Jumat, 16 November 2018 09:34 WIB
pmk

Internasional

Bombardir Syria, PM Inggris Abaikan Parlemen

Redaktur:

PENYERANGAN-Asap berembus setelah serangan udara yang dilaporkan di daerah dikuasai pemberontak di kota Daraa di Suriah selatan. AFP PHOTO / MOHAMAD ABAZEED

INDOPOS.CO.ID - PM Inggris Theresa May begitu ngebet bergabung dengan Amerika Serikat dan Prancis menyerang Syria. Sampai-sampai dia melangkahi parlemen dan mengambil keputusan itu sendiri. Keputusan tersebut diambil May dengan dalih kepentingan nasional. Inggris dan dunia Barat, kata dia, memiliki kewajiban untuk menghalangi Assad dan pemerintah lainnya menggunakan senjata kimia.

"Sementara aksi ini memang secara khusus dilancarkan untuk menghalangi rezim Syria, serangan juga akan jadi sinyal kepada pihak lain yang meyakini mereka punya kekebalan menggunakan senjata kimia," jelas May, seperti dikutip oleh Reuters.

Dia tekankan, Inggris dan sekutunya telah menggunakan seluruh cara diplomatis untuk menghentikan penggunaan senjata kimia, tapi berulang kali mendapat hambatan.

"Jadi, tidak ada alternatif praktis lainnya ketimbang menggunakan kekuatan militer untuk menghalangi penggunaan senjata kimia oleh rezim Syria," kata May.

Inggris menggunakan empat jet tempur Royal Air Force dari pangkalan militer di Siprus dan meluncurkan rudal Storm Shadow ke sejumlah terget di Syria.

Menteri Pertahanan Inggris menyatakan pihaknya telah melakukan analisis ilmiah agar serangan itu bisa menghancurkan penyimpanan senjata kimia, tapi tetap meminimalisir efeknya pada area di sekitar lokasi tersebut.

"Fasilitas yang menjadi target serangan berjarak cukup jauh dari konsentrasi massa sipil yang diketahui, sehingga bisa lebih jauh lagi mengurangi risiko," begitu pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Inggris.

Banyak politisi di Inggris, termasuk dari Partai Konservatif, telah meminta anggota parlemen dipanggil dari masa liburnya untuk memberikan persetujuan atas serangan militer.

"Sebagai perdana menteri, ini pertama kalinya saya harus mengambil keputusan untuk menempatkan pasukan bersenjata kami pada sebuah pertempuran -- dan ini bukan keputusan yang saya ambil dengan mudah," kata May.

Mantan PM Inggris David Cameron pernah kalah di dalam pemungutan suara di parlemen ketika akan mengambil keputusan menyerang Assad pada 2013 silam. Ketika itu 30 anggota dari Partai Konservatif menentang dan banyak penduduk Inggris meyakini bahwa terlibat dalam konflik tersebut tidak akan membawa stabilitas pada Timur Tengah.

Jajak pendapat daring yang diluncurkan YouGov pekan ini mengindikasikan hanya seperlima dari para pemilih yang merasa Inggris perlu meluncurkan serangan

Pemimpin Partai Buruh Jeremy Corbyn, yang dikenal memiliki sikap anti-perang, menyatakan Inggris seharusnya terus menekan PBB untuk menggelar penyelidikan independen, ketimbang menunggu instruksi Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (sam/rmol)


TOPIK BERITA TERKAIT: #syria 

Berita Terkait

Syria Halangi Evakuasi, White Helmets Mengaku Terancam

Internasional

Gencatan Senjata Terancam Gagal

Internasional

Syria Rebut Kota Deir Az Zor dari ISIS

Internasional

Konvoi Terakhir Angkut Pejuang Oposisi dan Keluarga

Internasional

Pasukan Assad Eksekusi Puluhan Warga Sipil

Internasional

IKLAN