Rabu, 26 September 2018 04:06 WIB
pmk

Politik

#2019GantiPresiden Ancam Jokowi

Redaktur:

Presiden Joko Widodo. Foto: jawapos.com

INDOPOS.CO.ID - Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA merilis temuan survei terbarunya, mengenai elektabilitas capres-cawapres usai perhelatan Pilkada 2018. Dari beberapa temuan, ternyata kampanye dengan tagar 2019 Ganti Presiden tak dapat dianggap enteng. LSI menyebutkan, terjadi kenaikan pendukung gerakan tersebut. Jika pada Mei 2018, hanya 49,80% yang menyukai gerakan tersebut, pada Juli 2018, meningkat menjadi 54,4%. Sedangkan tingkat pemahaman masyarakat tentang gerakan tersebut, kini sudah mencapai 60,5%. LSI menyebut situasi ini sebagai ancaman terhadap Joko Widodo di pilpres 2019 mendatang.

" #2019gantipresiden semakin dikenal. Dari dikenal sebesar 50,8 persen sebelum Pilkada atau bulan Mei, kini paska pilkada menjadi dikenal 60,5 persen," kata Peneliti LSI Denny JA, Adjie Alfaraby dalam jumpa persnya di Rawamangun Jakarta, Selasa (10/7).

Selain itu, dari hasil survei menunjukan dari masyarakat yang tahu kampanye tersebut, sebesar 54,4 persen mengaku menerima atau menyukainya.

Mengenai siapa penantang potensial Jokowi, menurut Adjie Alfaraby, terdapat sejumlah nama. Jika Prabowo jadi capres, maka pasangan dengan elektabilitas tertinggi, yakni berpasangan dengan Gatot, yang mencapai 35,6 persen. Sementara, Jika Anies Baswedan jadi capres, pasangan terbaiknya adalah Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dengan elektabilitas sebesar 33,3 persen. Sementara jika disandingkan antara Gatot dengan Anies, elektabilitas mencapai 31,8 persen.

Adjie Alfaraby mengatakan, prosentase gabungan ini, ada semangat yang bersatu untuk mengalahkan Jokowi. Ini artinya ada satu pandangan yang bisa menjadikan mereka satu kekuatan, baik apakah kemudian satu pasangan atau dua pasangan seperti skenario pilkada DKI kemarin.

“Di mana di awal muncul dua pasangan. Kemudian di putaran dua cenderung satu pasangan, walaupun AHY pada saat itu tidak menyatakan dukungan. Tapi di sektor pemilih, bersatu,” jelasnya.

Jadi memang, tambah Adjie Alfaraby, saat ini Prabowo masih galau menentukan pendampingnya untuk melawan Jokowi. Secara matematis masih bisa tiga pasangan, tergantung keputusan politik dari SBY di sisa waktu sebelum pendaftaran.

Disebutkan, pasangan sipil-militer tidak cukup signifikan sebagai pasangan yang diinginkan. Publik tetap melihat mereka sebagai sosok personal yang tidak melekat dengan latar belakang sebelumnya. Bahkan di survey, justru Prabowo- Gatot tinggi ketimbang Prabowo Aher atau TGB yang sipil.

“Artinya, bahwa soal sipil-militer di publik tidak diperhatikan lagi. Mereka hanya melihat berdasarkan sosok. Dan dua sosok yg cukup kuat secara personal, itu penerimaan dan popularitas mereka. Kalau digabung elektoral mereka cukup signifikan,” jelas Adjie Alfaraby.

Ia menambahkan, nama Prabowo masih cukup baik, walau tetap di bawah Jokowi. Ini artinya hingga sekarang masih banyak saja pemilih Prabowo. Tapi persoalannya, kata dia, siapa tokoh yang bisa mengumpulkan pemilih yang tidak memilih Jokowi. Karena sekarang masih terpecah ke AHY, Anies dan Katot.

“Kalau kemudian ada sosok yang muncul sebagai figur yang bisa menyatukan itu, dan juga diendorse oleh tokoh sebelumnya, misalnya muncul Gatot yang kemudian didukung Anies, AHY, ini kan bisa menjadi kekuatan yang lebih kuat,” tegasnya.

Lantas, bagaimana peluang Anies Baswedan? Menurut Adjie Alfaraby, peluang Anies tergantung partainya, yakni Gerindra atau PKS,  di luar koalisi Jokowi. Menurut dia, peluang Anies maju sepenuhnya kembali ke Prabowo. Kalau kemudian Prabowo berbesar hati melepas dalam artian menyerahkan ke tokoh yang lain, maka peluang Anies cukup besar.

“Karena secara electoral, Anies cukup baik walau masih jauh dari Jokowi,” jelas Adjie Alfaraby.

Sedangkan soal penolakan terhadap pencapresan Anies, menurut dia, tetap ada. Kasus yang sama bisa dilihat ketika Jokowi dulu maju menjadi capres. “Saya pikir peluang penolakan dari masyarakat akan muncul kalau Anies jadi nyapres, terutama mungkin dari mayoritas yang tidak memilih anies di pilkada kemarin,” jelasnya.

Bagaimana elektabilitas Jokowi menurut survey LSI di bulan Juli 2018 ini? Adjie Alfaraby mengatakan, Jokowi semakin menguat dengan raihan 49,3 persen. Angka ini naik 3,3 persen dari sebelum gelaran pilkada sebesar 46 persen. Sedangkan elektabilitas lawannya sebesar 45,2 persen dan sisanya 5,5 persen memilih belum memutuskan.

"Meski Pak Jokowi teratas, tapi ada tiga catatan penting. Yaitu mengenai loyalitas pemilih Pak Jokowi. Pemilih lawannya serta kampanye #2019gantipresiden makin populer," ucap Adjie menjabarkan, dari 49,3 persen pemilih Jokowi, pemilih loyalnya masih berada di bawah 40 persen atau tepatnya 32 persen. Sementara pemilih abu-abu Jokowi berada di angka 17,3 persen.

Di lain sisi, dikatakan Adjie, pemilih anti Jokowi, dari 45,2 persen pemilihnya, sebesar 30,5 persen merupakan pemilih yang dikategorikan loyal. Sisanya, 14,7 persen masih dikategorikan abu-abu.

LSI pun mencoba mengukur, siapa figur yang paling pantas mendampingi Jokowi. Dari temuan LSI, nama Airlangga Hartarto tertinggi dengan elektabilitas sebesar 35,7 persen. Kemudian disusul Tito Karnavian 32,6 persen, Sri Mulyani 32,5 persen, Moeldoko 29 persen, Muhaimin Iskandar 21,5 persen, Susi Pudjiastuti 24,5 persen, dan Wiranto 25,7 persen.

Survei ini dilakukan pada 28 Juni-5 Juli 2018, dengan meawancarai secara langsung 1.200 responden terpilih. Metode sample, yakni multistage random sampling, yang dilengkapi dengan focus group discussion (FGD), analisis media serta in depth interview. Margin of error survei sebesar +/- 2,9 persen.

“Total pemilih yang masih bisa dipengaruhi sebesar 37.5 persen. Jumlah yang masih besar untuk menentukan kemenangan,” tutup Adjie. (jaa)


TOPIK BERITA TERKAIT: #jokowi #pemilu-2019 

Berita Terkait

IKLAN