Nasional

Pembinaan Haji Inheren Kesehatan

Editor:

INDOPOS.CO.ID - Pelayanan ibadah haji yang dilakukan Kementerian Agama (Kemenag) dari tahun ke tahun selalu meningkat. Terbukti pada tahun 2016 Indeks Kepuasan Jamaah Haji (IKJH) mendapat skor 83.83. Kemudian satu tahun berselang IKJH menjadi 84.85 (2017). Ini adalah prestasi membanggakan yang ditorehkan para penyelenggara.

Tak puas dengan itu, Kemenag terus berupaya meningkat pelayanannya. Melalui KMA 39/2015 tentang Renstra Kemenag 2015-2019 menargetkan IKJH mencapai 87.90 pada 2019 mendatang.

Semangat ini membuat Kemenag pada tahun 2018 harus mempersiapkan tahapannya dengan matang. Kemenag akan melakukan langkah-langkah peningkatan pada tiga mandat UU 13/2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji yaitu Pembinaan, Pelayanan dan Perlindungan. Tiga mandat ini diterjemahkan dalam layanan dan program terarah dan berkesinambungan. Irisan mandat itu pasti melibatkan tugas dan fungsi kelembagaan negara lainnya karena itulah haji disebut dengan tugas nasional.

Pembinaan Jamaah

Jamaah haji melakukan proses ibadah haji adalah tujuan. Tujuan itu yang akan dipayungi oleh pemerintah agar ibadahnya terlaksana sesuai syariat Islam. Pemenuhan tujuan ini memerlukan tenaga manusia (pembimbing tersertifikat), tools (silabus, alat peraga, tempat membimbing) dan transferknowladge (cara membimbing). Namun ada satu faktor lagi sebagai pelengkap yaitu pengetahuan atas kesehatan dan peran serta masyarakat.

Sedangkan saat ini jumlah Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) ada 1.607 kelompok dengan jumlah Pembimbing bersertifikat 2.665 orang. Jumlah tersebut dinilai kurang, oleh karena itu Kemenag tahun ini akan menggagas Inovasi percepatan pertumbuhan angka pembimbing tersertifikasi. Di antaranya Kemenag akan melakukan sebaran varian KBIH se Indonesia melalui program pemutihan. Selain itu Bimbel juga akan dilakukan, lalu manasik berbasis visual dan meningkatkan jaminan mutu pelayanan manasik.


Inovasi ini dilakukan melalui pelaksanaan program unggulan 2018 antara lain:

1. Pengembangan Manasik.
Program unggulan pertama design lokus pada pola pengembangan materi manasik melalui pendekatan filosofi dan hikmah ibadah haji, long life learning dengan sistem bimbel.

2. Program NGAJI (Ngobrol Asik Ibadah Haji).
Program kedua, untuk program NGAJI melalui pendekatan media dan kegaiatan rutin diskusi atau ngobrol sanati membahas isu-isu aktual perhajian.

3. Pola pembayaran DAM.
Sedangkan progran ketiga, mekanisme pembayaran berpola kerjasama IDB terkait mekanisme pembayaran, distribusi dan benefit.

Pembinaan Petugas
Secara praktis, banyak orang yang kadangkala menginterpretasikan petugas merupakan kegiatan dadakan dan kegiatan arisan. Ini merupakan pemikiran yang sesat.

Proses pembentukan petugas harus dilakukan secara ilmu dan praktek di lapangan sudah didesign dini. Beberapa instrumen tersebut seperti manusia (pelatih), tools (silabus, alat peraga, tempat pelatihan) dan transferknowladge (cara melatih). Hal ini juga sama dengan bimbingan manasik. Didukung sebagai pelengkap yaitu pelayanan kesehatan. Ada proses integrasi dalam kebersamaan melayani. 

Selanjutnya untuk jumlah Petugas Kloter tahun 2017 ada 2.555 (Kemenag 1.022 dan Kemenkes 1.533). Jumlah Petugas Non Kloter dari Kemenag 480, Kemenkes 268 dan Pendukung 740 (Temus)

Untuk tahun ini akan ditambah penguatan perangkat petugas kloter yang terdiri dari Ketua Rombongan, Ketua Regu dan TPHD.

Tahun ini juga akan digagas inovasi lain, seperti Sistem rekruitmen berbasis teknologi smart, pelatih tersertifikasi, pelatihan terintegrasi tidak hanya tempat namun atas bahan dan metode, integrasi UPT sebagai Aspiran, kontrol Standar Kinerja Petugas dan Chain (menghubungkan) rantai layanan PPIH Pusat, Arab Saudi dan Embarkasi.

Kemenag meyakini, ekspektasi inovatif pada penyelenggaraan haji 2018 optimis menjadi motivasi dalam mengafirmasi peningkatan layanan haji mendatang. (*/fol)

Berita Lainnya

Banner

Facebook

Twitter