Nasional

Langkah AHY dan Prananda Tersendat sebagai Calon Ketum Partai

Redaktur: Riznal Faisal
Langkah AHY dan Prananda Tersendat sebagai Calon Ketum Partai - Nasional

Foto: Charlie Lopulua/INDOPOS

indopos.co.id - Langkah Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Prananda Prabowo sedikit tersendat sebagai ketua umum partai politik. Pasalnya, Dewan Pembina dan Dewan Kehormatan Partai Demokrat (PD) menolak usulan kongres luar biasa atau KLB dari GMPPD. Sedangkan, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) memprioritaskan mengawal Jokowi. 

Dewan Kehormatan PD Amir Syamsuddin mengatakan, pihaknya mengeluarkan peringatan kepada pengurus dan kader partai mercy terkait usulan digelarnya KLB.
Meski seluruh kader partai diminta tidak berbicara mengenai KLB, namun pihaknya akan segera menggelar rapat atas usulan tersebut.

"Saya sudah minta Sekretaris Dewan Kehormatan Yosef Badeoda mengundang anggota yang ada di tanah air membahas rapat masalah tersebut," ujarnya saat dihubungi, Jumat (14/6/2019).

Menurut Amir, KLB adalah forum tertinggi partai. Atas dasar itu, keputusan untuk menggelarnya tidak bisa hanya berdasarkan desakan segelintir orang atau kader. "KLB adalah persoalan serius dan wajib diketahui terinformasikan secara nasional, dan tidak boleh dimunculkan apalagi dideklarasikan hanya oleh segelintir senior," tegasnya.

Amir pun menyayangkan sejumlah senior Partai Demokrat bisa mengumbar usulan itu ke publik. Padahal, berdasarkan AD/ART PD, KLB digelar pada 2020. "Semua ada forum, waktu dan tempatnya untuk dikemukakan sesuai dengan ketentuan AD/ART. Yang senior tidak bisa mengesampingkan ketentuan-ketentuan tersebut," imbuhnya. 

Sedangkan Wakil Ketua Dewan Pembina PD Agus Hermanto mengatakan, usulan yang disampaikan anggota Majelis Tinggi PD Max Sopacua bersama sejumlah kader senior lainnya dalam GMPPD itu merupakan keinginan untuk memperbaiki partai tersebut.

"Tentunya seperti itu (DPP bahas usul AHY gantikan SBY, Red), karena kemarin baru suatu penyampaian ide dan sebagainya. Pastinya, DPP akan melaksanakan rapatnya, akan melaksanakan fungsi-fungsinya, dan tentunya pasti ditanggapi," kata Agus kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jumat (14/6/2019).

Namun, kata wakil ketua DPR itu, partai belum tentu mengabulkan keinginan GMPPD. Dia mengatakan, respons DPP atas usulan Max Sopacua itu bisa dalam bentuk keputusan lain. "Ditanggapi, tidak harus seperti apa yang diminta, bisa saja yang lain. Tapi, semuanya yang disampaikan kader pasti akan ditanggapi oleh DPP," kata Agus.

Terkait permintaan para senior agar pelaksanaan KLB dilakukan setidaknya pada September mendatang? Agus menyatakan, itu pun bakal dibahas di tingkat DPP.

"Semua yang disampaikan ini tentunya baru, sehingga semuanya harus dibahas secara komprehensif oleh DPP sehingga kita tidak bisa rasa-rasa atau tidak bisa kira-kira. Semuanya harus diberikan kepastian," imbuhnya.

Sementara itu, soal Prananda Prabowo yang kemungkinan akan didorong menjadi ketua umum PDIP, Sekretaris Badan Pendidikan dan Latihan DPP PDIP, Eva Kusuma Sundari mengungkapkan, Megawati sudah mempersiapkan sosok penggantinya menjadi tokoh utama partai.

"Saya yakin Ketum (Megawati, Red) sedang menyiapkan regenerasi PDIP dengan cermat. Beliau tentunya sedang mempersiapkan penggantinya yang nanti akan ditunjuk karena setiap kongres, oleh partai apa pun, agendanya mencari Ketum baru," ucapnya saat dihubungi, Jumat (14/6/2019).

Anggota Komisi XI DPR RI itu menyebutkan, regenerasi merupakan kebutuhan internal di tengah berbagai dinamika politik yang berlangsung. Sebab itu, partai berlambang moncong putih ini perlu meresponsnya melalui kongres. "Ini percepatan regenerasi. Banyak hal penting harus segera direspons oleh pasukan baru," tukasnya.

Namun, Eva tak menyebutkan siap sosok yang disiapkan Megawati.

Begitu juga dengan Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP Hasto Kristiyanto. Dia hanya mengatakan, alasan utama dipercepat Kongres V PDIP guna menyesuaikan agenda pemerintah, dari pelantikan anggota DPR hingga pembentukan kabinet Jokowi-Ma'ruf Amin.

"Percepatan Kongres V selain untuk menyesuaikan dengan agenda pemerintahan negara, juga untuk menyusun seluruh agenda strategis partai pasca Pemilu 2019, dan sebagai langkah preemptive bagi tugas ideologis-strategis partai ke depan. Itulah yang menjadi intisari pemikiran Ketua Umum PDIP Ibu Megawati Soekarnoputri," kata Hasto dalam keterangan tertulis, Jumat (14/6/2019).

Hasto menyebut, PDIP ingin konsolidasi partai sudah sempurna saat agenda-agenda pemerintah berlangsung pada akhir 2019 nanti. "Dengan kongres dipercepat tersebut, maka ketika anggota DPR dan MPR dilantik, diikuti pelantikan Presiden Jokowi dan KH Ma'ruf Amin, serta pembentukan kabinet, maka seluruh struktur partai telah terkonsolidasi guna mendukung pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat," paparnya.

"PDI Perjuangan semakin fokus mendukung sepenuhnya jalannya pemerintahan Jokowi, karena itu mengapa konsolidasi ideologi, politik, konsolidasi struktural, dan konsolidasi program sudah dilakukan melalui gerak mendahului dalam Kongres V. Jadi keputusan mempercepat sangat strategis dan sebagai implementasi jatidiri sebagai partai pelopor," sambungnya.

Hasto memastikan, partainya terus berusaha memperbaiki diri untuk kepentingan bangsa. Ini, sesuai dengan ideologi Pancasila yang digelorakan oleh ide, pemikiran, cita-cita, gagasan dan perjuangan Bung Karno, bapak bangsa Indonesia.

"PDIP kokoh secara ideologis dan terus memperbaiki diri melalui pengelolaan partai yang modern, menjadi partai digital, namun tetap berakar kuat pada kebudayaan bangsa dan bekerja dengan cara gotong royong," sebut Hasto.

Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin itu menambahkan, sikap progresif dan gerak kepartaianlah yang melahirkan gagasan agar kongres dipercepat. PDIP ingin bersiap lebih cepat dalam mengawal pemerintahan periode kedua Jokowi.

"Persiapan seluruh jajaran kepartaian untuk menjadi kekuatan utama yang efektif mengawal Jokowi-KH Ma'ruf akan dilakukan lebih awal. PDIP sebagai partai pelopor berdiri di depan bagi kemajuan Indonesia Raya di segala bidang kehidupan," tutupnya. (aen)

 

Baca Juga


Berita Terkait


Baca Juga !.