Jumat, 16 November 2018 09:38 WIB
pmk

Nusantara

185 Jiwa Mengungsi, Longsor Masih Mengancam

Redaktur:

BERTAMBAH-Permukiman penduduk di Desa Telemow, Kecamatan Sepaku, Kaltim yang mengalami longsor, Rabu (11/4) lalu. Foto: Rikip Agustani/KP/JPG

INDOPOS.CO.ID - Bangunan yang longsor di dua RT di Desa Telemow, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur (Kaltim) bertambah. Hingga Minggu (13/4) sore, tercatat ada 23 bangunan di RT 06 dan RT 07 Desa Telemow yang telah runtuh.

Bertambahnya jumlah tersebut setelah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) merobohkan tiga bangunan lagi yang membahayakan apabila dibiarkan. Terdiri dari dua unit tempat tinggal dan satu musala.

Penyebab longsor akibat  hujan dengan intensitas tinggi pada Jumat (13/4) pagi. Hujan yang terjadi dari pukul 07.00 Wita hingga pukul 11.00 Wita itu membuat rekahan yang memanjang di tepi tebing semakin lebar. Akhirnya berdampak pada rumah di atasnya.

”Pada Sabtu sore, tiga bangunan yang rawan kami robohkan,” kata Kepala Sub Bidang (Kasubid) Kedaruratan di BPBD PPU Samudri, Minggu (15/4).

Jumlah bangunan yang berpotensi terkena dampak longsor juga bertambah. Dari 27 unit,  menjadi 30 unit. Tetapi, bangunan yang terancam terdampak longsor itu, sudah tak lagi dihuni. Musibah ini menimpa 80 kepala keluarga (KK) dan 185 jiwa.

”Para korban  sudah mengungsi ke kediaman sanak famili. Mereka trauma, mengingat hujan masih terus turun. Ada yang mengungsi ke Petung, Sepaku, dan juga Pemaluan. Jadi tak ada yang ada di Posko Pengungsian,” ucapnya.

Lebar longsor telah mencapai 13 meter lebih. Dengan rekahan yang terjadi di jalan sekitar longsor yang mencapai 1,5 meter. Makanya, BPBD selalu mengingatkan kepada warga yang melintas agar berhati-hati.

BPBD masih berupaya merelokasi warga, agar tak lagi tinggal di sana. Ada dua opsi yang akan ditempuh. Merelokasi warga ke Trunen, Desa Bumi Harapan, Kecamatan Sepaku. Di lokasi Kampung Peternakan Sapi itu, rencananya  dibangunkan 200 rumah sederhana. Jika warga RT 06 dan RT 07 tak keluar dari Desa Telemow, pilihan lain menggunakan tanah PT ITCI Kartika Utama (ITCIKU) yang berstatus Hak Guna Usaha (HGU) seluas 2 hektare. Letaknya di kilometer Desa Telemow, yang diusulkanuntuk dibebaskan Pemerintah Desa  Telemow.  ”Untuk pembebasannya antara Rp 100 jura Rp 150 juta. Itu  cuma tanah. Kalau yang ingin ada rumahnya bisa direlokasi di Trunen,” terangnya.

Kepala Desa Telemow Wakid Santoso menyatakan masih belum membahas usulan relokasi dengan warga yang menjadi korban longsor. Karena masih dalam masa tanggap darurat selama 14 hari. “Setelah tanggap darurat selesai, baru kami bahas dengan pertemuan bersama seluruh warga yang menjadi korban longsor,” katanya.

Kades mengaku ada beberapa warga menyampaikan tidak ingin ke luar dari Desa Telemow. Jika relokasi memang harus dilakukan, maka warga meminta di wilayah yang dekat dengan Desa Telemow.

Diberitakan sebelumnya, Rabu (11/4) dini hari lalu bencana longsor terjadi di RT 06 dan RT 07 Km 6 Desa Telemow, Kecamatan Sepaku. Ada 20 rumah yang ambruk pada hari itu. (*/kip/san/jpg)


TOPIK BERITA TERKAIT: #longsor 

Berita Terkait

Lebak Terancam Banjir dan Longsor

Banten Raya

Jalur Alternatif Cigombong- Cihideung Nyaris Putus

Megapolitan

Hujan Lebat, Rumah Dipinggir Kali Ragunan Longsor

Jakarta Raya

Longsor di Kali Bali Matraman, Satu Penghuni Rumah Tewas

Jakarta Raya

Dilanda Longsor, 12 Rumah di Kuningan Rusak

Nusantara

Bencana Longsor Mengintai Ibu Kota

Jakarta Raya

IKLAN