Senin, 23 Juli 2018 12:39 WIB
BJB JULI V 2

Headline

Prabowo Butuh Cawapres dari NU

Redaktur:

Prabowo Subianto. Foto : Dok INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Siapa calon presiden dan wakil presiden yang akan berlaga di 2019 mendatang, hingga kini belum pasti. Meski begitu, kuat perkiraan poros yang terbentuk adalah kubu Joko Widodo dan kubu Prabowo.

Bagi Direktur Eksekutif Sigma Indonesia Said Salahudin, jika ingin menang dari Jokowi, maka Prabowo harus melebarkan jaringan koalisinya, yakni tidak hanya dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan  Partai Amanat Nasional (PAN) serta Partai Bulan Bintang (PBB).

"Menurut saya sulit bagi Prabowo mengalahkan Jokowi jika parpol koalisinya masih sama seperti 2014. Jadi kalau mau  menang, benarlah apa yang Prabowo pernah katakan, yaitu dibutuhkan koalisi gajah," ucap Said kepada INDOPOS di Jakarta, Rabu (11/7).

Said menjelaskan, saat terbentuknya Koalisi Merah Putih (KMP) dulu, dimana Golkar dan PPP masih mendukung Prabowo, KMP tetap kalah dari KIH (Koalisi Indonesia Sehat).

"Apalagi sekarang dua parpol itu sudah merapat ke Jokowi," ujarnya.

Jadi, ujar Said, solusinya adalah kubu Prabowo harus menggandeng Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Apabila PKB masuk koalisi Prabowo, kelompok Islam yang beda-beda aliran politiknya itu bisa menyatu. "Paling tersisa untuk partai agamis cuma PPP di kubu Jokowi. Itu tidak signifikan untuk dukungan umat, khususnya warga NU ke Jokowi," tukasnya.

Said pun menjelaskan, dengan cara menghitung yang paling mudah, dulu Prabowo kalah 8 jutaan dari Jokowi.

"Nah, 8 juta itu suara PKB di pulau Jawa pada Pileg 2014," jelasnya.

Lalu, apakah dengan masuknya PKB, maka wakil Prabowo adalah Muhaimin Iskandar (Cak Imin)?  "Masuk akal yang dibilang oleh PKB, Muhaimin yang jadi cawapresnya," selorohnya.

Meski begitu, jika koalisi lainnya menolak, maka PKB dan Partai koalisi lain harus legowo mempersilakan tokoh NU lainnya yang menjadi wakil dari Prabowo. "Bisa Yenni Wahid, atau tokoh NU lainnya yang lebih bisa diterima oleh PKS dan PAN," jelasnya.

Terlebih, lanjutnya saat ini sedang mencuat ke permukaan bahwa Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma'ruf Amin akan digandeng oleh Jokowi.  "Nah, kalau PKB masuk dalam koalisi Prabowo itu sangat menarik untuk mengurangi jumlah dukungan NU ke Ma'ruf Amin. Bahkan bisa jadi ketum MUI itu akan mundur dari wacana menjadi wakilnya Jokowi," bebernya.

Beda pendapat diutarakan oleh pengamat politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio. Ia menegaskan, tanpa PKB, koalisi Prabowo sudah cukup dibangun dengan hanya partai pendukung aksi damai 212 untuk mengalahkan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Pilkada DKI.

"Bagi saya, sangat bagus Gerindra dengan PKS, PAN dan PBB yang saat itu satu koalisi di Pilkada DKI untuk mengalahkan Ahok," ujarnya kepada INDOPOS.

Lalu, siapa tokoh yang layak mendampingi Prabowo dari Koalisi DKI jilid II itu? kata founder lembaga survei Kedai Kopi ini, maka sosok mantan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) layak diperhitungkan.

"Partai ini cukup dan Prabowo memiliki daya magnet yang kuat. Prabowo - Aher atau Prabowo - Sohibul Iman menurut saya bukan lawan mudah bagi Jokowi," ujarnya.

Namun kalau PAN dan PBB menolak duet tersebut, ujarnya, maka diperlukan sosok yang lebih profesional dan bukan partisan partai.

"Atau bahkan bila Prabowo pertimbangkan RR (Rizal Ramli) untuk jadi pendamping pun akan jadi kompetisi yang seru. Dia seorang ekonom yang bisa diterima publik," ucapnya.

Bagaimana dengan Gatot Nurmantyo ataupun Anies Baswedan yang berdasarkan survei LSI Denny JA  memiliki elektabilitas tinggi jika disandingkan dengan Prabowo? "Kalau Anies lebih baik tetap jadi gubernur DKI saja. Buktikan dia memenuhi janjinya memperbaiki provinsi ibu kota ini. Jangan seperti Jokowi," tegas Hendri.

Lalu untuk Gatot, dirinya menyangsikan sosok Gatot bisa diterima oleh PKS dan PAN. "Kedua partai ini saya yakin kurang menerima sosok Gatot. Daripada Gatot, bagi saya Anies lebih diterima oleh semua partai koalisi Prabowo," tuturnya.

Pendapat lainnya dijelaskan oleh peneliti Indonesia Public Institute (IPI) Jerry Massie. Jika menelisik dari hasil survei LSI Denny JA, maka yang paling bisa berpeluang mendampingi Prabowo adalah di antara Ahmad Heryawan, Anies Baswedan dan Gatot Nurmantyo.

"Kalau dengan Aher pasti duet Gerindra dan PKS akan sangat solid karena keduanya adalah kader partai. Dan mesin partai akan bergerak mati-matian. Dan ini tidak bisa dianggap remeh oleh koalisi Jokowi," terangnya.

Lalu kalau dengan Anies, kata Jerry, sosok Anies dianggap sosok netral dan bisa diterima oleh PKS dan PAN, serta PBB. "Terlebih lagi Anies sangat dekat dengan Jusuf Kalla. Jadi duet Prabowo-Anies sangat bagus untuk memecah suara kubu Jokowi," ujarnya.

Lalu untuk Gatot, ucapnya, sangat sulit diduetkan dengan Prabowo ataupun Jokowi. "Saya kira jika Gatot jadi calon wapres, masih diragukan. Jika dengan Jokowi, dia harus melewati Prabowo (senioritas TNI). Tapi kalau dengan  Prabowo rasanya Gatot sulit diterima oleh koalisi lainnya dan suara keumatan," katanya.

Terlebih lagi, kata jebolan doktor American Global University (AGU) ini, nama Ketum MUI Maruf Amin digadang-gadang menjadi salah satu calon wapres yang akan membuat koalisi umat Islam goyah.

"Koalisi umat bisa goyah karena sosok tertinggi MUI. Ini langkah cerdas dan efektif jika Jokowi memilih dari kelompok agama," ujar dia.

Jerry menilai munculnya sosok KH Ma`ruf Amin akan membuat politisi PAN Amien Rais gamang untuk maju karena tidak mungkin melawan MUI.

"Saya nilai kalau Ma`ruf Amin dinaikkan, Amien Rais semakin waspada dan gamang. Amien Rais seorang profesional yang menghormati kebijakan MUI akan malu untuk ngotot maju," tutur Jerry.

Lebih lanjut, Jerry juga memetakan wilayah yang layak direbut untuk raihan suara Pilpres. "Untuk menang Pilpres maka kuasai Green Province atau Jatim (PKB), Red Provice yakni Jateng (PDIP), White Province yakni DKI dan Jabar (Gerindra dan PKS) dan Yellow Province adalah Banten dan Sulsel (Golkar)," tambahnya.

Sebelumnya, Ketua Umum DPP PPP Romahurmuziy menyebut, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma`ruf Amin sebagai satu dari 10 nama kandidat yang sudah dikantongi Joko Widodo (Jokowi) sebagai bakal calon wakil presiden.

Kemudian berdasar hasil survei LSI Denny JA yang dirilis pada Selasa (10/7), muncul beberapa pasangan calon yang bisa melawan Jokowi di Pemilu 2019. Di antaranya Jika duet Prabowo-Gatot didukung oleh 35,6 persen suara rakyat. Prabowo-Anies (19,6 persen), dengan Agus Yudhoyono (12,3 persen). Lalu jika Prabowo berduet dengan Aher dipilih oleh 10,2 persen responden. (dil)


TOPIK BERITA TERKAIT: #prabowo #pemilu-2019 

Berita Terkait

IKLAN