Rabu, 26 September 2018 04:44 WIB
pmk

Nusantara

Awal Musim Kemarau, Pacitan Mulai Kekeringan

Redaktur:

AMBIL AIR - Seorang warga tengah mengambil air dari desa lain karena desanya dilanda kekeringan hebat. Tahun ini di Pacitan, Jawa Timur terdapat 28 desa yang masuk dalam zona merah kekeringan. DOK RADAR PACITAN

INDOPOS.CO.ID – Meski baru memasuki awal musim kemarau, namun kekeringan sudah mulai terjadi di Pacitan. Parahnya, beberapa desa di Kota 1001 Gua ini sudah mengajukan permintaan dropping air bersih. Hal itu tak lepas dari semakin minim, bahkan tak adanya lagi sumber air yang tersedia.

“Sudah kita lakukan dropping air,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Pacitan Windarto kemarin (8/7).

Windarto mengungkap, setiap hari setidaknya dua hingga tiga truk tangki dropping air dari BPBD Pacitan terjun mendistribusikan air bersih. Tak jauh berbeda dengan tahun lalu, kebanyakan permintaan berdasarkan 28 desa yang masuk dalam zona merah kekeringan.

Meski tahun lalu dari 12 kecamatan yang ada hanya wilayah Kecamatan Tegalombo yang masuk zona ring dua, namun tahun ini berbeda. Di Tegalombo, misalnya, beberapa desa telah mengajukan permintaan air bersih. “Kebanyakan yang minta dropping air karena pipa PDAM mereka rusak,” terang Windarto.

Permintaan air juga datang dari wilayah Desa Watukarung. Serupa dengan yang ada di Kecamatan Tegalombo, rusaknya pipa PDAM menjadi sebab sulitnya air. Pun bencana yang terjadi akhir tahun lalu, diungkap Windarto, menjadi sebab banyaknya pipa air yang rusak. “Di beberapa lokasi sudah diperbaiki. Jadi, tak semua permintaan setelah kami survei masih membutuhkan air. Ada yang membatalkannya,” katanya.

Windarto mengungkapkan, untuk antisipasi kekeringan, lima truk tangki telah disediakan BPBD untuk memasok air bersih ke berbagai lokasi di Pacitan. Tak tanggung-tanggung, total sebanyak 23 ribu liter terpisah dalam lima truk tangki. Yakni, tiga berukuran 4.000 liter, satu berukuran 5.000 liter, dan satu lainya 6.000 liter. Jumlah itu jika dilihat dari tahun lalu sudah mencukupi untuk memasok air bersih di 11 kecamatan di Pacitan. “Nanti air bakunya dari PDAM untuk suplai air bersih,” jelas Windarto.

Dia menambahkan, lokasi kecamatan-kecamatan di Pacitan yang berbatu kars dan berbukit membuat air pada waktu musim hujan sulit tersimpan. Meski dapat meresap ke dalam tanah, namun karena jarak antar permukaan tanah dengan sumber air yang dibatasi bebatuan kars membuat sumur tradisional sulit dibuat.

Butuh puluhan meter menembus bukit untuk mencari air. Ditambah mayoritas para penduduk di beberapa kecamatan tinggal di atas bukit berbatu keras tersebut. “Alhasil, air tanah sulit dicari kalau musim kemarau,” sambung Windarto.

Tak hanya itu, lokasi di ketinggian juga membuat pipa PDAM sulit menjangkau lokasi. Seperti di Dusun Klepu, Kalak, Donorojo, di awal musim kemarau ini warga mulai mengeluh akan saluran air PDAM yang kerap mati. Padahal, itu merupakan sumber air satu-satunya bagi warga dusun. Meski kekeringan di lokasi tersebut hampir terjadi tiap tahun di musim kemarau. “Karena sumber mata airnya gak ada, itu juga masuk ke wilayah kars dan berbukit,” terangnya.

Selain potensi kekeringan, potensi kebarakan hutan juga mungkin terjadi di Pacitan. Pasalnya, udara yang panas dan angin kencang membuat api bisa timbul di dedaunan yang kering. (mg6/c1/rif/JPG)


TOPIK BERITA TERKAIT: #musim-kemarau 

Berita Terkait

Kemarau, Kualitas Air Jakarta Memburuk

Jakarta Raya

Kemarau, Warga Cibarusah Andalkan Kali Cipamingkis

Megapolitan

Lokasi Kritis di Pesisir Riau, Terpantau 17 Hotspot

Nusantara

Daerah Mulai Bersiap Sambut Musim Kemarau

Nasional

IKLAN