Sabtu, 17 November 2018 03:01 WIB
pmk

Hukum

Bareskrim Buka Fakta Penyidikan Kasus Pengiriman Pekerja Anak ke Malaysia

Redaktur: Ali Rahman

Wakil Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Kombes Panca Putera didampingi jajaran terkait menunjukan barang bukti saat rilis pengungkapan tindak pidana perdagangan orang di Bareskrim Polri, Jakarta, Kamis (13/9/2018). Foto: Ismail Pohan/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Direktorat Tindak Pidana Umum Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri sudah menetapkan lima tersangka dugaan pengiriman Entin Sutini, 16, sebagai tenaga kerja ilegal di Johor, Malaysia.

Kelima tersangka itu yakni, Yuliawati alias Neng Lia, Jakin Sudrajat alias Kiki, M Imronsyah alias Ican, Alfian Saputra Abdulhak alias Manado dan Tamrin.

"Saat ini kelima tersangka sudah ditahan di Rutan Bareskrim Polri," kata Wadir Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Kombes Panca Putra di kantornya, Gedung KKP, Jakarta Pusat, Kamis (13/9/2018).

Selain menahan tersangka, Bareskrim juga sudah memeriksa 11 orang saksi. "Hal itu bertujuan untuk proses pemberkasan perkara," jelasnya.

Lebih jauh, Panca juga mengungkap fakta penyidikan dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dengan korban Entin Sutini. Kejadian ini, menurutnya, berawal dari Agustus 2018. Korban semula mendapatkan informasi dari seorang temannya bernama Dewi soal adanya tawaran pekerjaan sebagai Baby Sitter di Jakarta. Dewi mendapatkan kabar itu melalui media sosial Facebook atas nama Lia.

Selanjutnya, Dewi memberitahukan kepada korban untuk berangkat ke terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur, dengan menunggu di warung dekat mesjid. "Korban selanjutnya diantar oleh ayahnya, Oden, ke terminal Sukabumi dan selanjutnya korban naik bus menuju terminal Kampung Rambutan," terang Panca.

Sesampainya di terminal Kampung Rambutan, korban langsung dijemput oleh tersangka Yuliawati dan dibawa ke tempat kost '78M' milik tersangka Jakin di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat. Di tempat itu, korban ditampung selama 3-4 hari.

Selanjutnya, masih di Agustus 2018, Jakin meminta tolong Alfian untuk membuatkan dokumen palsu berupa surat keterangan pengganti e-KTP, kartu keluarga dan akte lahir. Kemudian, 16 Agustus 2018, Jakin memberangkatkan korban ke Batam dengan menggunakan pesawat Citilink. Sampai di Batam, korban dijemput oleh Agus (belum tertangkap) dan selanjutnya dibawa ke Pelabuhan Batam untuk selanjutnya dibawa ke Kabupaten Bengkalis, Riau.

"Sampai di Kabupaten Bengkalis, korban dijemput oleh Suhardi (belum tertangkap), untuk ditampung lebih kurang selama 1 minggu," jelasnya.

Pada 20 Agustus 2018, korban dibuatkan paspor di kantor Imigrasi Kelas II Bengkalis. Kemudian, 23 Agustus 2018, korban diberangkatkan ke Muar Johor, Malaysia melalui pelabuhan Bengkalis dengan kapal feri oleh Suhardi atas perintah Tamrin.

Sesampai di Malaysia korban dijemput oleh seseorang tidak dikenal dan dipekerjakan mengurus rumah tangga dan hewan peliharaan. Selama di penampungan korban diperintahkan untuk membersihkam kotoran binatang peliharaan dengan tangan.

"Merasa tidak sanggup korban melarikan diri dan bertemu dengam orang India dan selanjutnya dikenalkan kepada orang Myanmar yang beristeri orang Indonesia, Neng Ai, dan selanjutnya ditemukan oleh petugas KBRI Malaysia," pungkasnya.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat dengan Pasal 6 UU No 21 tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang atau melakukan tindak pidana perdagangan orang dengan cara menempatkan pekerja migran Indonesia (PMI) tidak sesuai prosedur sebagaimana dimaksud dalam pasal 81 jo pasal 69 UU No 18 tahun 2017 tentang perlindungan pekerja migran Indonesia. (ydh)


TOPIK BERITA TERKAIT: #tki-di-bawah-umur #bareskrim-polri #kombes-panca-putra #trafficking 

Berita Terkait

IKLAN