Sabtu, 17 November 2018 02:59 WIB
pmk

Nusantara

Anomali Cuaca Waspada Kekeringan Mulai Menghantui Kawasan Gunung Kidul dan Sekitarnya

Redaktur:

INDOPOS.CO9.ID - Sejumlah daerah dilanda hujan lebat disertai angin kencang. Di daerah lain musim sudah menimbulkan dampak kekeringan. Salah satu daerah yang terdampak adalah Provinsi DI Jogjakarta.

Sebagaimana dilaporkan BMKG sejak 18 Juni, hujan lebat, petir, angin kencang, serta gelombang tinggi disebabkan sirkulasi siklonik yang terbentuk di sebelah barat Sumatera. Siklonik itu membawa masa udara basah dari Samudra Hindia. Akibatnya, pembentukan awan hujan mudah terjadi di hampir seluruh Indonesia Barat dan Tengah serta sebagian wilayah Papua.

Meski demikian, masyarakat perlu mewaspadai dampak kekeringan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa Kabupaten Gunung Kidul di Daerah Istimewa Jogjakarta didera kekeringan signifikan. Wilayah yang terdampak meliputi 11 kecamatan. Yakni, Kecamatan Girisubo, Ngelipar, Paliyam, Panggang, Purwosari, Rongkop, Tanjungsari, Tepus, Ngawen, Ponjong, dan Gedangsari.

Kepala Humas BMKG Hary Tirto Djatmiko mengatakan, meski tersebar luas, potensi cuaca ekstrem berupa hujan lebat tidak merata di seluruh Indonesia. Ada beberapa wilayah yang mengalami hari tanpa hujan (HTH) ekstrem selama lebih dari 60 hari.

Wilayah-wilayah tersebut, antara lain, Jawa Tengah bagian utara, Jogjakarta, Jawa Timur bagian timur, Bali, dan Nusa Tenggara. "Jadi, Jogjakarta masuk di wilayah dengan HTH ekstrem," kata Hary kemarin (27/6).

Hari tanpa hujan tersebut, kata Hary, terjadi di wilayah dengan curah hujan di bawah 50 milimeter per 10 hari. Berdasar analisis dasarian ketiga BMKGJuni 2018, wilayah lain dengan curah hujan serendah itu, antara lain, sebagian Riau, Majalengka, sekitar Cirebon, Jawa Tengah bagian timur sampai Bali bagian barat, Nusa Tenggara, dan Papua Barat bagian selatan. "Juga sebagian besar Papua, kecuali sekitar Pegunungan Jayawijaya," jelas Hary.

Sementara itu, Kapusdatin dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyatakan, kekeringan di Kabupaten Gunung Kidul mengganggu kehidupan setidaknya 32 ribu kepala keluarga (KK) atau 96.423 jiwa. Masyarakat di lokasi itu sangat membutuhkan bantuan air bersih. Sutopo memperkirakan kemarau berlangsung hingga Oktober mendatang. "Ini dapat menimbulkan berbagai masalah terkait penyediaan air bersih," katanya.

BPBD Kabupaten Gunung Kidul sejauh ini berupaya mendistribusikan air bersih sebanyak 5.000 liter. Dimuat dalam 3.360 truk tangki air bersih dengan distribusi 24 mobil tangki air per hari. Sudah ada 6 unit armada mobil tangki dengan kapasitas 5.000 liter lengkap dengan diesel pompa air, pipa, dan slang. "Pendistribusian air bersih sudah dimulai tanggal 4 Juni sampai sekarang," jelas Sutopo. (tau/c19/fat/JPC)


TOPIK BERITA TERKAIT: #kemarau 

Berita Terkait

Kekeringan Masih Melanda Ngawi

Nusantara

Warga Berburu Air di Lereng Jurang

Nusantara

Kemarau, Ratusan Hektare Lahan Pertanian Menganggur

Banten Raya

Dampak Kekeringan, Minum Air Sungai

Nusantara

Penggarap Lahan Kering Lebak Butuh Alsintan

Banten Raya

IKLAN