Hukum

YLKI: Penyelesaian Lewat Hukum Sebagai Shock Therapy

Redaktur: Wahyu Sakti Awan
YLKI: Penyelesaian Lewat Hukum Sebagai Shock Therapy - Hukum

Foto : Ilustrasi

INDOPOS.CO.ID - Kasus penipuan terkait dengan jual beli properti menjadi laporan yang paling marak diterima oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Penyelesaian melalui jalur hukum menjadi upaya kejut atau shock therapy bagi pengelola dan pengembang.

Pengurus Harian YLKI Sularsih menyatakan, kasus properti masih cukup dominan menjadi aduan masyarakat. Dalam 3 tahun terakhir, pengaduan terkait dengan perumahan vertikal atau rumah susun paling banyak.

“Karena dalam 3 tahun ini pembangunan rumah susun, apartemen, itu marak, paling besar terkait dengan itu. Paling banyak memang masih terkait dengan pembangunan. Rumah sudah dibeli, sudah dibayar, bangunannya tidak jadi,” ujarnya.

Selain soal pembangunan, masalah lain yang menjadi keluhan konsumen adalah mengenai transaksi. Konsumen menyerahkan uang kepada pihak lain di luar pengembang dalam pembelian properti.

Kendala terkait dengan pembangunan biasanya juga menyangkut legalitas dari proyek properti yang dibangun. Setiap proyek properti harus mengantongi izin dan konsumen harus dijelaskan secara rinci mengenai status bangunan dan lahan yang dipakai oleh pengembang.

YLKI meminta konsumen yang dirugikan terkait dengan jual beli proyek properti untuk melakukan upaya mediasi. Hanya saja, apabila upaya mediasi gagal dan memilih menggunakan jalur hukum, hal itu dapat dilakukan.

Langkah melalui jalur hukum menjadi cara memberikan shock therapy bagi pihak yang bertanggung jawab terkait dengan proyek properti.

Sularsih mengingatkan kepada konsumen supaya langkah melalui jalur hukum tidak menghilangkan kewajiban pengembang atau penanggung jawab proyek properti menuntaskan kewajibannya kepada konsumen.

Laporan kepada polisi terkait dengan properti lagi-lagi disampaikan oleh konsumen kepada pihak kepolisian.

Badan Reserse dan Kriminal Polri diketahui tengah mendalami  kasus tindak pidana penipuan dan penggelapan yang melibatkan PT Kemuliaan Mega Perkasa, pengembang Kuningan Place.

Dalam surat No. B/877/XII/2017/Dit Tipidum Bareskrim yang diterbitkan pada 21 Desember 2017, Bareskrim Polri menetapkan salah satu petinggi PT Kemuliaan Mega Perkasa berinisial VF sebagai tersangka. (far)

 

Berita Terkait

Megapolitan / Dendam Dicerai, Aniaya Anak Sendiri

Nasional / Kejagung Bantah Rekomendasikan SP3

Internasional / Putri Emir Dubai Dikurung Tiga Tahun

Internasional / Mantan Petinggi Kepolisian Dihukum Seumur Hidup

Ekonomi / Usai Pilpres, Properti Bergairah


Baca Juga !.