Senin, 20 Agustus 2018 04:06 WIB
pmk

Headline

JAD Masih Jadi Ancaman

Redaktur:

Sebuah bom meledak di halaman Mako Polrestabes Surabaya, Senin (14/5) lalu.

INDOPOS.CO.ID - Pengamat Terorisme Al Chaidar mengatakan, teror bom di Surabaya dan Sidoarjo yang dilakukan Jemaah Ansharud Daulah (JAD) bukanlah yang terakhir. Menurutnya, mereka akan terus melakukan pergerakan dengan pola serangan bom bunuh diri, di beberapa wilayah di Indonesia.

"Kemungkinan akan ada (serangan) lagi, karena mereka akan melakukan serangan-serangan beruntun berikutnya," ujar Al Chaidar kepada INDOPOS di Jakarta, Selasa (15/5).

Al Chaidar mengaku, tidak mengetahui secara pasti waktu dan tempat pengeboman tersebut. Akan tetapi ia meyakini bahwa bom bunuh diri yang dilakukan 'pengantin' itu akan di laksanakan di beberapa tempat yang menjadi wilayah kekuasaan JAD. 

Adapun wilayah tersebut seperti Jakarta, Bandung, Medan, Depok, Bekasi atau Tangerang. Kata Al Chaidar, beberapa kota tersebut, merupakan persebaran dari JAD yang pernah di pimpin oleh Aman Abdurrahman alias Oman.

"Itu merupakan daerah-daerah yang mereka kuasai. Paling banyak mereka itu. Dari dulu kita sudah nyatakan dan sudah diketahui polisi, bahwa paling banyak orang JAD di Surabaya," jelasnya.

Kemudian Al Chaidar menjelaskan, target para jemaah itu melakukan serangan bom bisa bermacam-macam. Minimal targetnya ada tiga jenis kelompok yang disasar bom.

Yang pertama, disebutkan Al Chaidar, target mereka ialah thogut yang merupakan polisi dan tentara. Kemudian yang kedua, orang yang dinilai kafir afau kafirun, orang-orang non muslim. "Jadi serangannya bisa ke Gereja, Vihara, Panti Asuhan, sekolah-sekolah agama tertentu," jelasnya.

Yang ketiga, sambung dia, fasikun atau orang-orang yang beragama Islam tapi di anggap tidak menjalankan ajaran Islam secara baik. Al Chaidar sebut, seperti orang yang mengikuti pertemuan-pertemuan parpol, orang yang sering di keramaian musik serta sering ke mall.

Sedangkan JAD sendiri, menurut Al Chaidar, saat ini masih aktif di 16 provinsi dengan 300 orang yang siap melakukan bom bunuh diri. "Kalau jemaahnya banyak sekali, menurut View Researh Center ada jutaan," beber dia.

"Untuk anak-anak nggak termasuk (300 orang)" imbuhnya.

Keterlibatan anak-anak dalam pengeboman di Surabaya itu merupakan sesuatu yang baru. Kata Al Chaidar, hal tersebut telah disesuaikan dengan keputusan para ulama JAD. "Itu keputusan ulama-ulama mereka ya. Mereka (anak-anak) masuk dalam kategori jihadist," pungkasnya. (jaa)


TOPIK BERITA TERKAIT: #terorisme #teror-bom 

Berita Terkait

IKLAN