Minggu, 16 Desember 2018 02:29 WIB

Ekonomi

Permintaan Kaca Lokal Capai 750 Ribu Ton Per Tahun

Redaktur:

RETAIL - Ketua AKLP Yustinus Gunawan (berbatik) bersama peserta dan penyelenggara pameran Glasstec Dusseldorf Jerman di Grand Hyatt Jakarta, Selasa (13/3). VITA/ INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Ternyata permintaan kaca di industri lokal sangat tinggi. Ketua Umum Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman (AKLP) Yustinus Gunawan mengatakan permintaan setiap tahun mencapai 750 ribu ton dengan kapasitas yang ada sebanyak 1,250 juta ton.

“Kelihatannya lebih banyak (kelebihan pasokan) namun aslinya kurang,” kata Yustinus usai pemaparan pameran Glasstec di Dusseldorf, Jerman Oktober nanti di Jakarta, Selasa (13/3). Dia melanjutkan, terlihat lebih banyak namun kurang karena pelaku industri kaca harus mengekspor produknya minimal 40 persen dari kapasitas produksi. “Sudah regulasi agar tercapai skala ekonomi,” tuturnya.

Menurut Yustinus sebenarnya syarat tersebut tidak memberatkan pengusaha. Namun, permasalahannya adalah regulasi pemerintah yang tidak mendukung. Regulasi yang dimaksud seperti pemberlakuan standar SNI, dan pemberlakuan penggunaan kaca di gedung-gedung.

Belum lagi, lanjut Yustinus, daya saing di industri kaca lokal rendah, harga gas bumi yang melambung tinggi, dan persaingan dengan negara tetangga macam Tiongkok dan Malaysia. “Cina (Tiongkok) sudah membangun pabrik kacanya di Malaysia. Dan sudah pasti Indonesia bakal sasaran penjualannya karena industri propertinya berkembang termasuk otomotifnya,” tutur Yustinus. Itu merupakan tantangan tersendiri bagi pelaku industri kaca tanah air.

Meski demikian, kemajuan industri kaca di Indonesia bisa diacungkan jempol. Pasalnya, tercatat suplai kaca ke industri otomotif dan properti cukup besar. Komposisinya untuk otomotif 25 persen dan properti 75 persen. “Kita berharap ada kenaikan di industri otomotif minimal 50-50,” katanya.

Indonesia, tambah Yustinus, juga sudah menguasai teknologi pembuatan kaca. “Akan lebih baik jika kita mau membawa teknologi Jerman ke tanah air. Datang ke pameran Glasstec akan dikenalkan aplikasi terbaru teknologi pembuatan kaca,” katanya.

Direktur dan Kepala Global Messe Dusseldorf GmbH, Birgit Horn menjelaskan sukses menggelar pameran business to business (B2B) "Glasstec" di Jerman pada 2016 lalu, tahun ini pihaknya kembali akan menggelar pameran serupa pada 23-26 Oktober 2018. Pada pameran 2016 lalu, tak kurang dari 1.230 eksibitor dari 52 negara turut berpartisipasi. Sementara itu, jumlah pengunjung sanggup mencapai 40.100 dari 121 negara, termasuk Indonesia di dalamnya. Dan, dari total pengunjung tersebut, 86 persennya adalah para pengambil keputusan di perusahaan.

Guna mengkomunikasikan pameran Glasstec ke-25 yang jatuh di tahun ini, Messe Dusseldorf bersama Wakeni (Wahana Kemalaniaga Makmut) menggelar roadshow presentasi di Indonesia. Pada kesempatan itu, para pelaku bisnis di industri kaca dapat memperoleh infotmasi secara komprehensif tentanh benefit apa saja yang dapat mereka peroleh dengan mengikuti pameran Glasstec 2018.

Termasuk, memperoleh update terkini tentang teknologi kaca serta pontensi bisnis yang dapat tercipta. Dipilihnya Indonesia sebagai target peserta maupun pengunjung pameran tak lepas dari besarnya nilai industri kaca nasional. "Tahun 2016, jumlah visitor dari Indonesia mencapai 70-an. Tahun ini, targetnya bisa mencapai 100-an," tutupnya. (vit)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #ekonomi 

Berita Terkait

Optimistis Iklim Usaha Positif

Ekonomi

Utang Potensial Membengkak

Ekonomi

Era Digital Penipu Canggih

Ekonomi

IKLAN