Jumat, 20 Juli 2018 03:26 WIB
BJB JULI V 2

Opini

Memonitor Operasi Intelijen "Perburuan Penyihir" dan Kepanikan Netanyahu di Israel

Redaktur:

Pengamat Intelijen, Dynno Chressbon.

Pakar-pakar intelijen Indonesia, pemimpin dunia Islam, dan Rusia sangat tertarik dengan perkembang an situasi di Israel dan Palestina paska pemeriksaan kasus korupsi oleh polisi Israel terhadap PM Benyamin Netanyahu.                                     

Dapat diduga, situasi ini mengundang perhatian serius Netanyahu untuk mendayagunakan jaringan intelijen dan kelompok radikal Yahudi Zion untuk "pembebasan diri" dari tekanan polisi Israel, dan penolakan internasional Rusia, Turki, Iran, Indonesia terhadap klaim Jerusalem sebagai ibu kota abadi Israel.                                                

Penyebabnya, polisi Israel telah menginterogasi Benyamin Netanyahu pada Senin (26/3/2018) dalam kasus dugaan korupsi di perusahaan telekomunikasi terbesar di negara itu. Ini bagian dari tiga skandal korupsi yang melibatkan Netanyahu.

Operasi Intelijen "Great Return" Netanyahu terhadap Pro-Hamas

Great Reaturn adalah salah satu sandi operasi kontra intelijen Netanyahu untuk membebaskan diri dari tuduhan korupsi, sekaligus taktik memprovokasi lawan-lawan politiknya.                                     

Manuver ini mudah terbaca setelah ia memposting pesan dukungan kepada tentara Israel di Twitter sehari setelah ribuan warga Palestina berkumpul di pagar perbatasan Gaza, dan 18 orang tewas ditembak oleh sniper tentara Israel pada Sabtu, (31/3/2018).                                       

Teknik radikalisasi mental oleh Netanyahu kepada tentara Israel berhasil membuat pasukan sniper Israel semakin berani di Gaza dengan membunuh delapan demonstran Palestina pada Jumat (6/4/20 18). Jumlah korban tewas terbaru ini menambah daftar korban jiwa di pihak Palestina menjadi 30 orang sejak demonstrasi bertema "Great Return March " pekan lalu. 

Di pihak Palestina, kelompok Hamas menegaskan, aksi demonstrasi yang sedang berlangsung di Jalur Gaza akan terus berlanjut sampai akhirnya masyarakat Palestina dapat mendiami tanah mereka, termasuk di dalamnya Jerusalem.

"Palestina dan Jerusalem milik kami. Kami akan menghancurkan dinding blokade, menghapus entitas pendudukan dan kembali ke seluruh Palestina," kata pemimpin Hamas, Ismael Haniyeh dalam sebuah pernyataan seperti dikutip Reuters, Selasa (10/4/2018)

Jebakan Intelijen "Perburuan Penyihir" Netanyahu Terhadap Polisi Israel

Dalam kasus tuduhan korupsi, Netanyahu sudah dua kali diperiksa. Dia diduga memberikan bantuan regulasi kepada Bezeq Telecom Israel sebagai imbalan atas liputan yang menguntungkan di situs berita yang dikontrol pemilik perusahaan tersebut.

Netanyahu membantah melakukan kesalahan dan mengaku sebagai korban operasi kontra intelijen bersandi "Perburuan Penyihir". Media Israel yang dilansir Reuters melaporkan bahwa istri dan putra Netanyahu juga akan diperiksa secara terpisah dalam penyelidikan kasus ini. Pemeriksaan untuk mengetahui apakah mereka memiliki hubungan dengan pemilik Bezeq.

Dalam penyelidikan kasus pertama, yang dikenal sebagai "Kasus 1.000", Netanyahu dicurigai menerima suap berupa hadiah dari pengusaha kaya, yang menurut polisi bernilai hampir USD 300.000.

Kasus kedua yang dikenal sebagai "Kasus 2.000", melibatkan dugaan plot untuk memenangkan liputan positif di surat kabar terbesar Israel, di mana Netanyahu diduga  menawarkan untuk mengambil langkah-langkah guna membatasi sirkulasi surat kabar pesaing. "Mereka membawa dua tuduhan halusinasi dan palsu sebagai bagian dari perburuan penyihir terhadap saya dan keluarga saya yang telah berlangsung bertahun-tahun," kata Netanyahu yang telah menggambarkan dirinya sebagai korban perburuan penyihir politik yang diatur oleh media yang bermusuhan dan polisi yang terlalu agresif seperti dikutip Midle East Monitor, Selasa (22/2/2018)

Operasi Intelijen "Great Return" Netanyahu Terhadap Suriah, Libanon, Iran

Munculnya laporan intelijen Israel tentang adanya serangan senjata kimia di Douma, Suriah, langsung membuat para pejabat Israel "mengalihkan isu internasional " dengan menuding keterlibatan Iran, Suriah, dan Rusia.                          

Pendukung Netanyahu langsung mendesak masyarakat internasional, terutama AS untuk melupakan konflik di Gaza, Palestina. Israel mendesak Presiden Donald Trump untuk menyerang rezim Suriah.

Menteri Urusan Strategis dan Keamanan Publik Israel Gilad Erdan mengatakan, Washington harus meluncurkan serangan terhadap rezim Damaskus sebagai tanggapan atas dugaan serangan kimia di Kota Douma.

Pada saat yang sama, para pejabat Israel tersebut merasa tidak nyaman dengan masyarakat internasional memperhatikan perkembangan di Gaza. Puluhan pemrotes Palestina telah dibunuh oleh pasukan sniper Israel (IDF). Namun, Erdan mengatakan bahwa komunitas global melihat dari sudut pandang yang keliru.

"Serangan mengejutkan menunjukkan kemunafikan internasional yan g luar biasa dari komunitas internasional yang berfokus pada Israel yang menghadapi organisasi teroris Hamas yang mengirim warga sipil ke pagar (perbatasan) kami, ketika puluhan orang terbunuh di Suriah setiap hari," katanya.

Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman juga mengecam masyarakat internasional, karena ketidaktahuan yang disengaja tentang tragedi kemanusiaan di Suriah dan negara-negara lain, tapi mengkritik secara tidak adil terhadap tindakan Israel di Gaza. "Dunia puas tentang kematian warga sipil di Suriah. Sementara itu semuanya mengutuk IDF karena membunuh warga Palestina dalam aksi membela diri," katanya.

Pada saat yang sama, Lieberman tidak mengesampingkan campur tangan intelijen Israel dalam konflik Suriah. "Saya selalu beroperasi dengan asumsi bahwa, pada akhirnya, Israel harus berurusan dengan ancaman utara dan ancaman selatan," katanya ketika ditanya radio Israel, KANN, yang dilansir Senin (9/4/2018).                            

Provokasi Intelijen Netanyahu dan Donald Trump Terhadap Rusia, Turki, Iran

Tokoh pendukung Netanyahu lainnya yang menuntut usulan provokasi militer Israel dan AS di Suriah adalah Kepala Rabbi Israel Yitzhak Yosef, yang menyebut perkembangan di negara Timur Tengah itu sebagai genosida terkejam. "Kami memiliki kewajiban moral untuk tidak diam dan mencoba menghentikan pembantaian ini," katanya yang dilansir Times of Israel, Senin (9/4/ 2018).

Sebaliknya, Pemerintah Suriah maupun Rusia menepis tuduhan bahwa Damaskus sebagai pelaku serangan kimia di Douma. Kedunya menyebutnya sebagai laporan berita palsu, yang bertujuan membantu ekstremis dan membenarkan potensi serangan terhadap pasukan Suriah. Menurut Moskow, serangan kimia di Douma dibuat oleh LSM White Helmets dan kelompok Jaysh al-Islam yang didukung Barat untuk memfitnah Pemerintah Suriah. Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan negara-negara Barat bahwa pihaknya tidak bisa menerima provokasi dan spekulasi perihal dugaan serangan senjata kimia di Suriah. Putin menekankan tidak bisa menerima provokasi dan spekulasi mengenai masalah ini, seperti dikutip Reuters, Selasa (10/4/2018).                                        

Sementara itu, Duta Besar AS untuk PBB Niki Haley dalam ancamannya bersikeras bahwa serangan kimia di Douma adalah fakta yang terbukti dan merupakan kesalahan pemerintah Assad. "Jika PBB menolak untuk mengikuti pimpinan Washington dan campur tangan di Suriah karena 'obstruksi Rusia', AS akan melakukannya sendiri," ujar Haley seperti dikutip Reuters, Selasa (10/4/2018).

Begitupun sikap Menhan Saudi Pangeran M. Salman, dalam rangka mendukung usulan Netanyahu dan Donald Trump mengalihkan isu internasional yang mengutuk Israel karena terus membunuh demonstran Palestina dan kasus korupsinya dari liputan media, Saudi Arabia ikut menyatakan dukungannya. 

"Jika aliansi kami dengan mitra kami membutuhkannya, kami akan hadir," kata Pangeran Mohammed dalam konferensi pers dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Selasa yang merupakan hari terakhir kunjungannya selama tiga hari di negara Eropa tersebut seperi dikutip Reuters, Rabu (11/4/ 2018).                              

Dynno Chressbon,           

Pengamat Intelijen


TOPIK BERITA TERKAIT: #dynno-chressbon #opini 

Berita Terkait

Permainan Suit Jokowi, Prabowo dan Anies

Opini

Zohri Sebentar Lagi

Opini

Koalisi Istana Akan Pecah?

Opini

Jangan Politisasi Ojol Penumpang

Opini

Trend Baru: Bayar Bagasi Apa Lagi

Opini

IKLAN