Minggu, 16 Desember 2018 02:08 WIB

Ekonomi

Digital Ekonomi Suburkan Usaha Baru

Redaktur:

SINERGI - PAY Aldi Haryopratomo (kiri) bersama dengan SEVP IT BNI Dadang Setiabudi (tengah) dan Chief Commercial Expansion Go-Jek Catherine Hindra Sutjahyo meninjau stan usai menandatangani kerja sama dukungan pembiayaan untuk UMKM Kuliner pada Selasa (13/3) di GO-FOOD Festival, Pasaraya Blok M, Jakarta. ADRIANTO/INDOPO

INDOPOS.CO.ID - Digital ekonomi bakal memunculkan peluang usaha baru. Lebih dari itu, bisa mendongkrak perekonomian. Selanjutnya, menciptakan lapangan pekerjaan. "Saya peneliti. Saya tidak percaya digital ekonomi akan merusak sektor lain. Justru akan muncul peluang-peluang usaha baru," tutur Deputi I Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Perekonomian Iskandar Simorangkir, di  Jakarta, Selasa (13/3).

Iskandar mencontohkan revolusi industri terjadi di Inggris, beberapa abad lalu. Saat itu orang khawatir pekerjaan akan berkurang. Pada faktanya, tidak demikian. Di Jepang, ada restorasi meiji, membuat negara itu mampu mengejar ketinggalan. "E-commerce atau fintech bukan sebagai kompetitor. Itu sebagai pelengkap dan akan memajukan. Teori pertumbuhan ekonomi untuk menjadi negara maju harus menguasai teknologi dan meningkatkan produktifitas. Fungsi produksi digenjot, dengan memanfaatkan teknologi," ulas Iskandar.

Selanjutnya, bilang Iskandar, Korea Selatan (Korsel) mampu keluar dari negara berkembang, karena teknologi. Di mana, Korsel sukses memproduksi barang-barang elektronik dalam bidang teknologi. Kolaborasi saling mendukung itu misalnya, BNI dan Go-pay dalam mengembangkan UMKM melalui penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) untuk Mitra Go-Food. "Ya, tidak bisa dibiarkan UMKM bertempur sendirian. Kalau dibiarkan, UMKM tidak mungkin masuk pasar," tegasnya.

Iskandar melanjutkan, sebelumnya bunga KUR 9 persen. Melalui keberpihakan pemerintah pada UMKM, kupon KUR dipangkas menjadi 7 persen. Itu setelah pemerintah menggelontorkan subsidi. "Kami aliri suku bunga kredit setara pasar. Selisih 10,5 persen kami kasih subsidi ke perbankan. Kami tidak melakukan distorsi mekanisme pasar," tandasnya.

Tahun ini, pemerintah menggelindikan plafon KUR sejumlah Rp 120 trilun. Di mana, hingga detik ini baru sebesar Rp 116,6 triliun mengajukan plafon. So, masih ada ada sekitar Rp 3 trilun. Dengan begitu, disruption terhadap perbankan tidak terjadi. "Bukti sahihnya, kolaborasi BNI dan Go-pay. Perbankan konvensional dan tekhnologi harus bersinergi," tambah Direktur Pengembangan Inklusi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Eko Ariantoro. (dai).


TOPIK BERITA TERKAIT: #ekonomi 

Berita Terkait

Optimistis Iklim Usaha Positif

Ekonomi

Utang Potensial Membengkak

Ekonomi

Era Digital Penipu Canggih

Ekonomi

IKLAN