Jumat, 20 Juli 2018 03:33 WIB
BJB JULI V 2

Indobisnis

Energi Listrik yang Terjangkau untuk Listrik Berkeadilan

Redaktur:

INDOPOS.CO.ID - Indonesia memiliki sumber daya Energi baru terbarukan yang lengkap dari langit, bumi, hingga air. Berkaca dari itulah PLN hingga kini terus berupaya untuk menggenjot pemanfaatan (EBT) bahkan untuk tahun 2017 lalu PLN berhasil menandatangani 1210,85 MW diluar Pembangkit Listrik Panas Bumi. ini merupakan capaian tertinggi dalam bidang pemanfaatan EBT dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Secara keseluruhan realisasi EBT yang telah dusahakan oleh PLN mencapai 6.370, 5 MW. Maraknya minat terhadap EBT merupakan bukti bahwa investasi pembangkit listrik energi baru terbarukan tetap menarik sekaligus praktek efisiensi terus didorong agar tarif listrik semakin kompetitif. Hal ini sebagai upaya untuk mewujudkan prinsip energi berkeadilan dalam rangka menciptakan kesejahteraan rakyat, iklim usaha dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Penandatanganan sejumlah PPA tersebut merupakan implementasi Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 12 Tahun 2017 tentang Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik sebagaimana telah diubah dengan Permen ESDM Nomor 43 Tahun 2017. Bahkan pada tahun yang sama PLN melalui anak perusahaannya PT PJB, juga telah melakukan MoU terkait rencana pembangunan pembangkit listrik PLTS terapung sebesar 200 MWp yang rencananya dibangun di Cirata.

Keuntungan PLTS terapung adalah output energy dari PLTS terapung lebih besar kurang lebih 10% dibandingkan PLTS yang dipasang didarat karena temperature air lebih rendah, dan menyebabkan output energy PLTS lebih besar. Selain itu PLTS terapung akan menurunkan evaorasi air di waduk atau dengan kata lain mampu mengonservasi air untuk pembangkit listrik.

Saat ini, setidaknya terdapat enam sumber daya EBT yang dimiliki Indonesia, yaitu energi air, surya, angin, arus laut, bioenergi dan panas bumi. Pemerintah telah menargetkan bauran energi yang berasal dari EBT sebesar 23% dengan total daya 92,2 million tonnes of oil equivalent (mtoe) pada tahun 2025 dalam Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).

Atas dasar tersebut, Pemerintah konsisten untuk terus memaksimalkan pemanfaatan EBT yang ekonomis. Sejalan dengan hal tersebut, melalui rencana penyediaan listrik sesuai RUPTL 2017-2026, penambahan pembangkit adalah sebesar 77,9 Giga Watt dimana rencana penambahan porsi pembangkit EBT adalah 21,56 GW untuk itu sejumlah langkah strategis telah disiapkan oleh PLN diantaranya yakni :

1. Pengembangan pembangkit listrik EBT harus dioptimalkan, tidak hanya mempertimbangkan keseimbangan antara penawaran dan permintaan. Namun juga kesiapan jaringan sistem tenaga listrik serta harga keekonomian yang kompetitif.

2. PLN memanfaatkan sumber energy terbarukan dari sumber energy hidro, panas bumi ( termasuk skala kecil/ modular) bioful, energy angina, energy matahari, biomassa, limbah dll. Sementara itu PLN juga akan mendukung usaha untuk menciptakan RE-BID ( Integrasu pengembangan pembangkut EBT dengan kawasan industry).

3. Khusus untuk PV, PLN akan mengembangkan PV terpusat untuk melistriki daerah terpencil yang relative jauh dari grid yang ada, kawasan ini merupakan daerah tertinggal, daerah perbatasan dan pulau terluar. Oleh Karena itu sistem tenaga hybrid ( POV,RE dan Diesel PP lainnya) juga akn dikembangkan untuk daerah yang masih memiliki kurang dari 12 jam pengoperasian listrik.

4. PLN akan mengembangkan sistem smart grid untuk meningkatkan penetrasi intermittent RE ( PV dan angina) sekaligus untuk meningkatkan keandalan. Dengan demikian, PLN juga akan mengambangkan jaringan mikro ( biasanya menggunakan PV) untuk area dimana jalur distribusi tidak akan dikembangkan dalam 3 tahun kedepan.

5. PLN akan mengurangi konsumsi bahan bakar menggunakan HSD dan MFO dan mendorong pemanfaatan biofuel.

6. Mengoptimalkan pengembangan pembangkit EBT yang memiliki potensi besar seperti PLTP dan PLTA.

7. memaksimalkan potensi EBT setempat untuk meningkatkan rasio elektrifikasi di Indonesia TImur.

8. Pengembangan Hybrid system untuk daerah-daerah yang sudah dipasok dengan PLTD dengan jam nyala dibawah 12 jam/ hari.

“Dengan segala upaya yang dilakukan PLN ini menunjukkan komitmen PLN untuk terus mendorong pemanfaatan EBT dalam upaya meningkatkan ratio elektrifikasi dan desa berlistrik. Sehingga target rafsio elektrifikasi sebesar 98% pada tahun 2019 dan target porsi EBT 23% pada tahun 2025 bisa tercapai,” ungkap Kepala Satuan Komunikasi Korporat PLN I Made Suptareka.

Selain itu, sesuai dengan amanah undang-undang bahwa energi adalah instrumen mewujudkan keadilan sosial, yakni energi harus tersedia, merata dan terjangkau. Saat ini PLN juga terus menambah kapasitas pembangkit listrik sehingga dapat meningkatkan distribusi energi guna meningkatkan rasio elektrifikasi dan pemerataan serta keterjangkauan energi.dalam rangka menciptakan kesejahteraan rakyat, iklim usaha dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. (*/srv)


TOPIK BERITA TERKAIT: #energi-listrik #pln 

Berita Terkait

Puluhan Perusahaan di Bekasi Pasok Listrik Baru

Megapolitan

Galian Picu Kecelakaan, PLN Tindak Vendor

Jakarta Raya

Marak Penipuan Atas Namakan PLN

Nusantara

IKLAN