Minggu, 16 Desember 2018 10:51 WIB

Nasional

Panggil Puan-Pramono, KPK Masih Dalami

Redaktur: eko satiya hushada

INDOPOS.CO.ID - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui penyidik dan jaksa mulai bergerak pasca ‘nyanyian’ terdakwa Setya Novanto (Setnov) dalam sidang korupsi e-KTP. Lembaga antirasuah itu bakal mempelajari fakta dan keterangan mantan Ketua DPR tersebut dalam aliran penerima dana korupsi e-KTP yang diduga melibatkan Puan Maharani yang kini menjabat Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) dan Pramono Anung, sekretaris Kabinet.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, atas keterangan tersebut pihaknya akan mempelajari munculnya nama-nama baru penerima aliran dana proyek e-KTP dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta. "Fakta persidangan kemarin sedang dipelajari oleh tim jaksa bersama penyidik. Tentu akan didalami dulu ya," ujarnya di kantor KPK, Jumat (23/3).

Pendalaman keterangan dan mempelajari lebih lanjut diperlukan karena dijelaskan KPK bahwa keterangan Novanto bukan diketahui langsung soal aliran dana masing-masing USD 500 ribu tersebut. Namun setelah Setnov itu mendengar dari perkataan orang lain--- pengusaha Made Oka Masagung.

Karena itu tentunya informasi dimaksud perlu dikroscek dengan saksi dan bukti lainnya nanti. Apakah bakal memanggil anak Megawati dan Pramono? Febri kembali menjawab normatif.  "Tentu supaya clear, kami akan analisis dulu fakta sidang untuk kepentingan tuntutan. Nanti kami tunggu juga bagaimana putusan hakim agar lebih komprehensif membaca fakta-fakta persidangan ini," jawabnya.

KPK juga menyayangkan Novanto terkesan setengah hati dalam pengajuan Justice Collaborator (JC). Sebab, hingga sidang kemarin Setnov dianggap tidak mengakui perbuatannya dan justru membantah angka USD 7,3 juta berdasarkan keterangan terdakwa Andi Narogong dan tersangka Made Oka Masagung.

Made Oka Jarang di Rumah

Sosok Made Oka Masagung langsung menjadi perhatian banyak orang. Itu setelah pemilik Delta Energy Pte Ltd dan OEM Investment Pte Ltd, perusahaan di Singapura) itu disebut Setya Novanto (Setnov) sebagai ‘kurir’ duit fee e-KTP untuk Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani serta Sekretaris Kabinet Pramono Anung. ‘Nyanyian’ Setnov itu sontak membuat Puan dan Pram- panggilan akrab Pramono- gerah. Mereka pun langsung bereaksi atas nyanyian tersebut.

Lantas, siapa sebenarnya Oka? Penelusuran koran ini, kemarin (23/3), pengusaha yang berstatus tersangka e-KTP sejak 28 Februari itu tercatat berdomisili di Jalan Permata Hijau Blok E Nomor 19, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Hunian yang berlokasi tidak jauh dari Stadion Gelora Bung Karno (GBK) Senayan itu merupakan salah satu perumahan elit di Jakarta.       Namun, saat koran ini mendatangi alamat itu, Oka sedang tidak berada di rumah. Pengakuan penjaga rumah, selama ini hunian dengan pintu pagar warna hitam tersebut memang jarang ditinggali Oka. Rumah itu lebih sering ditempati para pembantu dan petugas sekuriti. "Bos (Oka, Red) nggak pernah tidur di sini (rumah Permata Hijau, Red)," kata Oki, sekuriti rumah tersebut. 

Sejak berurusan dengan KPK, Oki mengaku jarang melihat Oka mampir ke rumah berukuran besar tersebut. Terakhir kali, pengusaha kelahiran 20 Februari 1955 itu singgah ke rumah tersebut akhir pekan lalu. Tepatnya sebelum libur Hari Raya Nyepi pada Sabtu (17/3) lalu. "Hanya ambil beberapa baju saja, habis itu pergi lagi," ujar pria berbadan besar dan potongan rambut cepak tersebut. 

Oki mengungkapkan, bosnya memang memiliki banyak rumah. Bukan hanya di Jakarta, tapi juga di Singapura. Selain rumah, Oka juga memiliki beberapa apartemen yang diatasnamakan anak-anaknya. Oka memiliki satu putra dan satu putri. "Kalau nggak di rumah, bisa saja tinggal di apartemen," terang pria asal Depok, Jawa Barat tersebut. 

Di Indonesia, Oka diketahui sibuk mengelola perusahaan PT Asoka Mas Asuransi. Anak Oka, Endra Raharja Masagung menjabat sebagai komisaris utama di perusahaan yang bergerak di bidang pemberi jaminan itu. Endra juga tercatat sebagai direktur di perusahaan ayahnya, Delta Energy Pte Ltd. Sayang, saat diperiksa KPK kemarin, Endra tidak mau berkomentar banyak. 

Di persidangan Setnov, Oka diduga pernah mengirim uang sebesar SGD 15 ribu kepada Endra. Uang itu diduga berkaitan dengan bagian fee e-KTP sebesar USD 3,8 juta yang dikirim Anang Sugiana Sudihardjo, mantan Direktur Utama PT Quadra Solution---rekanan proyek e-KTP tahun anggaran 2011-2012---kepada Oka. (egp/tyo) 

                                                                                                                                      


TOPIK BERITA TERKAIT: #kpk #puan-maharani #anung-pramono 

Berita Terkait

Kada Bisa Tiap Pekan Di-OTT

Headline

Komitmen Bangun Pendidikan Antikorupsi

Nasional

Novel Desak Presiden Bentuk TGPF

Headline

IKLAN