Nasional

Ada Fenomena Migrasi Suara

Redaktur: Riznal Faisal
Ada Fenomena Migrasi Suara - Nasional

FAKTOR “X” - Warga memakai topeng sambil menunjukkan stiker bertuliskan "Tolak dan Lawan Politik Uang" saat sosialisasi pengawasan partisipasif dan deklarasi tolak politik uang oleh Bawaslu di Kudus, Jawa Tengah (17/3). ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/ama.

INDOPOS.CO.ID - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memprediksi akan terjadi fenomena migrasi suara. Itu dipastikan akan terjadi di menit-menit terakhir pada Pemilu 2019 ini.

Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI Firman Noor mengatakan, beberapa hasil survei pernah berbeda jauh dari hasil penghitungan di lapangan dalam beberapa kesempatan Pemilu. 

Contohnya, seperti yang terjadi dalam Pilkada DKI 2017, serta Pilkada Jawa Tengah dan Jawa Barat tahun 2018. 

Menurut Firman, terkadang memang bisa terjadi fenomena yang tidak bisa ditangkap lembaga survei. "Pertanyaannya apakah ini didorong hasil survei atau ada faktor lain? Menurut saya peran survei ini tidak terlalu menentukan. Ada faktor lain yang menjadi latar belakang kenapa terjadi migrasi suara," ujarnya dalam sebuah diskusi di Jalan Cikini, Minggu (24/3). 

Migrasi suara ini, sambung Firman, seringkali terjadi di menit-menit terakhir sehingga tidak terbaca oleh lembaga survei. Faktor pertama adalah karena ketidakpuasan. Bisa saja awalnya mereka merupakan 'soft voters' atau pemilih yang tidak loyal salah satu pasangan calon. 

Namun, karena tidak puas dengan Paslon yang diusung, berubah pilihan pada detik terakhir. 

Firman mengaku, fenomena ini juga sering terjadi dikelompok 'swing voters' atau suara mengambang. "Yang jelas ini terjadi secara akumulatif dan biasanya terjadi di area swing voters. Mereka fungsinya wait and see. Dia sudah mulai merasakan beberapa hal yang tidak seindah yang disampaikan sehingga dia kemudian mulai berhitung secara rasional," kata Firman. 

Faktor kedua, lanjutnya, adalah karakter kandidat. Hal yang selama ini tidak disadari bisa saja memengaruhi dukungan pada detik terakhir. Faktor ketiganya adalah, karena mesin politik yang benar-benar bekerja dan keempat adalah program-program yang bagus. 

Namun, dia menegaskan, ada faktor X yang disebut sebagai 'blessing in disguise'. Ini merupakan situasi yang terjadi mendadak dan tidak diprediksi sebelumnya. Situasi ini membawa kerugian bagi salah satu paslon yang melakukan blunder. Namun, bisa menjadi berkah bagi lawan politiknya. 

Menurut Firman, semua faktor itu bisa menyebabkan hasil hitung yang jauh berbeda dengan prediksi lembaga survei. Masing-masing tim sukses pasangan calon harus mewaspadai fenomena ini. Selalu ada pada peluang bagi dua pasangan calon untuk memenangkan kontestasi ini. Oleh karena itu, masing-masing timses harus konsisten mengampanyekan program agar dukungan untuk Paslon tetap terjaga. 

"Jadi seperti yang saya sampaikan bahwa ada fenomena ketika kemigrasian ini sama sekali tidak ditangkap oleh Timses maupun lembaga survei dan benerapa kasus terjadi di Pilkada. Ini hal biasa dan langkah terbaik adalah mewaspadai kemungkinan itu," kata dia.

Peneliti LIPI lainnya, Aisyah Putri menyebutkan, pasangan calon presiden dan wakil presiden 2019 berebut suara masyarakat yang belum menentukan pilihannya itu. Masyarakat golongan itu seringkali disebut sebagai 'undecided voters' dalam hasil penelitian lembaga survei. 

Menurutnya, berbagai lembaga survei menangkap jumlah 'undecided voters' jelang pemilihan presiden 2019 ini berada pada rentang 10-20 persen. Namun, kata Aisyah, kelompok ini bukan semata-mata belum menentukan pilihannya. "Bisa saja dalam survei, dia tidak menjawab atau merahasiakannya," ujarnya.

Aisyah mengatakan, bisa saja mereka merupakan pendukung loyal. Namun, dengan berbagai pertimbangan tidak memberikan jawaban yang jujur saat disurvei. Lebih tepat jika lembaga survei mengategorikan mereka sebagai unidentified voters. 

"Karena ini menjadi blunder jika (dua Timses, Red) melihat swing voters bisa direbut semua. Padahal, bisa saja mereka sudah loyal tetapi merahasiakan," kata Aisyah.

Dia menyebutkan, undecided voters yang sesungguhnya justru merupakan kelompok yang paling rasional. Presentase jumlahnya sulit diketahui dan merupakan yang paling sulit untuk ditarik dukungannya. Oleh karena itu, dua tim sukses harus bekerja sekuat tenaga untuk mendapatkan dukungan mereka. 

"Undecided voters itu signifikan tetapi sulit dibujuk," tuntasnya. (aen)

Baca Juga


Berita Terkait

Banten Raya / Tidak Netral dalam Pemilu 2019, ASN di Banten Disanksi Berat

Ekonomi / Stabilitas Harga Pangan Redam Gejolak Politik

Politik / Kivlan Zen Diperiksa Bareskrim Polri Rabu

Nasional / KPK Sebut Ada 685 Caleg Terpilih Telah Sampaikan LHKPN


Baca Juga !.