya kesempatan yang sama. "Bamsoet bisa berkomunikasi dengan semua partai. Lintas fraksi," aku Supit. (aen/bay)

 

Berita Terkait

Lagi-Lagi Paripurna DPR Sepi

Nasional

Lagi-Lagi Paripurna DPR Sepi

Nasional

Lagi-Lagi Paripurna DPR Sepi

Nasional