Nasional

Khofifah Terima Tantangan Romy

Redaktur:
Khofifah Terima Tantangan Romy - Nasional

TAK TERIMA-Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa didampingi Wagub Emil Dardak saat mendatangi KPK beberapa waktu lalu. Foto: INDRIANTO EKA SUWARSO/ANTARA

INDOPOS.CO.ID – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diminta teliti dalam mengusut dugaan suap jual beli jabatan di lingkungan Kementerian Agama (Kemenag). Terutama dalam menyikapi pernyataan eks Ketua Umum (Ketum) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy alias Romy beberapa waktu lalu usai diperiksa penyidik KPK.

Dalam sanggahannya, Romy membantah menerima suap terkait pengisian jabatan kepala kantor wilayah (kakanwil) Kemenag Jawa Timur dan kantor kemenag Gresik. Dia mengaku hanya sebagai corong penerus aspirasi dan rekomendasi Khofifah dan Kiai Asep.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengaku siap memberikan klarifikasi jika diperlukan oleh KPK terkait dengan pengakuan Romy. Khofifah menegaskan bahwa komitmennya untuk membangun pemerintahan yang bersih dan menjaga bahwa tidak boleh ada jual beli jabatan. ”Saya rasa semua akan mendukung dan saya siap menyampaikan klarifikasi,” ucap gubernur perempuan pertama di Jatim tersebut.

Menyinggung tentang pengakuan Rommy, mantan Menteri Sosial itu mengaku kaget dan meminta wartawan untuk mengonfirmasikannya langsung kepada Romy. ”Saya juga kaget. Rekomendasi dalam bentuk apa yang saya sampaikan. Jadi, sebaiknya teman-teman bisa mengonfirmasi kepada Mas Romy,” katanya.

Ketika ditanya kedekatan dengan kepala Kanwil Kemenag Jatim Haris Hasanudin, Khofifah mengatakan bahwa dirinya tidak mengenal secara personal meski diakuinya telah mengetahui Haris adalah menantu Roziqi, mantan ketua tim suksesnya pada Pilgub Jatim 2018. ”Kalau kenal secara personal, tidak. Akan tetapi bahwa beliau pernah Kepala Kantor Kemenag Surabaya, sempat Plt Kakanwil Kemenag Jatim, dan saya pernah ketemu sekali di pengajian,” terangnya.

Selain itu, diakuinya pernah bertemu di Rekerpim setelah menjadi gubernur, serta saat dilakukan audiensi di Gedung Negara Grahadi mendiskusikan dari data yang disurvei oleh UIN Syarif Hidatullah. ”Saya minta sama-sama pemetaan, Pak Haris datang dengan tim dan saya juga menerima dengan tim,” kata orang pertama di Pemprov Jatim tersebut.

Sejauh ini, belum ada informasi apakah Romy akan mengajukan JC atau tidak. Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan pihaknya sudah menyampaikan hak-hak tersangka saat pemeriksaan perdana Romy Jumat (22/3/2019) lalu. Salah satunya menjadi JC. ”Saya kira ini standar untuk seluruh penanganan perkara,” ungkapnya.

Namun, KPK tidak mudah mengabulkan permohonan JC para tersangka. Apalagi, tersangka tersebut tidak mau mengakui perbuatannya. Sejauh ini,  Romy belum mau mengakui perbuatannya. Sehingga, sepertinya sulit mendapat JC. ”Kami pastikan kalau pengajuan JC seperti itu (tidak mengakui perbuatan, Red) akan ditolak,” tegasnya.

KPK tetap memandang informasi yang disampaikan para tersangka harus masuk dalam berita acara pemeriksaan (BAP). Sehingga, dapat ditindaklanjuti oleh penyidik yang menangani. ”Dan informasi itu jangan setengah hati,” imbuh mantan peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) tersebut.

Wakil Ketua KPK Saut Situmorang mengungkapkan, Romy mulai bersikap terbuka dalam pemeriksaan. Pengakuan sakit dan tidak bisa tidur hanya dikarenakan kaget. ”Mungkin awal-awal agak 'shock' saja kan beberapa saat mungkin kurang nafsu makan sekarang kan dia terbuka,” kata Saut.

Adapun pemeriksaan Romy dalam kapasitasnya sebagai tersangka terkait suap pengisian jabatan di lingkungan Kementerian Agama RI Tahun 2018-2019. Dalam pemeriksaan itu, KPK mengambil contoh suara dari anggota Komisi XI DPR RI tersebut.

Rommy pun mengatakan akan kooperatif menjalani pemeriksaan di KPK. ”Saya akan sangat kooperatif dan menjelaskan semua persoalan ini kepada KPK agar mereka mendapat perspektif yang terang dan tidak ada yang ditutupi dan mereka juga akan permudah untuk segera menyelesaikan pemberkasan kasus,” kata dia di gedung KPK, Jakarta, Jumat (22/3/2019).

Namun, Romy masih bersikukuh bahwa dirinya tidak terlibat dalam suap pengisian jabatan di Kemenag. Ia mengaku hanya meneruskan aspirasi dari berbagai pihak soal pengisian jabatan itu. ”Saya prihatin terhadap berita yang berkembang seolah ada jual beli jabatan. Jadi saya katakan bahwa itu tidak sama sekali bisa dibenarkan karena memang yang saya lakukan adalah meneruskan aspirasi sebagai anggota DPR, sebagai ketua umum partai pada saat itu,” ucap Romy.

Untuk diketahui, KPK telah menetapkan tiga tersangka terkait suap pengisian jabatan di lingkungan Kementerian Agama RI Tahun 2018-2019. (ant)

Berita Terkait

Headline / KPK Periksa Khofifah Empat Jam

Hukum / Lima Saksi Diperiksa KPK

Hukum / KPK Cetak Kader NU Antikorupsi

Daerah / Sunjaya Dituntut Tujuh Tahun Penjara


Baca Juga !.