Minggu, 19 Agustus 2018 07:08 WIB
pmk

Tekno

Pertama di Dunia, Fairy Suryana Ciptakan DewaNations, Sosmed Berkonsep Virtual World

Redaktur:

Generasi Terbaru-Fairy Suryana.

INDOPOS.CO.ID - Dari sekian banyak sosial media (sosmed) seperti Facebook, Twitter, Instagram, Path, Google Plus, Pinterest, Tumblr, Flickr, Linkedln, Ask.Fm, dan Social “Chat” Apps, ada satu sosmed yang merupakan karya anak bangsa. Apa itu? Adalah DewaNations.

Yang membedakan jejaring-jejaring sosial yang ada, DewaNations yang diciptakan Fairy Suryana ini merupakan social network berbasis negara pertama dengan konsep virtual world atau dunia virtual dan sebuah big data. DewaNations adalah sebuah terobosan dan generasi terbaru dalam social networking

”Berbeda dengan social network lainnya, kami memilah setiap pengguna DewaNations sesuai dengan negara mereka berasal. Jadi kalau saya warga Indonesia, maka ketika mendaftar, saya memilih Indonesia sebagai negara saya. Maka, jumlah populasi Indonesia di DewaNations bertambah satu orang ketika saya mendaftar,” ujarnya kepada INDOPOS di Jakarta belum lama ini.

Sejauh ini, lanjut Fairy, di DewaNations sudah tersedia sekitar 132 negara dari total 160 negara. Karena berbasis negara, tentu ada perangkatnya seperti ada presiden, menteri, gubernur, wali kota, dan sebagainya. Presiden dan gubernur dipilih warganya melalui proses pemilu yang diadakan setiap dua tahun sekali tepat pada 16 Juni. ”Kenapa 16 Juni? Itu karena tanggal ulang tahun gue,” ujar Fairy sambil tertawa.  

Sedangkan member yang pertama kali membuat sebuah kota akan otomatis menjadi wali kota dari kota tersebut. Layaknya sebuah forum online seperti Kaskus yang memiliki admin dan moderator. Di DewaNations, setiap negara dipimpin seorang admin yang juga menjabat presiden. Lalu di setiap provinsi dan kota dipimpin seorang moderator yang juga menjabat gubernur dan wali kota.

Fairy menjelaskan, presiden, gubernur, dan wali kota di DewaNations mempunyai kuasa untuk mengedit, menghapus posting warganya jika melakukan pelanggaran seperti hoax, status kebencian, memicu konflik, dan sebagainya. Kemudian mengurung warganya ke dalam sebuah penjara virtual. ”Mereka juga akan mendapat komisi sebesar satu persen-2,5 persen dari penghasilan negara (APBN, Red) atau penghasilan daerahnya (APBD, Red). DewaNations lebih dinamis dibanding sosmed lainnya karena ada passion dan ambitions,” jelas pria yang juga menciptakan corak loreng SAMAR yang dikenakan Sat 81 Gultor Kopassus dan rompi antipeluru SAKTI Kostrad.

DewaNations sendiri awalnya diciptakan Fairy sejak 1995 di Amerika Serikat (AS) dengan nama, dewa.com dan sebagai search engine berbasis negara. Kala itu, dia masih kuliah di Strayer University sampai menyandang gelar Bachelor of Business Administration (BBA), 1992-1996.

Yang menarik, untuk belajar komputer, Fairy melakukannya secara otodidak. Awalnya dia pulang libur semester ke Indonesia pada Juni 1995. Di kamar adiknya, dia melihat ada komputer. Dari situlah ketertarikan terhadap dunia IT (Information technology) muncul. Sekembali ke AS dan menonton film Assassins yang dibintangi aktor Sylvester Stallone dan Antonio Banderas, dia mulai melirik komputer. ”Di film itu menggunakan alat komputer. Ini menginpirasi saya untuk belajar komputer,” ujar Founder & Chairman Mahacon Group of Companies itu.

Meski kuliah di bidang bisnis, namun Fairy tetap menekuni IT. Baru dua bulan, dia bahkan sudah bisa membuat situs. Kemudian pada akhir 1995, Fairy mendirikan dewa.com. ”Pada 1994 muncul yahoo.com. Setahun kemudian saya ciptakan dewa.com (1995, Red), lalu pada 1998 ada google.com,  dan pada 2001 baru ada Facebook,” terangnya.

Seiring dengan perjalanan waktu, dewa.com beralih dari search engine ke sosmed konsep baru yakni, DewaNations. Itu dilakukan Fairy bersama timnya sejak dua tahun lalu, persisnya pada 2016. ”Mulanya saya mengajak anak-anak ITB, tim ada delapan orang. Tapi di tengah jalan, beberapa orang ‘dibajak’ pengusaha lain (pindah kerja, Red). Akhirnya tinggal tiga orang, saya; kawan saya, Darwis; dan seorang programmer,” jelasnya sambil menunjuk Darwis yang berada di dekatnya.    

Mereka terkadang bekerja selama 24 jam baik di kantor maupun di rumah. Ada kalanya dikerjakan secara fleksibel, tidak setiap hari. ”Kalau bulan puasa, biasa kita kerjakan selesai sahur sampai waktu Imsak. Pokoknya waktu itu kita jalanin apa adanya. Ibarat tim kecil, kayak pasukan khusus lah. Sekarang tim kita ada sekitar tujuh sampai delapan orang,” tandasnya.

DewaNations diciptakan Fairy tanpa mencontoh konsep atau model sosmed pihak lain. Ini murni hasil inovasi karya anak bangsa. Bahkan November 2017, Facebook baru memilah penggunanya berdasarkan daerah, kota, provinsi, dan negara. Sementara DewaNations sudah melakukannya pada 2016.

Meski DewaNations masih soft launching,  namun warganet yang bergabung di DewaNations sudah cukup banyak. Tak hanya dari Indonesia, namun juga ada dari negara lain seperti Amerika, India, dan sebagainya. Bahkan menurut statisitik real time awstat di-server, Dewa sudah dikunjungi sebanyak 160 negara setiap hari. Rencananya DewaNations akan diluncurkan pada akhir tahun ini. Nah masyarakat yang ingin bergabung dengan DewaNations dapat melakukan aplikasi melalui android dan download di google playstore, https://play.google.com/store/apps/details?id=com.dewanations.id. 

Menurut Fairy, sudah saatnya Indonesia memiliki social network sekaliber Facebook dan digunakan seluruh negara di dunia. Beberapa pengguna bule menyatakan bahwa DewaNations lebih baik dibanding Facebook. Dan ini merupakan sinyal positif akan munculnya sebuah aplikasi fenomena buatan putra bangsa yang berkelas dunia. ”Sudah saatnya pula provider di Indonesia seperti telkomsel, XL, Indosat, dan sebagainya dengan bangga menampilkan logo sosmed buatan dalam negeri di setiap iklan mereka dan bukan hanya bangga menampilkan logo Facebook, Twitter atau Instagram,” ujarnya. (*)


TOPIK BERITA TERKAIT: #feature 

Berita Terkait

IKLAN