Senin, 23 Juli 2018 12:45 WIB
BJB JULI V 2

Politik

Partai Oposisi Siap Ikut Komando Ulama

Redaktur:

INDOPOS.CO.ID - Empat Partai Politik menyatakan siap bersatu, sebagaimana yang diinginkan para ulama, yang tergabung  dalam GNPF Ulama dan Persaudaraan Alumni 212 di Pemilu Presiden 2019. Keempat parpol tersebut, yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Gerindra, Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Bulan Bintang (PBB).

Ketua DPD Gerindra DKI Jakarta M Taufik misalnya. Ia mengatakan, seruan ulama itu sejalan dengan harapan dari Gerindra, bahwa pemilu di 2019 nanti haruslah ada pergantian presiden.

"Kami sependapat dengan saran ulama, minimal 4 partai harus berkoalisi untuk pilpres yang akan datang demi kepemimpinan nasional yang baru," kata Taufik kepada INDOPOS di Jakarta, Selasa (10/7).

Ia menyatakan, dengan bersatunya empat parpol, khususnya PKS, PAN dan Gerindra, dipastikan akan mengulangi sejarah memenangkan perebutan kekuasaan di Pilkada DKI Jakarta.  "Pertarungan nanti akan seperti di DKI Jakarta. Saya yakin, jika empat partai ini bersatu maka suara umat akan satu dan Insya allah menang di Pilpres," tegasnya.

Meski begitu, ucap Taufik, Partai Gerindra akan tetap mengusung Prabowo Subianto sebagai calon presiden. "Gerindra Tetap mengusung Pak Prabowo. Ini pun sudah disepakati oleh empat partai itu. Tinggal wakilnya saja yang nanti kita bicarakan. Intinya sejauh ini kita sudah satu kesepahaman," tegasnya.

Bahkan, lanjutnya, meski nanti syarat presidential Threshold dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK), dirinya menegaskan, koalisi di antara empat parpol akan terus berjalan.

"Tak berpengaruh (PT 0 Persen). Koalisi jalan terus," tegasnya.

Ketua DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Yandri Susanto menyampaikan hal senada. "PAN Insya Allah siap dan sesuai harapan (ulama)," ucapnya kepada INDOPOS.

 Yandri yang juga menjabat sekretaris Fraksi PAN DPR RI ini menegaskan, komunikasi dengan  partai Gerindra dan PKS serta PBB selama ini sangat bagus. Tidak ada hambatan sama sekali.

"Lalu, untuk persoalan siapa capres dan cawapres serta format koalisinya, dalam waktu dekat ini akan kami matangkan, di peetemuan partai koalisi," terangnya.

Ia menegaskan,  siapapun berpeluang diusung menjadi Capres-Cawapres untuk Pilpres 2019. Asalkan bukan Jokowi.

"Intinya, PAN ingin menghadirkan calon presiden di luar Pak Jokowi. Siapapun nanti cawapresnya Pak Jokowi, ya kita hormati. Kami juga siap menghadirkan calon alternatif di luar paket Pak Jokowi," tegasnya.

Yandri mengatakan, saat ini setidaknya sudah ada empat nama yang masuk dalam skenario partai berlambang matahari terbit itu. Diantaranya, Ketum Gerindra Prabowo Subianto, Ketum PAN Zulkifli Hasan, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, dan eks Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo.

Menurut Yandri, dari keempat nama itu, siapapun boleh dipasangkan. Hal  terpenting, seluruh partai berkoalisi menyetujuinya.

"Di luar Prabowo-Zulkifli, misalnya Prabowo-Anies kami siap juga. Kalau Anies-Gatot kami siap atau Gatot-Anies," katanya.

Sekretaris Fraksi PAN DPR RI itu menambahkan, 80 persen masyarakat Indonesia menginginkan agar ada calon alternatif presiden di luar nama Jokowi.

"Suara akar rumput di PAN, baik di simpatisan maupun structural, intinya kecenderungan kuat bisa dikatakan hampir 80 persen ke atas itu menghendaki sebaiknya PAN mencalonkan calon alternatif, tidak calon tunggal sehingga rakyat punya pilihan-pilihan dan aspirasi," pungkasnya.

Terpisah, Sekretaris Jenderal PBB Afriansyah Fery Noer saat dihubungi INDOPOS mengatakan, Partainya siap berkoalisi sesuai keinginan ulama GNPF dan PA 212.

"Pada prinsipnya kami PBB setuju saja. Dan siap mengikuti usulan dari HRS (Habib Rizieq Shihab)," ucap Afriansyah.

Meski begitu, kata Afriansyah, dirinya mengimbau kepada PAN, Gerindra dan PKS agar tidak mengenyampikan keberadaan  PBB dalam membahas siapa yang akan diajukan menjadi capres dan cawapres.

"Asalkan ke 4 parpol duduk bersama membahas siapa-siapa yang akan diusung. Kami tidak agresif. Kami memahami tidak punya kursi di DPR. Tapi sampai saat ini kami belum pernah ditemui oleh ketiga partai tersebut," selorohnya.

Sementara itu, Sekjen Partai Berkarya Priyo Budi Santoso menghargai adanya seruan dari ulama agar partainya dapat berkoalisi dengan PAN, Gerindra, PKS dan PBB.

"Kami hargai dan sangat menghormati seruan ulama itu. Kami partai baru siap memberikan yang terbaik untuk negeri ini dengan partai manapun," ucapnya saat dihubungi  INDOPOS.

Meski begitu, sebagai partai baru, dirinya mengaku masih berkonsentrasi untuk mempersiapkan caleg berkualitas agar bisa lolos parliementary Threshold.

"Target terdekat kami adalah #2019GantiDPR. Yakni bagaimana bisa meloloskan wakil di DPR. Dan untuk pencapresan kami serahkan (keputusan) kepada Mas Tommy (Tommy Soeharto) selaku ketua umum," ujarnya.

Terkait pertemuan Tommy dengan Habib Rizieq saat pelaksanaan umroh sepekan yang lalu, lanjut Priyo, hanya membicarakan hal-hal kebangsaan.

"Dan dalam pertemuan itu, Habib Rizieq juga mendoakan agar Partai Berkarya bisa sukses di Pemilu," ungkapnya.

Lebih lanjut, kata mantan wakil ketua DPR RI ini, Partai Berkarya juga mengharapkan  kepada pemerintah agar bisa menempatkan Habib Rizieq sebagai tokoh bangsa.

"Kami sangat menghormati ketokohan Habib Rizieq. Dan kami berharap posisinya sama dengan tokoh lainnya. Khususnya sebagai sosok ulama yang harus kita Hormati," imbuhnya.

Di tempat berbeda, Direktur Eksekutif Sigma Indonesia Said Salahudin berpendapat, seruan ulama kepada empat parpol serta Partai Berkarya adalah hal yang wajar.  "Sah-sah saja jika ada harapan dari pemuka agama agar pada pilpres 2019 nanti sejumlah parpol berkoalisi. Harapan itu menjadi wajar, sebab para ulama itu kan punya banyak pengikut," kata Said.

Dirinya menerangkan, para ulama yang memiliki banyak pengikut tentunya tidak mau sembarangan untuk mengarahkan para santrinya mencoblos parpol dan capres-cawapres.

"Para ulama itu ingin memastikan dulu sikap dari masing-masing parpol yang diminta berkoalisi. Apakah mereka mendengar suara ulama atau tidak," tuturnya.

Selain itu, lanjut Said, para ulama juga perlu kejelasan tentang siapa capres-cawapres yang akan diusung oleh sejumlah parpol itu sebagai bahan untuk menyusun strategi perjuangan memenangkan paslon yang kelak didukung. "Intinya para ulama ini merasa keempat partai itu  bisa satu visi di Pilpres nantinya," tambahnya.

Sebagaimana diketahui pada sehari sebelumnya, Senin (9/7), GNPF Ulama dan PA 212 berkunjung ke kantor DPP PKS. Dalam pertemuan yang berlangsung selama dua jam ini pun diungkapkan oleh  Presiden PKS Sohibul Iman membicarakan banyak hal dalam permasalahan bangsa ini, termasuk dalam menghadapi pemilihan presiden.

"Intinya dari pertemuan ini, ke depan kita semua ingin kepemimpinan nasional lebih baik. Ini penting untuk Indonesia ke depan," kata Sohibul kepada wartawan usai pertemuan tersebut. (dil)


TOPIK BERITA TERKAIT: #pemilu-2019 

Berita Terkait

IKLAN