Senin, 23 Juli 2018 07:35 WIB
BJB JULI V 2

Internasional

Myanmar Tak Serius Lakukan Repatriasi

Redaktur:

PENGUNGSI ROHNGYA - Dari kiri ke kanan Syaimama, Mominah, Kamal Nuson, Muhamad Ilyas dan Umar Syarif, lima orang Rohingya yang diselamatkan oleh nelayan Indonesia setelah terdampar di laut selama hampir tiga mingggu. AFP PHOTO / CHAIDEER MAHYUDDIN

INDOPOS.CO.ID – Tempat penampungan sementara di Taungpyoletwea tidak lagi kosong. Mulai Sabtu (14/4), ada lima orang yang menghuninya. Seorang lelaki dewasa, dua perempuan dewasa, dan dua anak-anak. Mereka adalah keluarga Rohingya pertama yang dipulangkan dari kamp pengungsian Cox's Bazar di Bangladesh.

”Lima orang yang masih satu keluarga tiba di Taungpyoletwea, Rakhine, pagi ini (Sabtu pagi, Red).” Demikian bunyi keterangan tertulis Kementerian Luar Negeri Myanmar pada Sabtu malam. Sayang, dalam keterangan yang diperoleh Reuters itu, tidak disebutkan nama para pengungsi tersebut.

Proses repatriasi pengungsi Rohingya dari Bangladesh seharusnya sudah dimulai Januari, sesuai kesepakatan Myanmar dengan Bangladesh saat meneken perjanjian November lalu. Namun, dengan alasan belum siap, Myanmar berkali-kali menunda repatriasi. Wajar bila Bangladesh lantas menganggap Myanmar tidak serius dengan janji menerima kembali kaum Rohingya yang kabur akibat represi itu.

Dalam kesepakatan awal, Myanmar berjanji menerima kembali sekitar 1.500 pengungsi Rohingya per pekan. Dengan cara tersebut, sekitar 700.000 warga Rohingya yang mengungsi ke Bangladesh setelah aksi sektarian Agustus lalu baru bisa pulang seluruhnya dalam waktu sembilan tahun. Itu belum termasuk rombongan pengungsi lain yang masuk Bangladesh sebelum Agustus.

Saat ini Bangladesh menampung sekitar 1,2 juta pengungsi Rohingya. Mereka tersebar di beberapa kamp pengungsian. Tapi, mayoritas terpusat di Cox's Bazar.

Dalam pandangan Bangladesh, proses repatriasi yang dijalankan Myanmar terlalu berbelit. Sebelum boleh kembali ke Rakhine, para pengungsi Rohingya itu harus bisa membuktikan bahwa mereka memang berasal dari sana. Dokumen resmi menjadi syarat utama yang Myanmar ajukan. Itu bukan perkara mudah. Sebab, kaum Rohingya yang menetap di Rakhine sejak 1982 tersebut tak punya kartu identitas.

Di antara 8.032 dokumen pengungsi yang diserahkan oleh Bangladesh setelah melewati proses pendataan, Myanmar hanya memverifikasi 374 dokumen. Karena itu, hanya sejumlah itu pula pengungsi Rohingya yang bisa masuk Myanmar dalam gelombang repatriasi pertama. Jauh di bawah kesepakatan yang mencapai 1.500 orang.

Sebelum dikembalikan ke kampungnya, para pengungsi lebih dulu tinggal di kamp penampungan sementara. Di sana, mereka akan menjalani adaptasi. Tapi, dunia internasional menganggap tahap itu sebagai cara Myanmar menunda kebenaran terkuak. Sebab, berbagai fakta menunjukkan bahwa kampung Rohingya di Rakhine sudah dihuni orang-orang yang sengaja dihadirkan pemerintah Myanmar.

Kemarin The Guardian melaporkan bahwa lima pengungsi Rohingya yang kembali ke Myanmar itu langsung diberi kartu identitas. Dalam foto yang beredar, kartu itu tampak dilengkapi dengan foto dan identitas diri. Termasuk nama. Kepada media, Myanmar menyebut kartu identitas itu sebagai national verification card (NVC).

Wakil Sekjen HAM PBB Ursula Mueller yang pekan lalu melawat ke Myanmar menegaskan bahwa memulangkan warga Rohingya ke Rakhine saat ini bukan solusi tepat. ”Tidak ada fasilitas kesehatan yang memadai,” ujarnya seperti dikutip BBC. Dia juga masih mengkhawatirkan keselamatan kaum Rohingya di Myanmar. (hep/c11/pri/jpg)

Lika-liku Repatriasi

23 November 2017

Myanmar dan Bangladesh meneken nota kesepahaman (MoU) repatriasi Rohingya.

22 Januari 2018

Jadwal repatriasi pertama yang ditetapkan dua pihak, tapi Myanmar ingkar. Alasannya belum siap.

Februari 2018

Bangladesh menyerahkan dokumen lengkap milik 8.032 warga Rohingya yang berstatus sebagai pengungsi.

15 Maret 2018     

Myanmar hanya memverifikasi dokumen resmi 374 warga Rohingya.

13 April 2018

Bangladesh meneken MoU dengan UNHCR yang akan mengawasi proses repatriasi.

14 April 2018

Myanmar mengumumkan satu keluarga Rohingya yang terdiri atas lima orang menjadi pengungsi pertama yang direpatriasi dari Bangladesh.

Sumber: Daily Star, BBC


TOPIK BERITA TERKAIT: #rohingya 

Berita Terkait

IKLAN