Minggu, 16 Desember 2018 01:03 WIB

makanmakan

Pilih, Masak dan Nikmati Menu Anda di D'Steam

Redaktur:

INDOPOS.CO.ID -  Pernah dengar makanan khas Tionghoa tapi dengan bumbu ala Melayu, atau makanan berkari khas Melayu tapi yang menyajikan  orang Tionghoa? Di Malaysia, ini dikenal dengan sebutan cita rasa peranakan oleh para keturunan Baba-Nyonya.

Baba-Nyonya, merupakan sebutan peranakan Tionghoa yang bermigrasi ke kawasan Selat Malaka pada abad 15 lalu. Sebagian besar para keturunan ini berasal dari Hokkien, dan akhirnya membaur, kawin campur dengan suku asli Melayu. Awalnya di Malaka, menyebar ke Pulau Penang, dan kini tersebar hingga ke daratan Malaysia, Singapura, dan Indonesia.

Dalam perkembangannya, pengaruh besar keluarga pedagang ini bukan hanya mempengaruhi akulturasi budaya Tionghoa dan Melayu saja, tapi juga mempengaruhi kuliner, aneka penganan warisan tradisi Tionghoa, dengan pengaruh bumbu-bumbu khas Melayu yang terkenal kuat dan kaya akan rasa. Resapan budaya inilah yang menghasilkan cita rasa baba-nyonya atau cita rasa peranakan khas nyonya.

Sejarah ini saya dengar langsung dari pemilik restoran Seri Nyonya Peranakan di Banda Hilir saat berkunjung ke Malaka, beberapa waktu lalu. Dia merupakan garis keturunan ke 15 dari baba-nyonya.

Dari pengalaman saya berkunjung ke restoran bercita rasa baba nyonya di kawasan Ampang, Kuala Lumpur, dan juga di Melaka adalah, salah satu hal yang membuat restoran peranakan itu sama dimana saja adalah desain interiornya yang merupakan gabungan etnik Melayu dan Tionghoa lama, serta perabotan-perobatan klasik zaman dulu khas pinggiran Selat Malaka.

Hal ini pulalah yang saya temui saat hendak makan malam di restoran D'Steam-Peranakan Live Seafood di Komplek Kampung Seraya Blok II Nomor 2, Nagoya. Restoran ini, baru hadir di Batam sekitar enam bulan lalu, tepatnya pada 23 September 2017. Lokasinya, di belakang RS Harapan Bunda Nagoya, atau persis di seberang The Spa Secret, 20 meter ke kanan.

Dari kejauhan, restoran ini langsung gampang terlihat, mengingat lampunya yang paling terang benderang dibanding kawasan di sekitarnya. Memasukinya, ada resepsionis yang akan menerima tamu dengan ramah dan mengantarnya ke meja sesuai reservasi atau bisa on the spot langsung. Saat sang resepsionis pria mengantarku ke meja di bagian kanan belakang, mata saya langsung menjelajah desain interiornya. Unik dan classy khas Melayu dengan beberapa ornamen khas Tiongkok.

Di sebelah kanan, ada beberapa meja konter untuk para pekerja menerima pesanan pengunjung untuk selanjutnya dikirim ke bagian dapur. Ada juga konter kasir, yang disebelahnya aneka makanan laut yang masih ditampilkan, untuk pengunjung memilihnya, selanjutnya dimasak dan siap disajikan.

Restoran ini terbilang unik. Seluruh jenis makanan laut atau seafood ditampilkan langsung secara terbuka di sisi dalam, sehingga para pengunjung bebas melihatnya. Adalah kapis, kerang, kepiting, rajungan, aneka ikan hidup, dan yang lainnya yang siap diolah menjadi menu segar, lezat khas peranakan.

Sementara itu, di sebelah kirinya, ada ruang yang didesain khusus untuk photoshot. Sudut itu sangat instagramable, diatur sedemikian rupa persis ruang tamu baba-nyonya. aneka perabotan dan foto tempo dulu tergantung di dinding kayu yang dibuat menyerupai kandang. Dua kursi kayu, serta satu meja untuk menikmati minum kala bersantai sore hari, ditambah mesin jahit Singer. Naik kesana, seolah merasakan kehangatan khas Malay-Pecinan.

Tiba-tiba, karyawan D'Steam menyapaku. "Mba, silakan duduk di sudut kiri sana ya, kita sudah sediakan meja," ujarnya.

Di restoran ini, ada dua jenis meja, yakni meja persegi dan juga meja bundar. Saya dan beberapa rekan, malam itu duduk di meja persegi. Waitress pun memberikan buku menu untuk kami pilih. Khusus minuman, malam itu dipilih teh obeng dan air jeruk nipis. Sedangkan menunya, berdasarkan rekomendasi Jimmy, sang pemilik restoran, kami pun memilih enam menu untuk disantap malam itu. Diantaranya: ikan asam pedas kering peranakan, kepiting pedas peranakan, sup ikan pedas peranakan, ayam daun kemangi, sawi minyak bawang putih, dan juga steam jamur sitake ayam.

Oh ya, masing-masing meja di restoran ini sudah dilengkapi steamer electric. Dimana aneka menu steam yang kita pesan, bisa tetap di steam di atas meja sehingga tingkat kematangan dan panasnya tetap terjaga. Kita bebas memilih durasi waktu steamnya. Tinggal tekan On/Off, pilih waktu per menit, tekan, jadi deh.

Sembari menunggu pesanan makan dan minuman datang, bersama rekan, kami pun menikmati spot foto di restoran yang ada taman di tengah ruangannya tersebut. Mengabadikan momen foto ala tamu baba-nyonya yang diterima di kursi kayu rumahnya, atau pose duduk sembari menjahit menjadi aktifitas yang bisa dilakukan di resto berkapasitas 200 tamu dengan ruangan reguler dan satu ruang VIP tersebut.

Pesanan pun datang dan siap bersantap. Tak salah memang, ikan asam pedas kering peranakandi sini menjadi menu andalan. Rasa gurih segarnya dengan wangi khas kari malay pas di lidah. Demikian jugatumis sawi minyak bawang putihnya tak kalah sedap. Sama satu lagi, menu yang jadi favorit disana, yakni ayam daun kemangi. Menu ini disajikan dengan cara daging ayam tok digoreng ala chicken karage, lalu dilumuri saus mayo telur asin dan daun kemangi. Rasanya? ya gurih. Enak pastinya.

Sup ikan pedas peranakannya sih lumayan enak, tapi terlalu asam dan rada asin menurutku. But so far, menu yang disajikan semuanya rata-rata enak banget. Pas banget neh ajak keluarga makan dalam perayaan kegembiraan dimari. Oh ya, para pengunjung diberi kebebasan memilih porsi lho di sini, ada porsi kecil dan besar dengan average harga makanannya mulai dari Rp 30 ribu - Rp 90 ribu per porsi.

Penting untuk diketahui, seluruh menu live seafood di restoran ini dimasak langsung koki lokal dari Pulau Moro yang sudah berpengalaman memasak menu peranakan di Malaysia. So, i'm calling you Seafood Lover to enjoy all their menu here.  (cha/www.catatantraveler.com)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #kuliner #indoposmakan-makan 

Berita Terkait

Kuliner Jadi Salah Satu Pemikat Wisatawan

wisata

Wisata Baru Gading Serpong

Ekonomi

Icip-Icip Citarasa Asia

Jakarta Raya

IKLAN