Hukum

Situs Porno Merebak di Internet

Redaktur:
Situs Porno Merebak di Internet - Hukum

indopos.co.id - Sungguh miris, Indonesia darurat perilaku kekerasan dan kejahatan seksual. Kedengarannya menyeramkan? Tapi, itulah faktanya. Angka kasus kekerasan dan kejahatan seksual yang terjadi pada perempuan dan anak di Indonesia masih tinggi. Saat ini, kejahatan seksual terhadap anak perempuan sebanyak 4.974 kejahatan dan anak laki-laki sebanyak 5.567 kejahatan. Kejahatan itu tidak luput dari pelaku yang sering melihat konten-konten pornografi di internet dan buku-buku yang mengandung hal pornografi.

Direktur Jenderal Aplikasi Telematikan (Dirjen Aptika) Kemkominfo Sammy Pangarepan mengatakan, kejahatan seksual merupakan kasus yang sangat serius. Olehnya itu, Kemkominfo selalu melakukan pengecekan terhadap konten-konten pornografi dan melakukan pemblokiran.

“Pelecehan seksual terhadap anak, masuk kasus serius. Konten yang berbau pornografi akan diblokir dan kita harus cari orangnya yang mengupload,” kata Sammy saat diwawancarai INDOPOS, Rabu (24/4/2019).

Tak haya itu, Sammy menerangkan, bahwa pelaku yang mengupload konten pornografi di internet akan dikenakan pidana Undang-Undang ITE dan Undang-Undang Perlindungan Anak. “Kami harus melaporkan ke polisian untuk tindaklanjut,” jelasnya.

Psikolog Anak dan keluarga Klinik Terpadu Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Anna Surti Ariani mengatakan, alasan utama mengapa terjadi kejahatan seksual mulai dari meraba-raba sampai pemerkosaan, atau jenisnya. Karena seseorang merasa memiliki power dan control. Selain itu, Anna menerangkan, bahwa kejahatan seksual bukanlah tentang hubungan seks, tentang kejahatan.

“Artinya pelaku kejahatan seksual merasa punya kuasa terhadap korbannya. Sehingga berusaha mengontrol korbannya secara seksual,” terang Anna saat kepada INDOPOS, kemarin.

Penyebab tidak terkait dengan kebutuhan seksual pelaku. Namun, lebih tentang perasaan berkuasa terhadap korbannya. “Karena ini kejahatan, tentu saja yang salah adalah pelaku, kita tidak bisa menyalahkan korban. Tidak ada orang yang boleh diperlakukan jahat,” tegasnya.

Agar kejahatan seksual tidak terulang lagi, masyarakat harus mengembangkan budaya untuk lebih menghargai orang lain baik laki-laki maupun perempuan.

“Tidak ada orang yang boleh diperlakukan jahat, semua orang seperti apapun modelnya akan layak dihargai dan dihormati,” imbuhnya. “Kita harus terus mengingatkan semua orang termasuk diri kita sendiri bahwa kita tidak boleh memaksakan kehendak kepada siapapun,” sambungnya.

Deputi Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) Nahar mengatakan, salah satu bentuk kekerasan seksual yang paling tinggi dialami karena melalu sentuhan dan menyaksikan video pornografi. Diketahui, 73 persen pelakunya adalah teman sebaya.

“1 dari 12 anak perempuan dan 1 dari 19 anak laki-laki pernah mengalami kekerasan seksual. Salah satu bentuk kekerasan seksual yang paling tinggi dialami adalah melalui sentuhan,” papar Nahar kepada INDOPOS, kemarin.

Nahar juga mengimbau agar orang tua menjaga buah hatinya dengan telaten. Memperhatikan lingkungan di sekitar sang anak. Tak hanya itu, Nahar juga menyampaikan, pengasuhan terhadap anak harus disesuaikan dengan generasi dari sang anak pula. Sebab, orang tua dapat melihat perkembangan dari sang anak.

“Orang tua harus memberikan penguatan pengasuhan dengan memperhatikan adanya perbedaan generasi yang berbeda antara orang tua (Gen X atau Gen Y) dengan anak dari generasi milenial,” terangnya. “Pengasuhan konvensional yang selama ini diterima oleh orang tua harus disesuaikan dengan zamannya,” sambungnya.

Demi melindungi anak Indonesia , ucap Nahar, KementerianPPPA sudah bekerjasama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo). Kerjasama ini dilakukan agar memberikan rasa nyaman dan aman kepada anak-anak di Indonesia. Salah satu, melakukan pemblokiran terhadap situs-situs negatif dan selalu mengimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia agar terus menjaga buah hatinya. “Bersama Kominfo bergabung dalam wadah ‘SIBERKREASI’ yang didalamnya ada seluruh platform melakukan literasi digital kepada seluruh lapisan masyarakat,” tandasnya.

Bahaya Fantasi

Psikolog Keluarga dari Universitas Indonesia Dr. Rose Mini Agoes Salim menuturkan, kejahatan seksual bisa terjadi dilingkungan terdekat. Olehnya itu, korban yang mengalami kejatahan seksual tidak memiliki kekuatan untuk melawan tindakan kejahatan tersebut.

“(Korbannya,Red) Bisa tidak berdaya karena terjadi di lingkungan sekitar korban. Misalnya, kakak kelasnya, pamannya, pembantunya, bahkan bisa dilakukan oleh supirnya,” terang Rose Mini kepada INDOPOS, Rabu (24/4/2019).

Rose Mini juga menerangkan, kejahatan seksual timbul karena pelaku memiliki ide fantasi dalam dirinya yang menjadi pengaruh seringnya melihat konten yang negatif di internet. Akibatnya, timbul niat kejahatan seksual pelaku. “Pelaku itu mempunyai ide fantasi. Dan salah satunya penyebabnya adalah melihat konten yang tidak baik,” katanya.

Selain itu, Rose Mini menyampaikan, tidak hanya konten di internet saja yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan kejahatan seksual. Tak jarang, disebabkan dari buku atau kemudian film yang mengandung konten negatif. Selain itu, dia mengatakan, para korban yang mengalami kejahatan seksual fisik dan psikologis akan terganggu. “Korban akan mengalami ketakutan, memiliki rasa yang tidak nyaman. Ada masalah dalam tubuhnya atau organ intimnya,” cetusnya.

Tak hanya itu, dia menyarankan, agar orang tua selalu memperhatikan anak dari lingkungan sekitarnya dari tindak kejahatan. “Orang tua harus melihat lingkungan di sekitar anaknya itu seperti apa? Memperhatikan, apakah prilaku anak ada yang berubah atau tidak? Orang tua harus peka tehadap anak-anaknya,” imbuhnya. (bar/dan)

Berita Terkait

Megapolitan / Demiz Ingatkan Bahaya Situs Porno bagi Remaja dan Anak-anak


Baca Juga !.